Vertebral Body Tethering, Harapan Baru Operasi Skoliosis di Unhas
ORBITINDONESIA.COM – Vertebral Body Tethering (VBT) disebut sebagai solusi operasi skoliosis yang menjaga gerak tulang belakang, dan gagasan itu dipaparkan Prof Reuben Soh di FK Unhas. Di Aula PPDS FK Unhas, Kamis (25/6), isu “operasi skoliosis minim fusi” terdengar bukan lagi jargon, melainkan agenda klinis yang menuntut kesiapan kampus dan rumah sakit pendidikan.
Skoliosis bukan sekadar punggung melengkung, karena ia dapat memengaruhi postur, nyeri, hingga fungsi paru pada kurva yang berat. Dalam praktik ortopedi, pilihan paling mapan untuk kasus tertentu adalah spinal fusion, tetapi prosedur ini mengorbankan sebagian mobilitas segmen tulang belakang.
Di ruang-ruang pendidikan kedokteran, kebutuhan akan terapi yang “lebih ramah gerak” makin sering dibicarakan, terutama untuk pasien muda yang masih bertumbuh. VBT hadir sebagai tawaran, karena prinsipnya menuntun pertumbuhan dengan tether, bukan mengunci ruas dengan fusi.
VBT dikenal sebagai teknik “growth modulation” yang memanfaatkan pertumbuhan tulang belakang pada pasien yang masih imatur skeletal, sehingga seleksi pasien menjadi kunci. Literatur ortopedi menyebut VBT umumnya dipertimbangkan pada skoliosis idiopatik remaja dengan kurva moderat dan sisa pertumbuhan yang cukup, sehingga hasil koreksi dapat berkembang seiring waktu.
Namun VBT bukan jalan pintas, karena ia membawa spektrum risiko khas seperti overcorrection, putusnya tether, dan kebutuhan operasi ulang. Sejumlah ulasan klinis beberapa tahun terakhir juga menekankan bahwa bukti jangka panjang VBT masih berkembang, sehingga follow-up ketat dan registri hasil menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
Di titik ini, paparan Prof Reuben Soh di Unhas menjadi penting karena ia menggeser diskusi dari “teknologi baru” ke “ekosistem baru.” Tanpa kesiapan imaging, instrumentasi, tim anestesi-pediatrik, serta protokol rehabilitasi, VBT mudah berubah dari inovasi menjadi beban biaya dan risiko.
Di Indonesia, persoalan lain muncul pada akses dan pembiayaan, karena perangkat tether dan kebutuhan operasi lanjutan dapat menambah ongkos perawatan. Ketika sistem rujukan dan jaminan kesehatan belum seragam mengakomodasi prosedur baru, inovasi sering berhenti sebagai wacana seminar.
Unhas sebagai kampus dengan rumah sakit pendidikan punya peluang menjadikan VBT sebagai proyek akademik yang terukur, bukan sekadar “panggung teknologi.” Ukurannya sederhana, yaitu berapa pasien yang tepat indikasi, berapa yang membaik, dan berapa yang perlu revisi, lalu semuanya dilaporkan transparan.
Jika VBT dipromosikan hanya sebagai “operasi skoliosis tanpa kaku,” publik berisiko menerima narasi yang terlalu optimistis. Bahasa yang lebih jujur adalah “opsi menjaga gerak pada pasien terpilih,” karena di situlah etika klinis dan literasi kesehatan bertemu.
Kampus juga perlu menguji dampak sosialnya, karena inovasi yang mahal sering memperlebar jurang antara pasien yang mampu dan yang menunggu. Bila Unhas ingin memimpin, maka standar layanan, penelitian hasil, dan advokasi akses harus berjalan serempak.
VBT memberi harapan baru bagi operasi skoliosis yang lebih motion-preserving, tetapi harapan selalu menuntut disiplin bukti dan kesiapan sistem. Paparan di FK Unhas seharusnya dibaca sebagai ajakan membangun jalur klinis yang aman, terukur, dan adil.
Pertanyaannya kini bukan hanya “bisakah kita melakukan VBT,” melainkan “untuk siapa, dengan standar apa, dan siapa yang memastikan akuntabilitasnya.” Pada akhirnya, kemajuan medis yang paling bermakna adalah yang membuat pasien bergerak lebih bebas, tanpa membuat akses kesehatan makin kaku. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Juli 2026)