Kampanye Healthy Relationship di Sekolah: Cegah Bullying Sejak SD

RadarSemarang

RadarSemarang

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Kampanye healthy relationship di lingkungan sekolah di SD Negeri Peterongan Semarang mengingatkan kita bahwa pencegahan bullying tidak cukup dengan slogan. Pada Jumat (22/05/2026), mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) mengajak 60 siswa belajar komunikasi sehat, empati, dan saling menghargai lewat materi serta permainan edukatif.

Isu perundungan di sekolah dasar sering muncul dalam bentuk yang tampak “sepele”, seperti ejekan, pengucilan, atau candaan yang melukai. Pola ini kerap dinormalisasi, lalu dibiarkan menjadi kebiasaan sosial di kelas.

Di titik inilah konsep healthy relationship menjadi penting sebagai bahasa bersama untuk membedakan relasi yang sehat dan relasi yang merusak. Anak-anak perlu kosakata, contoh, dan latihan praktis agar berani berkata tidak pada perilaku yang menyakiti.

Kampanye “Healthy Relationship di Lingkungan Sekolah” di SD Negeri Peterongan 01 Semarang lahir dari mata kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas. Kegiatan itu dibimbing Dr. Yulianto Budi Setiawan, sehingga pembelajaran kelas diuji dalam situasi nyata.

Program ini dipimpin ketua pelaksana Diani Puji, yang menegaskan tujuan kampanye adalah membangun sikap saling menghargai dan pertemanan positif. Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi justru menyasar akar masalah: budaya interaksi harian yang membentuk iklim sekolah.

Materi disampaikan Debora Yusi Irapapti bersama mahasiswa Latifa Marwa, dengan penekanan pada komunikasi baik dan pencegahan bullying. Metode permainan edukatif membuat pesan tidak berhenti sebagai nasihat, melainkan pengalaman yang diingat tubuh dan emosi anak.

Secara tren, pendekatan partisipatif seperti role-play dan permainan lebih efektif untuk usia sekolah dasar dibanding ceramah panjang. Sejumlah panduan pendidikan internasional, termasuk rekomendasi UNESCO tentang pencegahan kekerasan berbasis sekolah, menekankan pembelajaran sosial-emosional dan latihan keterampilan sebagai kunci perubahan perilaku.

Kepala sekolah Suratna menyebut materi healthy relationship penting agar siswa memahami cara berinteraksi dengan teman maupun guru. Wali kelas Titin Munarsih menambahkan format interaktif membuat anak lebih mudah paham dan lebih antusias mengikuti sesi.

Namun, kampanye satu hari hanya akan menjadi “acara” bila tidak ditautkan ke kebijakan kelas dan kebiasaan guru. Sekolah memerlukan mekanisme tindak lanjut, seperti aturan anti-bullying yang jelas, kanal pelaporan aman, dan rutinitas refleksi singkat di kelas.

Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa memberi nilai tambah karena menghadirkan figur kakak yang dekat secara psikologis. Model ini bisa menjadi jembatan kolaborasi kampus-sekolah, tetapi tetap perlu standar materi agar selaras dengan kebutuhan perkembangan anak.

Kampanye healthy relationship di sekolah sering dipuji karena “mendidik karakter”, tetapi pertanyaan kritisnya adalah: karakter siapa yang dilatih, dan siapa yang diberi beban berubah. Jika fokus hanya pada korban agar “lebih kuat”, maka sistem yang membiarkan pelaku berulang tidak tersentuh.

Karena itu, pesan saling menghargai harus disertai batas yang tegas tentang konsekuensi perilaku menyakiti. Anak perlu tahu bahwa empati bukan berarti menoleransi kekerasan, dan bercanda bukan alasan untuk merendahkan.

Program seperti ini juga semestinya menyinggung peran saksi, karena bullying bertahan ketika mayoritas diam. Mengubah “penonton” menjadi “penolong” adalah strategi sosial yang sering lebih cepat mengubah iklim kelas.

Di level lebih luas, kegiatan USM menunjukkan pengabdian masyarakat yang konkret, bukan sekadar seremonial. Tetapi ukuran keberhasilannya tetap harus berbasis perubahan perilaku, misalnya penurunan laporan ejekan, pengucilan, atau konflik berulang di kelas.

Kampanye mahasiswa USM di SD Negeri Peterongan Semarang memperlihatkan bahwa pencegahan bullying bisa dimulai dari bahasa yang sederhana dan latihan yang menyenangkan. Anak-anak belajar bahwa relasi sehat dibangun dari komunikasi yang jelas, empati yang aktif, dan penghormatan yang konsisten.

Kini tantangannya adalah menjaga nyala pesan itu setelah panggung kampanye dibongkar. Apakah sekolah, orang tua, dan komunitas siap menjadikan healthy relationship sebagai kebiasaan harian, bukan sekadar tema kegiatan?

Jika relasi sehat benar-benar ditanam sejak SD, kita tidak hanya mengurangi perundungan, tetapi juga sedang membangun generasi yang mampu merawat martabat orang lain. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juni 2026)