Jusuf Hamka Borong Saham Rp5 Triliun Saat IHSG Tertekan

Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Jusuf Hamka menyatakan siap memborong saham Rp5 triliun saat IHSG tertekan dan sentimen MSCI mengguncang pasar. Ia menyebut telah membentuk konsorsium pengusaha untuk mulai belanja saham pada awal pekan, terutama saham blue chip perbankan.

Pasar modal Indonesia sedang berada dalam fase tekanan tajam ketika wacana dari penyedia indeks global MSCI ikut memicu kekhawatiran investor. Di tengah situasi itu, narasi “smart money masuk saat darah di jalan” kembali menguat di ruang publik.

Dalam video Instagram, Jusuf Hamka mengatakan pembelian akan dilakukan pada Senin (19/10/2026) bersama rekan-rekan pengusahanya. Ia menganggap koreksi harga bukan sekadar ancaman, melainkan peluang untuk akumulasi.

Pernyataan itu muncul ketika investor ritel menghadapi volatilitas tinggi dan ketidakpastian arah pasar. Di saat yang sama, emiten besar mulai menunjukkan respons defensif, termasuk aksi korporasi seperti buyback yang dilakukan Bank BCA.

Rencana belanja saham Rp5 triliun terdengar spektakuler, tetapi dampaknya tetap bergantung pada eksekusi dan target saham yang diburu. Jika dana itu terkonsentrasi pada beberapa saham bank besar, efek psikologisnya bisa lebih kuat daripada efek likuiditas murni.

Jusuf menyoroti saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Keempatnya adalah saham berkapitalisasi besar yang sering menjadi jangkar IHSG dan menjadi komponen penting portofolio institusi.

Argumen utama Jusuf adalah dividen dan pemulihan harga saat pasar berbalik arah. Dalam teori investasi nilai, saham blue chip yang fundamentalnya relatif stabil memang cenderung pulih lebih cepat dibanding saham lapis dua dan tiga ketika sentimen mereda.

Namun, koreksi pasar tidak selalu semata peluang, karena ia bisa menjadi sinyal perubahan risiko yang lebih struktural. Ketika isu terkait indeks global seperti MSCI mencuat, pasar sering bereaksi bukan pada kinerja emiten, melainkan pada potensi arus dana asing dan perubahan persepsi risiko negara.

Di titik ini, pembelian besar bisa berfungsi sebagai “penahan sentimen” yang menenangkan sebagian pelaku pasar. Tetapi ia juga dapat memunculkan pertanyaan: apakah ini murni keyakinan fundamental, atau upaya membangun narasi agar tekanan jual mereda.

Fakta bahwa BCA memulai buyback saham pada 19 hingga 21 Oktober 2026 mempertegas bahwa emiten besar pun membaca pasar sedang berada di zona stres. Buyback biasanya dipakai untuk memberi sinyal manajemen menilai harga saham sudah murah, sekaligus membantu menstabilkan harga saat volatilitas tinggi.

Meski demikian, investor tetap perlu membedakan antara sinyal dan kepastian. Buyback dan aksi borong saham bisa mengurangi kepanikan jangka pendek, tetapi tidak otomatis menghapus risiko makro, risiko regulasi, atau risiko arus modal.

Langkah Jusuf Hamka menarik karena ia memakai logika pengusaha, bukan logika spekulan. Ia menempatkan koreksi sebagai diskon, lalu menekankan saham bank besar sebagai mesin dividen dan pertumbuhan yang relatif dapat diprediksi.

Tetapi publik juga perlu waspada pada romantisasi “orang besar masuk, maka aman.” Pasar tidak bergerak hanya karena satu konsorsium, sebab sentimen global, suku bunga, dan arus dana institusi bisa jauh lebih dominan.

Di sisi lain, keberanian membeli saat ketakutan memuncak memang sering menjadi pembeda antara investor yang disiplin dan investor yang reaktif. Namun keberanian tanpa disiplin valuasi, manajemen risiko, dan horizon waktu justru bisa berubah menjadi pembenaran untuk berjudi.

Rencana belanja Rp5 triliun dapat dibaca sebagai pesan moral untuk tidak panik, tetapi juga sebagai ujian transparansi narasi pasar. Jika publik hanya mengikuti tokoh, bukan data dan strategi, maka volatilitas akan kembali memakan korban ketika sentimen berubah.

Karena itu, pesan yang lebih sehat adalah meniru proses berpikirnya, bukan meniru transaksinya. Investor seharusnya memeriksa fundamental emiten, kekuatan laba, kualitas aset bank, serta kemampuan membayar dividen dalam berbagai skenario ekonomi.

Pernyataan Jusuf Hamka tentang borong saham Rp5 triliun memberi warna di tengah IHSG tertekan dan isu MSCI yang menguji ketahanan pasar. Ia mengingatkan bahwa saat harga jatuh, selalu ada pihak yang melihat peluang.

Namun pasar yang sehat tidak dibangun oleh keberanian semata, melainkan oleh literasi dan disiplin kolektif. Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah investor Indonesia akan belajar membaca risiko dan nilai, atau terus mencari pegangan pada figur saat gelombang datang.

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Oktober 2026)