Investasi Pasif Melejit: ETF dan Index Fund Jadi Andalan 2026

livemint.com

livemint.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Investasi pasif lewat ETF dan index fund kian jadi pilihan utama investor yang mengejar biaya rendah dan diversifikasi cepat. Sepanjang YTD 2026, passive funds membukukan net inflows ₹1,29 lakh crore, dengan ₹1,07 lakh crore mengalir ke ETF dan ₹22.395 crore ke index funds. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Gelombang investasi pasif muncul saat investor makin sadar bahwa mengalahkan indeks secara konsisten bukan perkara mudah, terutama di saham berkapitalisasi besar. Di saat yang sama, industri menawarkan semakin banyak produk pasif yang membuat akses ke pasar menjadi praktis dan murah. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Data NSE menunjukkan AUM passive funds melonjak 24,4% secara tahunan menjadi ₹15,15 lakh crore per akhir Juli 2026. Porsi ini sudah mencapai 18% dari total AUM industri reksa dana, menandakan perubahan perilaku yang tidak lagi marginal. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Di dalam ETF, dana terbesar masuk ke kategori Nifty/Sensex sebesar ₹61.054 crore, disusul Gold ₹39.475 crore dan Silver ₹11.211 crore. Komposisi ini memperlihatkan dua dorongan sekaligus: mencari pertumbuhan pasar ekuitas dan mencari pelindung nilai di aset logam. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Diipesh Shah dari DSP Mutual Fund menekankan passive funds memberi fleksibilitas untuk berinvestasi lintas indeks, kelas aset, dan tema, sambil tetap berbiaya rendah. Biaya rendah bukan sekadar slogan, karena selisih expense ratio kecil pun dapat mengubah hasil akhir dalam horizon panjang. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Ajay Kumar Yadav dari Wise Finserv menyebut investor kini tidak lagi terbatas pada Nifty 50 atau Sensex. Ekosistem pasif melebar ke large-cap, mid-cap, sektor, tema, faktor, hingga pasar internasional, dan NSE mencatat lebih dari 200 ETF serta index fund yang melacak indeks Nifty. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Mukesh Pandey dari Rupyaapaisa.com menambahkan pasif menjadi jalan pintas untuk diversifikasi tanpa “menebak” manajer investasi terbaik. Platform investasi online dan masuknya investor muda mempercepat adopsi, karena pembelian ETF dan index fund terasa semudah transaksi digital harian. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Namun, narasi “pasif selalu menang” tidak sepenuhnya berlaku di India, terutama di segmen menengah dan kecil. SPIVA India Year 2025 Report menunjukkan lebih dari 75% active large-cap funds kalah dari benchmark, tetapi di mid- dan small-cap, kurang dari 20% yang underperform. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Angka SPIVA itu menyiratkan pasar large-cap lebih efisien, sehingga peluang alpha mengecil dan pasif makin logis. Sebaliknya, mid dan small-cap lebih “berisik” dan tidak merata liputan risetnya, sehingga pemilihan saham aktif masih bisa memberi keunggulan. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Yadav mengingatkan tren global mengarah ke dominasi pasif, contohnya di AS ketika 79% active large-cap equity funds underperform S&P 500 pada 2025. India mungkin tidak meniru persis, tetapi jarak antara active dan passive disebutnya makin menyempit, dan investor dipaksa lebih disiplin mengevaluasi manajer aktif. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Untuk alokasi, para pakar mendorong pendekatan core-satellite, yakni inti portofolio bisa berisi kombinasi yang stabil dan murah, lalu satelit mengejar peluang alpha. Shah menyarankan core dapat memadukan aktif dan pasif, sementara satelit menambah eksposur indeks luas agar portofolio tetap “mengikuti pasar” secara efisien. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Pandey menilai passive funds dapat menjadi basis alokasi ekuitas jangka panjang, dan aktif ditambahkan saat ada peluang alpha yang jelas. Yadav menekankan pemula yang tidak ingin memantau kinerja fund manager bisa memperbesar porsi pasif, sedangkan investor berpengalaman dapat menahan porsi aktif lebih tinggi dengan disiplin evaluasi. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Keunggulan pasif paling nyata adalah kesederhanaan, transparansi, dan biaya rendah, karena portofolio mengikuti indeks dan tidak bergantung pada gaya manajer. Investor tidak perlu cemas soal pergantian manajer, pergeseran strategi, atau “gaya” yang tiba-tiba berubah, karena aturan mainnya jelas. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Namun pasif juga membawa risiko yang sering diremehkan, yakni konsentrasi indeks dan ketidakmampuan menghindari saham mahal atau lemah yang tetap berada di indeks. Yadav menyebut pasif menghapus fund-manager risk, tetapi tidak menghapus market risk dan concentration risk, apalagi pada indeks berbobot kapitalisasi pasar. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Pandey menegaskan pasif tidak akan mengungguli benchmark setelah biaya diperhitungkan, dan akan jatuh sama dalam saat pasar turun. Di sisi teknis, tracking error dan expense ratio menjadi variabel penting, karena dua index fund dengan indeks sama bisa memberi hasil yang berbeda. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Ledakan investasi pasif di 2026 tampak sebagai kemenangan logika biaya rendah, tetapi juga sebagai cermin ketidakpercayaan pada janji outperform yang sering terlalu optimistis. Ketika semakin banyak investor bertanya “mengapa tidak memiliki pasar saja,” industri aktif dipaksa membuktikan nilai tambahnya dengan data, bukan narasi. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Arus besar ke Nifty/Sensex menunjukkan investor mengejar kepastian “rata-rata pasar,” sementara arus ke Gold dan Silver menandakan kecemasan yang belum hilang. Ini bukan kontradiksi, melainkan strategi bertahan: satu kaki mengejar pertumbuhan, satu kaki berjaga dari guncangan. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Di India, pasif tampaknya akan menjadi default untuk large-cap, sementara aktif bertahan di mid dan small-cap sebagai arena keahlian riset. Tantangannya adalah banyak investor ingin alpha, tetapi tidak siap menanggung fase underperformance dan disiplin memilih manajer yang benar-benar konsisten. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Karena itu, perdebatan aktif-versus-pasif seharusnya bergeser menjadi perdebatan tujuan-versus-perilaku. Produk boleh canggih, tetapi hasil akhir tetap ditentukan oleh alokasi aset, biaya total, ketahanan menghadapi volatilitas, dan konsistensi menabung melalui SIP. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Investasi pasif melalui ETF dan index fund sedang naik kelas dari “alternatif” menjadi pilar portofolio, didorong biaya rendah, pilihan indeks yang meluas, dan kesadaran bahwa mengalahkan pasar tidak mudah. Meski begitu, pasif bukan obat mujarab, karena risiko pasar, konsentrasi, dan tracking error tetap menempel. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)

Pertanyaan terpenting bagi investor bukan sekadar memilih pasif atau aktif, melainkan memilih kebiasaan yang bisa dipertahankan saat pasar tidak bersahabat. Jika indeks turun 20%, apakah Anda masih sanggup memegang strategi yang sama, atau justru baru menyadari bahwa “murah dan mudah” tetap menuntut kedewasaan? (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)