New World Screwworm dan Pemotongan Anggaran: Alarm Kesehatan AS
ORBITINDONESIA.COM – New World screwworm kembali menghantui Amerika Serikat saat pejabat kesehatan mengaktifkan langkah darurat jelang Piala Dunia dan perayaan America250. Di balik respons cepat itu, perdebatan tentang pemotongan anggaran federal menguat, karena bisa melemahkan surveilans penyakit dan penanganan wabah.
Pejabat kesehatan AS mengerahkan langkah darurat untuk menghadapi New World screwworm, sambil memantau risiko penyakit menular lain menjelang agenda besar nasional. Para ahli memperingatkan, pemotongan dana federal yang sudah terjadi maupun yang diusulkan berpotensi melemahkan sistem deteksi dini dan respons wabah.
Menteri Pertanian Brooke Rollins mengatakan CDC telah mengaktifkan rencana darurat untuk kemungkinan infestasi pada manusia. USDA memimpin respons pada hewan, setelah terdeteksi empat kasus pada anak sapi di Texas dan satu kasus pada anjing di New Mexico.
Rollins menuding pemerintahan Biden gagal bersiap sejak ancaman muncul lagi di Panama pada 2023 dan menyebar ke utara. Ia menolak kaitan dengan pemotongan DOGE, dan menyebut USDA memiliki “120 staf penuh waktu” untuk isu ini, atau “naik 1.000%”.
New World screwworm adalah ancaman biologis yang “kecil” secara ukuran, namun besar dampaknya pada peternakan dan kesehatan publik. Begitu larva lalat menyerang jaringan hidup, biaya penanganan melonjak, dan kerugian ekonomi bisa merembet dari kandang ke rantai pasok pangan.
USDA menegaskan tidak ada pemotongan staf yang memengaruhi respons screwworm, serta menyebut dukungan federal $1,3 miliar telah digelontorkan. Paket itu mencakup produksi “100 juta lalat steril per minggu” dari fasilitas di Panama, pembangunan serta operasi fasilitas baru di Texas, dan riset respons baru.
Namun, Aaron Kesselheim dari Harvard Medical School menyebut pemotongan DOGE yang menghapus program pemantauan USAID dan USDA sebagai “kontributor langsung” masalah saat ini. Menurutnya, pemangkasan itu sangat memengaruhi kemampuan merespons dan mengurangi dampak di masa depan.
Georges Benjamin, CEO American Public Health Association, menilai pemotongan tersebut “katastropik” bagi USDA dan respons wabah seperti flu burung. Ia menambahkan flu burung “masih belum dikelola dengan semestinya,” yang berarti risiko lintas sektor tetap terbuka.
Di saat yang sama, para pakar penyakit menular memberi pengarahan tentang kesiapan menghadapi acara besar, dengan patogen pernapasan seperti COVID-19 dan campak sebagai kekhawatiran utama. Krutika Kuppalli dari University of Texas Southwestern menekankan bahwa screwworm, Ebola, dan hantavirus berbeda, tetapi berbagi satu pelajaran yang sama.
“Deteksi dini dan respons jauh lebih murah dibanding mengelola wabah besar atau krisis pertanian setelah terjadi,” kata Kuppalli. Kalimat ini menggarisbawahi logika ekonomi kesehatan publik, yakni biaya pencegahan selalu lebih kecil daripada biaya pemulihan.
Benjamin menyebut pejabat kesehatan menghadapi “tantangan signifikan” akibat pemotongan dana sebelumnya dalam merespons ketiga ancaman tersebut. Ia juga menilai AS “setidaknya” akan melihat satu kasus Ebola, mengingat preseden pada wabah 2013–2016 yang menewaskan seorang pria di Dallas.
Di sisi kebijakan, Kesselheim menilai usulan pemotongan dalam anggaran Trump 2027 “belum pernah terjadi” dan akan menghancurkan kapasitas riset serta kemampuan pemerintah merespons penyakit infeksi baru. Ia mengaitkannya dengan kerentanan sistemik, karena ancaman modern bergerak lebih cepat daripada birokrasi.
Rincian anggaran yang disebutkan meliputi pemotongan $5 miliar dari National Institutes of Health, $15,8 miliar dari Department of Health and Human Services, serta lebih dari $100 juta dari Agency for Healthcare Research and Quality. Pemerintahan menyatakan AHRQ “mendorong ideologi gender radikal pada anak-anak,” sebuah framing politik yang memanaskan debat pendanaan sains.
Meski Kongres harus menyetujui anggaran, Benjamin mengatakan pemotongan personel sudah mengurangi kapasitas surveilans penyakit di tingkat federal, negara bagian, dan lokal. Dengan dana lebih kecil, kesiapan dinilai “tidak mendekati” standar sebelumnya, terutama untuk acara massa yang memperbesar peluang penularan.
Kata kunci dari krisis New World screwworm bukan sekadar lalat, melainkan ketahanan negara dalam membaca sinyal dini. Ketika surveilans dipangkas, negara seperti mematikan alarm kebakaran, lalu berharap api tidak pernah datang.
Pemerintah boleh mengklaim efisiensi dengan menghapus program yang dianggap tumpang tindih. Namun, dalam kesehatan publik, redundansi sering kali adalah jaring pengaman, bukan pemborosan, karena satu mata rantai putus bisa membuat respons terlambat.
Perseteruan politik yang saling menyalahkan Biden atau membela pemotongan DOGE berisiko mengaburkan inti masalah. Yang dibutuhkan adalah peta kapasitas yang transparan, audit kesiapan lintas lembaga, dan indikator kinerja yang bisa diuji publik.
Fakta adanya produksi 100 juta lalat steril per minggu menunjukkan teknologi dan logistik bisa berjalan cepat jika ada mandat dan dana. Tetapi teknologi tidak menggantikan tenaga epidemiologi, laboratorium, dan jejaring pelaporan yang menjadi fondasi deteksi dini.
Menjelang Piala Dunia dan America250, kerumunan besar adalah ujian stres bagi sistem kesehatan. Jika campak dan COVID menjadi ancaman utama, maka screwworm, Ebola, dan hantavirus adalah pengingat bahwa risiko tidak datang dari satu pintu saja.
New World screwworm memaksa Amerika Serikat melihat ulang hubungan antara anggaran, kesiapsiagaan, dan rasa aman sehari-hari. Respons darurat bisa menyelamatkan situasi hari ini, tetapi tanpa surveilans kuat, negara akan terus bermain kejar-kejaran dengan krisis berikutnya.
Pertanyaan yang tersisa sederhana namun tajam: apakah efisiensi fiskal layak dibayar dengan meningkatnya risiko wabah dan krisis pangan. Dalam dunia yang makin terhubung, kesiapan bukan kemewahan, melainkan harga minimum untuk tetap berdaulat atas kesehatan publik. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)