Banjir Bandang Solok dan Peringatan Dini BMKG Dipertanyakan

news.detik.com

news.detik.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Banjir bandang Solok, Sumatera Barat, menerjang pada Senin malam (21/9/2026) setelah hujan lebat mengguyur kawasan itu. BMKG menegaskan peringatan dini cuaca sudah disebar berlapis, dari prakiraan 7 harian hingga nowcasting per jam.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan peringatan dini telah dikeluarkan jauh hari sebelum kejadian. Ia menyebut pembaruan dilakukan berkala dan berjenjang agar pemerintah daerah serta warga bisa bersiap.

Namun, banjir bandang selalu memunculkan pertanyaan yang sama: jika peringatan sudah ada, mengapa dampak tetap besar. Di titik ini, problemnya sering bukan sekadar “ada atau tidak ada” peringatan, melainkan “sampai atau tidak sampai” dan “ditindaklanjuti atau tidak”.

Rantai peringatan dini bekerja seperti estafet: BMKG mengirim sinyal bahaya, lalu pemerintah daerah menerjemahkannya menjadi langkah lapangan. Tanpa SOP yang tegas, pesan cuaca rawan berhenti sebagai notifikasi, bukan keputusan evakuasi atau penutupan akses sungai.

Nowcasting memang penting karena membaca dinamika awan secara cepat, tetapi nilainya jatuh bila tidak diikat pada ambang tindakan yang jelas. Di banyak daerah rawan, belum semua desa memiliki peta jalur evakuasi, sirene, atau sistem pengeras suara yang teruji rutin.

Solok juga berada di lanskap yang rentan terhadap banjir bandang ketika hujan ekstrem bertemu lereng terjal dan alur sungai sempit. Perubahan tutupan lahan, sedimentasi, dan permukiman yang mendekat ke sempadan sungai dapat mempercepat aliran dan memperbesar daya rusak.

Pernyataan BMKG bahwa peringatan dikeluarkan dari skala 7 harian hingga jam-jaman menunjukkan sisi teknis berjalan. Tetapi publik berhak menuntut sisi operasional: kapan status siaga dinaikkan, siapa yang memerintahkan evakuasi, dan bagaimana memastikan warga benar-benar bergerak.

Dalam situasi bencana, peringatan dini tidak boleh diperlakukan sebagai “produk informasi” semata. Ia harus menjadi pemicu keputusan, dan keputusan harus punya penanggung jawab yang jelas sampai tingkat nagari atau dusun.

BMKG layak dinilai dari akurasi dan ketepatan waktu, tetapi pemerintah daerah layak dinilai dari respons yang terukur. Jika peringatan sudah disebar, maka audit berikutnya adalah audit tindakan: rapat cepat, penyebaran petugas, pembatasan aktivitas, hingga evakuasi dini.

Yang sering hilang adalah jembatan komunikasi yang sederhana dan tegas untuk warga. Istilah teknis seperti potensi hujan lebat atau waspada sering tidak cukup memicu aksi, sehingga pesan perlu diterjemahkan menjadi instruksi praktis berbasis risiko lokal.

Banjir bandang Solok mengingatkan bahwa teknologi peringatan dini hanya separuh dari sistem keselamatan. Separuh lainnya adalah tata kelola, disiplin prosedur, dan keberanian mengambil keputusan sebelum air datang.

Jika peringatan BMKG benar-benar sudah berlapis, maka pertanyaan pentingnya bergeser: siapa yang memastikan lapisan itu berubah menjadi gerak kolektif di lapangan. Di sanalah keselamatan publik ditentukan, bukan di ruang konferensi pers.

(Orbit dari berbagai sumber, 25 September 2026)