Tren Wellness Curator dan Self-Care Harian: Pelajaran dari Dria Murphy

ELLE

ELLE

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Tren wellness curator dan self-care harian makin menonjol ketika Dria Murphy, pendiri bydria, menolak label “influencer” dan memilih posisi sebagai kurator yang menguji produk sebelum merekomendasikannya. Ia menyebut industri wellness “sangat overwhelming”, lalu menawarkan jalan keluar: kurasi ketat, komunitas, dan ritual kecil seperti matcha serta meditasi 10 menit untuk menata hari.

Ledakan industri wellness menciptakan paradoks: akses makin luas, tetapi kebingungan konsumen juga meningkat. Produk, kelas, suplemen, dan “metode” baru muncul cepat, sementara batas antara edukasi, iklan, dan afiliasi makin kabur.

Dalam artikel ELLE “Office Hours” edisi Mental Wellness Month, Murphy mengakui ia membangun bydria justru karena lelah dengan kebisingan itu. Ia ingin ruang “di luar Instagram” untuk merangkum apa yang sudah ia uji, sekaligus menegaskan bahwa tidak semua orang yang memasang nama pada produk benar-benar percaya pada produknya.

Masalahnya bukan semata pilihan produk, melainkan krisis kepercayaan pada ekosistem rekomendasi. Saat algoritma memberi panggung pada yang paling keras, publik berisiko membeli “ketenangan” dalam bentuk barang, bukan membangun praktik yang benar-benar menyehatkan.

Kisah karier Murphy memperlihatkan pola yang sering luput: wellness kini bukan sekadar gaya hidup, melainkan jalur profesi dan industri layanan. Ia memulai dari komunikasi fesyen di New York, lalu beralih ketika melihat studio kebugaran dan merek niche mulai mengambil alih perhatian yang dulu dimonopoli fesyen.

Pengalaman terburuknya—startup fashion-tech “Keep” yang mendadak memecat semua orang—menjadi titik balik identitas. Ia mengaku pada usia 28 tahun telah menautkan harga dirinya pada pekerjaan, lalu dipaksa menyusun ulang definisi sukses dari nol.

Di sini, narasi “PHK sebagai berkah” memang menggoda, tetapi tetap menyisakan kenyataan pahit: ketidakpastian kerja adalah biaya emosional yang jarang dihitung. Namun, Murphy mengubah guncangan itu menjadi modal: ia membangun usaha yang berangkat dari problem nyata yang ia rasakan sebagai konsumen.

Model bydria menonjol karena menawarkan kurasi, bukan sekadar promosi. Ia menyebut dirinya “wellness curator and brand advisor”, sebuah posisi yang menggeser fokus dari “siapa yang merekomendasikan” menjadi “bagaimana rekomendasi itu dibuktikan”.

Dalam praktiknya, kurasi adalah pekerjaan editorial: memilih, menguji, membuang, lalu menjelaskan alasan pemilihan. Di era saat rekomendasi sering dibungkus potongan video 15 detik, pendekatan ini terasa seperti kembali ke disiplin jurnalisme gaya hidup, tetapi dengan bahasa komunitas.

Ritual matcha Murphy memperlihatkan bagaimana wellness modern sering dimulai dari diagnosis personal, bukan tren. Ia mengatakan tes alergi makanan menunjukkan ia alergi kopi, lalu matcha mengurangi “jitters”, menurunkan kecemasan, dan memperbaiki pencernaan karena pelepasan kafein lebih gradual.

Namun, kisah ini juga mengingatkan batas penting: pengalaman individu bukan bukti universal. Matcha memang dikenal mengandung antioksidan dan L-theanine yang sering dikaitkan dengan fokus lebih stabil, tetapi respons tubuh tetap bergantung pada kondisi, dosis, dan kebiasaan tidur.

Yang menarik, produktivitas dalam cerita Murphy bukanlah glorifikasi kerja tanpa henti, melainkan desain rutinitas. Ia memulai hari dengan matcha, meditasi 10 menit, dan gerak, lalu membagi waktu kreatif dan waktu email agar energi tidak habis oleh notifikasi.

Pola ini sejalan dengan tren manajemen kerja modern yang menekankan deep work dan pengelolaan atensi. Ketika “sibuk” menjadi identitas sosial, membatasi email justru tindakan radikal yang memulihkan kendali.

Di sisi lain, ada lapisan kelas yang perlu dibaca jernih. Akses ke pilates, studio premium, asisten, dan event jaringan menunjukkan wellness yang dipraktikkan Murphy berada dalam ekosistem urban berbiaya tinggi.

Meski begitu, dampak yang ia klaim paling berarti datang dari hal kecil yang bisa direplikasi: ritual pagi, jalan kaki “sanity walks”, dan komunitas yang membuat wellness terasa “attainable”. Surat dari anggota bydria—seorang EVP Warner Bros.—menjadi validasi bahwa kurasi dan komunitas bisa mengubah kebiasaan harian, bukan sekadar konsumsi.

Di tengah ekonomi perhatian, istilah “kurator wellness” bisa menjadi koreksi yang sehat terhadap budaya influencer. Publik tidak kekurangan rekomendasi, yang kurang adalah standar: apa yang diuji, apa yang ditolak, dan konflik kepentingan apa yang dinyatakan secara terbuka.

Namun, kurasi juga dapat berubah menjadi kemewahan baru: “ketenangan yang diedit” untuk mereka yang mampu membayar membership dan produk pilihan. Jika tidak hati-hati, wellness akan kembali menjadi simbol status, bukan alat kesehatan publik.

Karena itu, klaim “I stand behind” perlu dibaca sebagai janji etika sekaligus strategi merek. Ketika kepercayaan menjadi mata uang, transparansi adalah infrastruktur: jelaskan metode uji, kriteria seleksi, dan hubungan komersial, agar kurasi tidak menjadi iklan yang lebih halus.

Pelajaran paling tajam dari Murphy justru datang dari mentornya, Megan Dolce: “Focus on you and the work.” Kalimat ini menolak dua jebakan sekaligus, yaitu perfeksionisme yang melumpuhkan dan validasi sosial yang membuat orang mengejar sorotan, bukan kualitas.

Nasihat Murphy tentang membangun brand—tetap setia pada visi tetapi fleksibel—terasa realistis di pasar yang cepat berubah. Loyalitas pada nilai harus lebih kuat daripada loyalitas pada format, karena platform dan tren bisa berganti dalam semalam.

Kisah Dria Murphy menunjukkan bahwa self-care harian tidak selalu lahir dari retret mahal, melainkan dari keputusan kecil yang diulang dan dievaluasi. Matcha, meditasi singkat, gerak, dan pembagian waktu kerja adalah cara mengembalikan agensi di tengah industri yang gemar menjual solusi instan.

Di saat yang sama, publik perlu lebih kritis: apakah kita membeli produk untuk merasa “sembuh”, atau membangun kebiasaan yang benar-benar menyehatkan. Jika wellness adalah industri, maka pertanyaan paling jujur untuk diri sendiri tetap sederhana: praktik mana yang membuat hidup lebih stabil, dan mana yang hanya membuat keranjang belanja makin penuh?

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Juni 2026)