Wabah Ebola DRC Melonjak, WHO Sebut Tercepat Sepanjang Sejarah

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kembali melonjak, dan WHO memperingatkan penyebarannya kini lebih cepat daripada wabah mana pun sebelumnya. Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut angka 2.000 kasus yang dulu ditempuh 10 bulan, kini tercapai hanya dalam dua bulan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

WHO menyatakan wabah Ebola di DRC saat ini telah menjadi wabah terbesar ketiga yang pernah tercatat. Tedros menegaskan, dalam sebulan terakhir perluasan kasusnya melaju lebih cepat daripada wabah sebelumnya. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Data pemerintah DRC mencatat kasus terkonfirmasi mencapai 2.124 pada Kamis. Laporan lembaga kesehatan publik DRC menyebut 51 kasus baru terdeteksi Rabu di Ituri dan North Kivu, dua provinsi timur yang menjadi episentrum. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

DRC menetapkan wabah Ebola ke-17 pada 15 Mei setelah beberapa kematian di Ituri, provinsi kaya mineral yang juga dipatroli berbagai kelompok bersenjata. Kondisi keamanan yang rapuh membuat pelacakan kasus dan distribusi layanan kesehatan menjadi tidak stabil. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Kecepatan lonjakan kasus menjadi sinyal bahwa rantai penularan tidak tertangkap sejak awal. Tedros menyoroti lebih dari 80 persen kasus baru ditemukan “di luar daftar kontak yang diketahui”, yang berarti banyak transmisi luput dari pelacakan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Angka resmi pun berpotensi menipu karena keterbatasan deteksi di lapangan. WHO menyebut jumlah sebenarnya bisa setidaknya dua kali lipat dari catatan terkonfirmasi, menandakan ada “bayangan epidemi” yang tidak terlihat oleh sistem. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Ebola menular melalui kontak dekat dan cairan tubuh yang terinfeksi, sehingga respons klasiknya bergantung pada isolasi cepat, pelacakan kontak, dan pemakaman aman. Namun ketika 80 persen kasus muncul di luar daftar kontak, tiga pilar itu runtuh secara bersamaan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Masalah memburuk ketika tenaga kesehatan di Ituri melakukan mogok dan memblokir pintu masuk Rumah Sakit Umum Bunia pada Rabu. Mereka mengaku belum menerima kompensasi sejak wabah dimulai, padahal bekerja dalam kondisi yang sangat sulit. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Mogok kerja di titik layanan kunci bukan sekadar isu ketenagakerjaan, melainkan ancaman langsung bagi kendali wabah. Ketika layanan tersendat, pasien terlambat didiagnosis, keluarga merawat di rumah, dan risiko penularan meningkat. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Di sisi lain, ada data yang menunjukkan wabah bukan vonis mati jika sistem bekerja. Tedros menyebut 377 orang telah pulih, dan ia menekankan bahwa dengan diagnosis dini serta perawatan aman, penyakit ini bisa disintas dan dihentikan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Kontras paling jelas datang dari Uganda, negara tetangga yang juga sempat terdampak strain Bundibugyo. Kementerian kesehatan Uganda menyatakan pasien Ebola terakhir dipulangkan pada Kamis, memulai hitung mundur 42 hari menuju status bebas Ebola. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Uganda mencatat 20 kasus sejak pertengahan Mei, dan 15 di antaranya adalah orang yang terinfeksi di DRC lalu bepergian ke Uganda. Berbeda dengan DRC, Uganda tidak melaporkan kasus baru sejak 22 Juni. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Pernyataan resmi Uganda di platform X menegaskan pasien terakhir adalah warga Kongo yang “berhasil pulih” dan siap kembali bersama keluarga. Keberhasilan ini menonjolkan bahwa respons lintas batas dapat efektif ketika surveilans, isolasi, dan layanan klinis berjalan konsisten. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Wabah Ebola DRC bukan semata persoalan virus, melainkan cermin rapuhnya tata kelola kesehatan di wilayah konflik. Ketika keamanan buruk, upah tenaga kesehatan tertunggak, dan pelacakan kontak bolong, virus mendapat “ruang” untuk berlari. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Peringatan WHO tentang kasus di luar daftar kontak seharusnya dibaca sebagai alarm kegagalan sistem, bukan sekadar statistik. Ini berarti ada komunitas yang tidak terjangkau, ada ketidakpercayaan yang menghambat pelaporan, atau ada kapasitas yang tidak memadai untuk menutup celah. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Perbandingan dengan Uganda menunjukkan pelajaran yang tidak nyaman bagi DRC dan mitra internasionalnya. Kontrol wabah menuntut disiplin operasional, dukungan logistik, serta penghormatan pada pekerja garis depan, karena mereka adalah “dinding terakhir” sebelum penularan meluas. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Jika kompensasi tenaga kesehatan saja macet, maka pesan kesehatan publik mudah terdengar hampa. Publik akan bertanya, mengapa mereka harus patuh pada protokol ketika negara tidak mampu melindungi orang yang diminta menegakkan protokol itu. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Ebola di DRC kini bergerak lebih cepat daripada sejarahnya sendiri, dan WHO menempatkannya sebagai wabah terbesar ketiga yang pernah tercatat. Data 2.124 kasus terkonfirmasi, dugaan angka riil yang bisa berlipat, serta mogok tenaga kesehatan membentuk kombinasi yang berbahaya. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)

Namun kisah 377 penyintas dan keberhasilan Uganda menutup transmisi memberi bukti bahwa wabah bisa dihentikan dengan respons yang tepat waktu dan manusiawi. Pertanyaannya, apakah dunia akan menunggu sampai kurva naik lebih tinggi, atau berinvestasi sekarang pada pelacakan kontak, perlindungan pekerja kesehatan, dan kepercayaan komunitas. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)