Bea Cukai Tetap Ada di Era Danantara, Menkeu Janji Perkuat DJBC

detikFinance

detikFinance

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Bea Cukai tetap ada meski PT Danantara Sumberdaya Indonesia hadir, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan itu tanpa ragu. Pernyataan ini menjawab kekhawatiran publik soal nasib DJBC dan arah pengawasan kepabeanan serta cukai. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Kemunculan Danantara memantik spekulasi tentang tumpang tindih kewenangan, terutama pada arus barang lintas batas dan komoditas strategis. Di ruang publik, pertanyaan paling sering muncul adalah apakah ada lembaga baru yang akan “mengambil alih” fungsi Bea Cukai. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Dalam desain negara modern, kepabeanan bukan sekadar loket administrasi, melainkan instrumen fiskal, keamanan, dan perlindungan industri. Karena itu, setiap perubahan arsitektur kelembagaan akan langsung menyentuh penerimaan negara, kepastian usaha, dan kredibilitas penegakan hukum. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Pernyataan Menkeu bahwa peran Bea Cukai tetap ada adalah sinyal stabilitas kebijakan, tetapi juga pengakuan bahwa DJBC harus ditopang dengan penguatan kinerja. Penguatan itu lazimnya mencakup pengawasan berbasis risiko, integrasi data logistik, dan penindakan yang lebih presisi. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Secara global, World Customs Organization menekankan modern customs administration bertumpu pada risk management dan pertukaran data antarlembaga. Indonesia pun bergerak ke arah itu melalui digitalisasi layanan dan pemadanan data perdagangan, meski kualitas integrasi sering menjadi titik lemah. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Jika Danantara berperan pada pengelolaan sumber daya dan rantai pasok komoditas, maka potensi gesekan ada pada wilayah “hulu ke hilir” yang bersinggungan dengan tata niaga. Namun pintu masuk dan keluar barang tetap domain kepabeanan, karena di sanalah tarif, larangan-pembatasan, dan penegakan hukum dijalankan. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Masalahnya bukan sekadar siapa berwenang, melainkan bagaimana kewenangan itu dipakai dengan standar yang terukur. Pelaku usaha menuntut waktu layanan yang cepat, biaya kepatuhan yang rendah, dan kepastian penindakan yang tidak tebang pilih. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Di titik ini, janji “kinerja DJBC akan diperkuat” perlu diterjemahkan menjadi indikator yang bisa diawasi publik, seperti dwell time, tingkat kepatuhan importir, dan efektivitas penindakan terhadap penyelundupan. Tanpa metrik dan transparansi, penguatan mudah berubah menjadi slogan yang tidak menyentuh akar persoalan. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Penegasan Menkeu patut dibaca sebagai upaya meredam kecemasan institusional sekaligus menjaga kepastian bagi dunia usaha. Namun, kepastian tidak cukup jika koordinasi antarlembaga masih membuka ruang tarik-menarik kewenangan. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Danantara seharusnya menjadi mitra data dan tata kelola, bukan pesaing fungsi. Jika lembaga baru menambah simpul birokrasi, maka biaya logistik naik dan ruang negosiasi gelap ikut melebar. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Justru di era lembaga baru, Bea Cukai perlu tampil sebagai institusi yang makin profesional dan makin akuntabel. Reformasi yang paling penting bukan menambah struktur, melainkan memperkecil celah penyimpangan melalui sistem, audit, dan keterbukaan informasi. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Publik juga berhak menagih satu hal sederhana: siapa melakukan apa, dengan dasar hukum apa, dan bagaimana hasilnya diukur. Ketika batas peran tegas, koordinasi kuat, dan data dibuka, maka negara menang tanpa perlu gaduh. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Bea Cukai tetap ada, dan itu berarti negara masih menempatkan kepabeanan sebagai tulang punggung penerimaan dan pengawasan perbatasan. Tantangannya adalah memastikan Danantara tidak menjadi lapisan baru yang memburamkan akuntabilitas, melainkan penguat tata kelola. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Pernyataan Menkeu adalah awal, bukan garis finis. Pertanyaan yang tersisa bagi publik adalah apakah penguatan DJBC akan terlihat pada layanan yang lebih cepat, penindakan yang lebih adil, dan penerimaan yang lebih kredibel. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)