Rokhmin Dahuri: Leonardo DiCaprio dan Karhutla Kalimantan
Oleh Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., Guru Besar Emiritus IPB University/Komisi IV DPR RI
ORBITINDONESIA.COM - Berita sedih kebakaran hutan Kalimantan sampai ke Hollywood. The best Actor peraih Oscar 2016 yang juga aktivis lingkungan Leonardo DiCaprio, terkejut melihat kebakaran hutan yang begitu dahsyat di Kalimantan.
Dia yang di tahun 2015 pernah "menangis" saat melihat langsung dengan mata kepala sendiri kerusakan hutan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Sumatera, kembali sedih melihat rusaknya hutan di Borneo -- satu-satunya habitat orangutan yang masih nyaman di muka bumi. Melihat mereka yang biasa hidup di atas pohon -- di mana kini pepohonannya jadi abu -- bintang film Titanic itu mengaduh. Bagaimana orangutan hidup?
Melalui unggahan video di Instagram, Minggu, 4 Oktober 2026, dia menyoroti dampak karhutla terhadap hutan tropis Kalimantan yang kaya keanekaragaman hayati. DiCaprio mengaku sedih membayangkan nasib orangutan yang kehilangan habitatnya.
DiCaprio membuka unggahannya dengan nada darurat. Dia menulis bahwa Kalimantan sedang terbakar. Pulau ini tempat hidup separuh orangutan yang ada di muka bumi. Kini kondisi mereka SOS, dalam bahaya.
DiCaprio menyebut lebih dari 800.000 hektare hutan di Kalimantan telah terbakar. Tak hanya jutaan manusia menderita sesak nafas terpapar asap, orangutan yang tinggal di atas pepohonan pun habitatnya lenyap.
Satwa yang Kehilangan Rumah
Sorotan utama DiCaprio jatuh pada satwa liar yang kehilangan tempat tinggal seperti orangutan dan owa-owa. Orangutan terlihat melarikan diri saat hutan terbakar. Satu individu diselamatkan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kalimantan Tengah dengan dukungan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation. Kini ia dirawat dokter hewan.
Owa-owa -- primata lain yang mirip orangutan tapi berjanggut putih -- menghadapi risiko serupa. Satwa yang nyaris seluruh hidupnya di atas pohon ini hanya punya sedikit pilihan untuk menyelamatkan diri saat api melahap hutan.
Bagi owa-owa, kebakaran hutan bukan hanya soal api. Tapi juga makanan hilang dan rumahnya hancur. Mereka yang selamat masuk ke area tempat tinggal warga.
Kanapa? Karena itulah satu-satunya tempat tinggal owa-owa yang masih aman. Tapi malang. Manusia tak terima wilayahnya diintervensi owa-owa. Akibatnya, mereka konflik. Dan manusia pasti memenangi konflik itu. Lalu ke mana owa-owa pergi?
Iklim dan Manusia, Bukan Salah Satu
Penting dicatat, DiCaprio tidak menafikan peran iklim. Ia menyebut perubahan iklim membuat hutan Kalimantan lebih kering dan lebih panas sehingga rentan terbakar. Tapi, ujarnya, kebakaran kerap dipicu aktivitas manusia untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan. Artinya, cuaca kering menyiapkan kondisinya, sedangkan manusia yang menyulut apinya.
Pandangan ini sejalan dengan pemahaman para peneliti kebencanaan selama bertahun-tahun. Kemarau panjang tidak otomatis menyebabkan kebakaran. Api muncul ketika lahan yang kering bertemu api pembakaran, baik sengaja maupun lalai.
Tapi melihat makin luasnya kebun sawit di Borneo dari tahun ke tahun, kemungkinan pembakaran hutan yang disengaja oleh manusia sangat signifikan! Kenapa? Pembakaran hutan untuk membuka lahan sawit adalah cara termurah. Dan waktunya, paling tepat di musim kemarau.
Gambut, Bom Karbon yang Menyala
Potensi hutan Kalimantan terbakar memang tinggi. Ini karena sebagian besar wilayah Borneo adalah lahan gambut. Kanal-kanal drainase yang dibuat untuk perkebunan dan pertanian mengeringkan gambut, sehingga lapisan yang semestinya basah berubah menjadi bahan bakar. Api pun bisa merambat di bawah permukaan dan sulit dipadamkan, bahkan setelah api di atas tanah tampak mati.
DiCaprio mengingatkan bahwa ketika gambut terbakar, karbon dalam jumlah besar terlepas dan memperparah krisis iklim. Dengan kata lain, karhutla menjadi korban sekaligus pemicu pemanasan global.
Bank Dunia memperkirakan karhutla tahun 2026 mencapai sekitar 2,6 juta hektare -- merugikan perekonomian Indonesia sebesar Rp 221 triliun. Kerugian itu meliputi kesehatan, transportasi, pendidikan, dan sektor usaha yang lumpuh akibat kabut asap.
Mencari Jalan Keluar
Bagaimana mengatasi karhutla di Kalimantan? Sejumlah langkah dinilai krusial untuk memutus siklus tahunan di pulau gambut itu.
Pertama, prinsip pencegahan lebih murah daripada pemadaman. Pembasahan kembali lahan gambut dengan penyekatan kanal, pemantauan tinggi muka air, dan restorasi vegetasi perlu dipercepat. Setelah itu proyek pemulihan tersebut harus dijaga sampa tuntas! Bukan berhenti di tengah jalan sebagai proyek musiman.
Kedua, penegakan hukum yang konsisten. Korporasi pemegang konsesi bertanggung jawab atas area yang terbakar di wilayahnya. Transparansi peta konsesi dan sanksi yang tegas, mulai dari denda sampai pencabutan izin, akan menciptakan efek jera.
Ketiga, pelibatan masyarakat. Petani kecil sering menjadi pihak pertama yang disalahkan. Padahal mereka tak punya pilihan murah dan mudah untuk mempertahankan hidupnya dengan membuka lahan pertanian baru, selain membakar hutan. Oleh karena itu, pelatihan penyiapan lahan tanpa membakar hutan, bantuan alat, insentif, dan pembentukan kelompok siaga api di tingkat desa -- akan lebih efektif daripada pendekatan yang semata menghukum pihak bersalah.
Keempat, peringatan dini dan kesiapsiagaan. Pemantauan titik panas, prakiraan kemarau, serta penyiagaan personel dan peralatan sebelum puncak musim kering, harus dilakukan lebih awal. Bukan setelah asap menyelimuti kota-kota di Borneo dan negara tetangga
Kelima, perlindungan satwa liar. Pusat penyelamatan, koridor habitat, dan kerja sama BKSDA dengan lembaga mitra seperti BOS Foundation perlu diperkuat agar satwa terdampak bisa dievakuasi dan dirawat dengan cepat.
Momentum untuk Berbenah
Sorotan tokoh lingkungan dan selebriti dunia seperti Leonardo DiCaprio memang membawa isu ini ke panggung internasional. Namun, sorotan saja tidak memadamkan api. Yang menentukan adalah kerja di lapangan. Seperti gambut yang kembali basah, izin yang diawasi, warga yang berdaya, dan hutan yang dijaga.
Catat! Kalimantan menyimpan salah satu hutan hujan tertua dan terkaya di dunia. Jika kebakaran terus dibiarkan berulang -- yang hilang bukan hanya pangan, orangutan dan owa-owa. Tapi juga kesehatan jutaan warga dan masa depan iklim dunia. ***