Ancaman Sanksi Iran Trump Guncang Pasar AS dan Harga Minyak
ORBITINDONESIA.COM – Ancaman sanksi Iran Donald Trump yang ia sebut “economic D-Day” memantul balik ke pasar Amerika Serikat, tepat saat harga minyak merangkak naik dan bursa Wall Street tergelincir. Ketika minyak mentah AS bergerak dari penutupan $86,20 ke $86,70 per barel, indeks saham AS mencatat penurunan terburuk dalam tiga pekan.
Dalam unggahan di Truth Social pada Rabu, Trump menyatakan Iran “gagal mengambil” kesempatan untuk membuat kesepakatan. Ia mengancam “perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi”, termasuk sanksi baru kepada negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Teheran.
Trump menulis bahwa negara yang memberi “jalur hidup” bagi Iran melalui lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintah akan menghadapi “konsekuensi ekonomi yang SANGAT BESAR”. Pada Kamis, Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan di CNBC bahwa langkah itu dapat berupa perluasan sanksi sekunder terhadap negara dan perusahaan pihak ketiga.
Ancaman itu datang ketika Selat Hormuz masih tertutup bagi pelayaran, mengguncang energi dan keuangan global. Sebelum perang, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melintas di jalur air ini, sehingga penutupan berkepanjangan segera terasa di pompa bensin.
Di Teheran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menepis “economic D-Day” sebagai pengalihan dari krisis Amerika sendiri. Namun pasar tidak menunggu klarifikasi diplomatik, karena risiko pasokan energi dan risiko pembiayaan AS sama-sama membesar.
Penutupan Selat Hormuz membuat rute utama ekspor minyak Teluk nyaris lumpuh, dari sekitar 130 kapal per hari menjadi hanya segelintir. Setelah ancaman Trump, Brent sempat menembus hampir $93 per barel dan pada Jumat pagi bertahan di sekitar $93,28.
Di AS, WTI naik ke $86,70 per barel pada Kamis dan kembali sekitar $86,20 pada Jumat pagi. Di saat yang sama, Dow Jones anjlok 703,84 poin atau 1,32 persen ke 52.759,21, sementara S&P 500 turun 0,87 persen ke 7.641,16.
Tekanan juga terlihat pada pasar obligasi, yang sering menjadi barometer kepercayaan terhadap stabilitas fiskal AS. Frederic Schneider dari Middle East Council on Global Affairs mencatat imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun menembus 5,25 persen, mendekati level tertinggi dua dekade.
Kenaikan yield berarti harga obligasi turun, menandakan investor menghindar dari aset AS. Bessent merespons dengan langkah darurat menggandakan program buyback utang jatuh tempo panjang menjadi setidaknya $4 miliar, tetapi pasar tetap gelisah.
Schneider menyebut ini sinyal kuat karena “perbendaharaan paling kuat di dunia” harus memakai langkah luar biasa namun gagal menenangkan pasar. Ia menambahkan Treasury tenor panjang menghadapi “buyers’ strike” sejak Juni, dipicu defisit yang melebar, gelombang utang korporasi terkait AI, dan premi inflasi akibat lonjakan harga minyak.
Di atas semua itu, pembaruan Departemen Keuangan AS minggu ini menyatakan total utang AS menembus rekor $40 triliun lebih cepat dua tahun dari perkiraan. Artikel sumber mengaitkannya dengan biaya perang dan penurunan pajak korporasi pada era Trump, yang mempersempit ruang fiskal saat biaya energi naik.
Dampak geopolitik juga menekan sisi permintaan pembeli utang AS dari luar negeri. Schneider mengingatkan negara Teluk dan ekonomi Asia Timur adalah pihak paling terpukul oleh perang, sekaligus termasuk pemegang aset AS terbesar.
Ketika mereka menguras cadangan dan meninjau ulang penempatan sovereign wealth, pembeli marjinal surat utang AS berpotensi mundur. Pada momen yang sama, Washington justru membutuhkan mereka untuk membiayai defisit dan menahan biaya pinjaman.
Di kawasan, UEA yang selama ini menjadi hub dagang Iran mengumumkan embargo tanpa batas waktu setelah menuduh Iran menembakkan rudal ke wilayahnya. Langkah ini dinilai signifikan karena Iran bergantung pada akses finansial melalui Emirat, sehingga perang ekonomi semakin melebar menjadi perang jaringan perdagangan.
Ancaman “perang ekonomi” Trump tampak seperti strategi memaksa Iran menyerah tanpa menambah pasukan, tetapi efek sampingnya menghantam rumah sendiri. Ketika Hormuz macet, harga energi naik, inflasi terpicu, dan Federal Reserve kehilangan keluwesan untuk menurunkan suku bunga tanpa memperburuk kenaikan harga.
Inilah paradoks “kemandirian energi” AS yang disebut Schneider: produksi domestik besar tidak otomatis membuat konsumen kebal. Bensin dan biaya hidup adalah isu inti di tahun pemilu paruh waktu, sehingga setiap sen kenaikan di SPBU berubah menjadi amunisi politik.
Trump mencoba membingkai kenaikan harga sebagai “biaya kecil” demi mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun narasi itu berhadapan dengan kenyataan survei, karena Reuters/Ipsos mencatat hanya 33 persen responden menyetujui kinerjanya, terendah dalam masa kepresidenannya.
Di Kongres, Senator Mark Warner mempertanyakan kapan Trump akan meninggalkan perang yang ia sebut “bencana dan mematikan”. Ketika perang berlarut, janji kampanye untuk menahan inflasi dan menghindari konflik panjang berubah menjadi beban kredibilitas.
Negosiasi damai juga belum bergerak serius, karena krisis Selat Hormuz terus menggantung. Iran bernegosiasi dengan Oman soal pengelolaan selat, menolak berbicara langsung dengan AS sampai isu Hormuz tuntas dan syarat lain dipenuhi.
Data yang dianalisis Al Jazeera dan Kpler bahkan menunjukkan operator kapal lebih takut melanggar blokade Iran ketimbang menghadapi blokade AL AS. Klaim Trump bahwa AS “mengendalikan total” Hormuz pun tampak lemah di mata pelaku pasar yang menghitung risiko dengan angka, bukan slogan.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana sanksi Iran Trump yang dimaksudkan menekan Teheran justru membuka titik rapuh ekonomi Amerika, dari inflasi energi hingga pasar obligasi. Ketika utang menembus $40 triliun dan yield naik, biaya politik dan biaya pembiayaan bergerak bersamaan.
Pertanyaannya bukan hanya apakah Iran akan menyerah, melainkan berapa lama publik AS mau membayar premi perang melalui harga bensin dan biaya hidup. Jika “economic D-Day” berubah menjadi “economic boomerang”, siapa yang akhirnya dipaksa berkompromi lebih dulu: Teheran atau Washington?
(Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)