Cheryl Burke Diserang Body Shaming, Bantah Ozempic dan Nostalgia Tubuh
ORBITINDONESIA.COM – Cheryl Burke kembali menegaskan pesannya kepada para pengkritik: berhenti membandingkan dirinya dengan saat ia berusia 20 tahun. Dalam wawancara Dory Jackson Interview Series, ia bicara blak-blakan soal perubahan tubuh, perimenopause, dan harga psikologis setelah pensiun dari Dancing with the Stars.
Dalam wawancara yang dirilis Rabu, 1 Juli, Burke mengatakan komentar negatif tentang penampilannya berulang dan melelahkan. Ia meminta publik berhenti menilai tubuhnya memakai standar masa lalu, seolah waktu tidak pernah berjalan.
Sebelumnya, ia juga menanggapi spekulasi bahwa perubahan tubuhnya dipicu obat GLP-1 seperti Ozempic. Kepada jurnalis Dory Jackson, Burke justru menekankan faktor yang lebih manusiawi: pensiun dari tari profesional dan fase perimenopause.
Burke menggambarkan tubuhnya dulu sangat “terbentuk” karena latihan ekstrem. Ia berkata, ketika tubuh tidak lagi “dipukul” oleh rutinitas sekeras itu, perubahan pasti terjadi, dan itu adalah bagian dari hidup.
Ia mengakui kritik kadang tetap menembus pertahanan mentalnya. Namun ia juga menilai ada titik ketika komentar yang sama akan terasa usang, karena publik seperti memutar kaset yang tidak pernah berhenti.
Dalam esai Glamour bulan Juni, Burke mengingat bagaimana body-shaming menjadi “bahan tabloid” sejak debutnya di Dancing with the Stars pada 2006. Ia menceritakan momen ketika namanya muncul di televisi dengan teks berjalan yang mempertanyakan apakah ia “terlalu gemuk untuk TV”.
Saat itu ia masih 20-an, sedang mengalami perubahan hormonal, dan baru keluar dari disiplin keras dunia tari kompetitif. Namun tubuhnya justru dijadikan berita, seolah nilai dirinya ditentukan oleh ukuran pinggang.
Burke juga mengklaim dua rekan pria sesama penari profesional membuat komentar soal berat badannya di jalur wawancara pers setelah siaran langsung. Ia menyebut komentar itu menyebar luas, meski ia sudah berbicara personal dan memaafkan mereka.
Kasus Burke menunjukkan pola klasik budaya selebritas: tubuh perempuan diperlakukan sebagai properti publik. Ketika karier berubah, usia bertambah, atau hormon bergeser, publik sering menuntut “versi lama” kembali seperti produk yang bisa diulang.
Pernyataan “stop membandingkan saya dengan saat saya 20” adalah kritik langsung pada ageism dan standar kecantikan yang beku. Industri hiburan kerap mengabadikan satu era sebagai patokan, lalu menghukum siapa pun yang menua secara normal.
Burke menyinggung “biaya psikologis” pensiun dari tari profesional, yang jarang dibahas di media arus utama. Atlet dan penari elite sering mengalami perubahan komposisi tubuh setelah intensitas latihan turun, dan itu bukan kegagalan moral.
Ia juga menyebut perimenopause, fase transisi yang dapat memengaruhi berat badan, tidur, suasana hati, dan metabolisme. Dalam konteks ini, komentar publik yang menyederhanakan perubahan tubuh menjadi “operasi” atau “obat pelangsing” tampak seperti jalan pintas yang tidak empatik.
Spekulasi soal GLP-1 seperti Ozempic memperlihatkan tren baru: setiap perubahan fisik diasumsikan hasil intervensi medis. Padahal, Burke menyodorkan narasi yang lebih kompleks, yakni kombinasi ritme hidup, kesehatan mental, dan perubahan biologis.
Bagian paling tajam muncul ketika ia menolak nostalgia publik terhadap tubuhnya di era 2006. Ia menulis bahwa orang berkata ia dulu “lebih sehat”, padahal ia minum alkohol setiap malam dan makan tengah malam untuk “menyerap” alkohol.
Di sini, Burke membongkar ilusi visual yang sering menipu: tubuh yang tampak “ideal” di foto belum tentu menandakan kesehatan. Ia menyebut dirinya “Cheryl si alkoholik” kala itu, “party girl” yang nyaris tidak bertahan melewati beberapa siaran langsung.
Pengakuan itu menampar logika media sosial yang menyamakan kurus dengan sehat. Ia menegaskan bahwa foto-foto yang kini dipuja justru diambil saat ia hangover, dan publik sedang meminta ia kembali ke versi yang sebenarnya rapuh.
Secara jurnalistik, ini penting karena menggeser fokus dari estetika ke kesejahteraan. Burke menantang publik untuk bertanya: mengapa kita meromantisasi masa ketika seseorang diam-diam menderita, hanya karena tubuhnya cocok dengan selera kamera?
Ia juga menyinggung rasa “jijik” pada diri sendiri yang ia alami dulu. Pengakuan ini memperlihatkan bagaimana body-shaming tidak berhenti pada komentar, tetapi bisa berubah menjadi kekerasan psikologis yang diinternalisasi.
Yang dipertaruhkan bukan sekadar citra Cheryl Burke, melainkan cara publik mendefinisikan “versi terbaik” seorang perempuan. Ketika standar itu dipatok pada usia 20-an, maka menua otomatis dianggap kemunduran, bukan proses hidup.
Kritik terhadap penampilan sering dikemas sebagai “peduli kesehatan”, padahal yang diburu adalah keseragaman estetika. Burke membuktikan paradoksnya: tubuh yang dipuji dulu justru dibangun di atas kebiasaan destruktif, dan pujian itu ikut melanggengkan kebutaan publik.
Spekulasi Ozempic juga mencerminkan obsesi pada solusi instan, sekaligus kecurigaan pada perubahan yang natural. Jika seseorang berubah, publik ingin jawaban cepat, bukan cerita panjang tentang pensiun, hormon, dan pemulihan.
Media memiliki peran besar dalam siklus ini, karena judul sensasional seperti “terlalu gemuk untuk TV” menciptakan trauma yang bertahan puluhan tahun. Ketika media memonetisasi tubuh, publik belajar menilai manusia sebagai komoditas yang boleh dikomentari tanpa batas.
Burke menyebut hal yang sering diabaikan: internet membuat orang merasa “memiliki” selebritas. Dari situ, komentar berubah menjadi tuntutan, dan tuntutan berubah menjadi penghakiman yang dianggap normal.
Cheryl Burke tidak sedang meminta simpati, melainkan meminta akal sehat: tubuh manusia berubah, dan perubahan tidak selalu berarti kemerosotan. Ia mengingatkan bahwa standar “sehat” tidak bisa ditentukan dari foto lama yang hanya merekam permukaan.
Jika nostalgia membuat kita ingin seseorang kembali ke masa ketika ia minum tiap malam dan membenci dirinya sendiri, maka yang rusak bukan tubuhnya, melainkan cara kita memandang tubuh. Pertanyaannya, apakah kita siap merayakan pertumbuhan dan pemulihan, meski tidak selalu fotogenik? (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)