Fee for No Service: FSCP Tegur Penasihat Keuangan Australia

Money Management

Money Management

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Kasus fee for no service kembali mengguncang industri penasihat keuangan Australia setelah Financial Services and Credit Panel (FSCP) menjatuhkan teguran tertulis kepada seorang penasihat yang disamarkan sebagai Mr H. Dalam periode April 2024 hingga April 2025, klien membayar biaya selama 14 bulan, namun layanan yang dijanjikan tidak pernah benar-benar diberikan.

FSCP menyatakan memiliki keyakinan wajar bahwa Mr H melanggar s921E(3) Corporations Act 2001 terkait pungutan biaya tanpa layanan kepada klien ritel. Pelanggaran ini juga dinilai bertentangan dengan Code of Ethics, terutama nilai ketekunan dan Standard 7 tentang persetujuan klien yang bebas, didahului, dan diinformasikan.

Standard 7 menuntut klien memahami dan menyetujui semua manfaat yang diterima penasihat dan prinsipal, termasuk semua biaya. Kode etik bahkan menegaskan penasihat wajib memastikan biaya itu “adil dan wajar” serta benar-benar “value for money” bagi klien.

Kasus Mr H bukan insiden tunggal, melainkan pola yang berulang di 2026. Ini adalah perkara kelima fee for no service yang masuk ke FSCP tahun ini, menunjukkan masalah kepatuhan belum surut meski kerangka regulasi sudah jelas.

Awal bulan yang sama, FSCP juga memutus perkara serupa terhadap penasihat lain, Mr F. Ia terbukti memungut biaya nasihat berkelanjutan tanpa memberikan layanan yang seharusnya, dan dinyatakan melanggar s921E(3) Corporations Act.

Dalam kasus Mr F, panel menyebut pelanggaran tidak berhenti pada pungutan biaya. Ia juga gagal memenuhi Standard 2, 7, dan 8, yang masing-masing menuntut integritas dan kepentingan terbaik klien, persetujuan yang diinformasikan, serta pencatatan yang lengkap dan akurat.

Rangkaian standar itu membentuk rantai pengaman yang saling terkait. Ketika layanan tidak diberikan, persetujuan klien menjadi ilusi, dan catatan klien sering kali tidak cukup kuat untuk membuktikan apa yang benar-benar dikerjakan.

Teguran tertulis memang memberi sinyal penegakan, namun publik bisa mempertanyakan daya cegahnya. Jika lima kasus serupa muncul dalam satu tahun, maka persoalannya bukan sekadar “oknum”, melainkan celah dalam budaya pengawasan internal dan tata kelola biaya.

Dalam praktiknya, fee for no service adalah pengkhianatan paling sederhana namun paling merusak dalam industri jasa keuangan. Klien tidak hanya kehilangan uang, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk mengambil keputusan finansial tepat waktu karena mengira sedang didampingi.

Yang membuat kasus ini tajam adalah friksi antara janji profesionalisme dan realitas administrasi. Standard 8 tentang pencatatan seolah teknis, namun justru menjadi bukti apakah nasihat benar-benar diberikan atau hanya ditagihkan.

Industri sering berbicara tentang kepercayaan sebagai “aset”, tetapi kepercayaan tidak tumbuh dari brosur kepatuhan. Kepercayaan tumbuh dari transparansi biaya, pembuktian layanan, dan kesediaan mengembalikan hak klien tanpa harus menunggu panel disiplin turun tangan.

Kasus Mr H menambah daftar panjang peringatan bahwa biaya tanpa layanan bukan sekadar pelanggaran aturan, melainkan pelanggaran makna profesi. Ketika s921E(3) dan Code of Ethics terus diuji oleh kasus serupa, pertanyaan besarnya adalah apakah sistem mampu mencegah, bukan hanya menghukum.

Pada akhirnya, publik berhak menuntut standar yang lebih tinggi dari sekadar “teguran tertulis” setelah kerugian terjadi. Jika biaya harus dibayar di muka dan rutin, maka layanan juga harus hadir secara nyata, terukur, dan tercatat.

Refleksinya sederhana namun menohok: berapa banyak klien yang masih membayar dalam diam karena mengira semuanya baik-baik saja. Jawaban atas pertanyaan itu menentukan apakah industri ini sedang memperbaiki diri, atau sekadar menormalisasi pelanggaran dengan sanksi yang mudah dilupakan. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Oktober 2026)