KKL Geopark Kebumen Unikama: Karangsambung Bangun Budaya Riset
ORBITINDONESIA.COM – KKL Geopark Kebumen menjadi ruang uji bagi 60 mahasiswa Pendidikan Geografi Unikama untuk menukar teori kelas dengan data lapangan di Karangsambung. Di kawasan geodiversitas BRIN itu, targetnya bukan sekadar studi wisata, melainkan artikel ilmiah dan buku monograf yang siap dipertanggungjawabkan.
Di banyak kampus, kuliah kerja lapangan sering berhenti pada dokumentasi, foto lokasi, lalu laporan formal yang jarang dibaca lagi. Padahal, tuntutan akademik dan dunia kerja makin menekankan literasi riset, kemampuan analisis spasial, serta penulisan ilmiah yang rapi.
Karena itu, KKL Geopark Kebumen dirancang sebagai “pabrik pengalaman” yang memaksa mahasiswa mengamati, mengukur, dan memetakan. Karangsambung dipilih karena memiliki sedikitnya 42 geosite dan sering disebut sebagai laboratorium alam geologi Jawa.
Mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok riset dengan luaran yang berbeda dan terukur. Kelompok pertama mengkaji relasi bentang alam dan bentang budaya untuk dijahit menjadi monograf, sementara kelompok kedua melakukan pengukuran lapangan untuk diproses menjadi artikel ilmiah.
BRIN menekankan nilai ilmiah Karangsambung lewat kehadiran batuan metamorf langka seperti eklogit. Tim BRIN menyebut batuan ini berasal dari kedalaman 45 hingga 300 kilometer, terbentuk oleh panas dan tekanan ekstrem, serta kerap dianggap sebagai salah satu batuan tertua yang menjadi “pondasi” Pulau Jawa.
Selain eklogit, ada lava bantal (pillow lava), batuan sedimen, dan ragam metamorf lain yang merekam perjalanan geologi jutaan tahun. Dalam dua hari, rute KKL menghubungkan kawasan geodiversitas BRIN, Tebing Breksi, dan lokasi lava bantal sebagai simpul pembelajaran yang saling mengunci.
Secara pedagogis, desain ini menutup celah klasik antara “melihat” dan “menjelaskan.” Observasi tanpa pengukuran hanya menghasilkan kesan, sedangkan pengukuran tanpa konteks sosial sering melahirkan angka yang hampa.
Gagasan “membangun budaya riset sejak dini” terdengar ideal, tetapi ukurannya harus jelas: data apa yang dikumpulkan, metode apa yang dipakai, dan bagaimana hasilnya diuji. Jika luaran publikasi hanya menjadi target administratif, KKL berisiko berubah menjadi lomba mengejar judul, bukan lomba mengejar ketepatan.
Namun, Karangsambung memberi peluang langka untuk mengajarkan kerendahan hati ilmiah. Ketika mahasiswa berdiri di atas batuan yang “datang” dari puluhan hingga ratusan kilometer di bawah bumi, mereka belajar bahwa kesimpulan tidak boleh lahir dari asumsi, melainkan dari bukti.
Pernyataan Ketua Prodi Pendidikan Geografi Unikama, Dr. Suwito, M.Pd., menegaskan arah itu: “Mahasiswa harus mendapatkan pengalaman nyata sekaligus berlatih menyusun karya ilmiah.” Tantangannya adalah memastikan pendampingan metodologi, etika data, dan disiplin sitasi berjalan seketat aktivitas lapangannya.
KKL Geopark Kebumen menunjukkan bahwa pendidikan geografi paling hidup ketika mahasiswa dipaksa menulis dari apa yang mereka ukur, bukan dari apa yang mereka dengar. Karangsambung adalah laboratorium sempurna, tetapi laboratorium hanya bermakna jika hasilnya dibuka untuk diuji dan diperdebatkan.
Pertanyaannya kini sederhana dan menuntut: setelah pulang dari 42 geosite, apakah mahasiswa membawa pulang sekadar cerita, atau membawa pulang cara berpikir ilmiah yang tahan banting. Jika budaya riset benar-benar tumbuh, maka batuan tua itu bukan hanya objek studi, melainkan cermin kedewasaan akademik. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juni 2026)