Rencana MSCI Ubah Status Pasar Saham Indonesia ke Standalone Market Masih di Tahap Konsultasi

Ilustrasi MSCI.

Ilustrasi MSCI.

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM - Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, bukan lagi Frontier Market.

Rencana tersebut masih dalam tahap konsultasi dan keputusan final akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. Pengumuman ini langsung menyengat IHSG dan merontokkan nilai tukar rupiah.

MSCI menilai, status Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini. Pelaku pasar masih khawatir terhadap tingkat investabilitas saham, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi alias goreng saham. Regulator telah mengumumkan berbagai reformasi, namun MSCI belum melihat kemajuan yang memadai dan konsisten.

Menyusul pengumuman MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini langsung terjun bebas 8,01% ke 5.393 dan perdagangan langsung dihentikan (trading halt).

Indeks pada perdagangan sesi I ditutup melemah 10,76% ke 5.233, dan pada penutupan perdagangan hari ini jatuh 11,59% ke 5.185. Ini anjlok terparah dalam sehari yang dialami BEI dalam 2 dekade terakhir.

Nasib serupa dialami rupiah. Dibuka melemah 0,33% ke Rp 17.980/USD, hanya dalam 2 menit rupiah melemah 0,45% hingga tembus Rp 18.021/USD.

Pasca-kejatuhan indeks, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad bersama CEO Danantara Rosan Roeslani dan Kapolri Jenderal Pol Suyudi mendatangi gedung Bursa Efek Indonesia (BEI).

Keduanya langsung menuju ruang direksi. Usai rapat koordinasi, Dasco meminta BEI melakukan perbaikan dalam rangka mengakomodasi masukan dari lembaga-lembaga rating, termasuk MSCI.

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan, BEI akan segera melakukan klarifikasi kepada MSCI atas concern mereka. BEI, kata dia, akan memaksimalkan apa saja transformasi yang harus dilengkapi. BEI masih punya waktu hingga April 2027 untuk mempersiapkan proposal.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menghormati penilaian MSCI, serta terus melakukan pembenahan dan tindak lanjut atas masukan yang diberikan.

Senior Analyst Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai jika MSCI benar menurunkan klasifikasi dari Emerging Market ke Standalone Market, dampaknya cukup signifikan terhadap pasar modal domestik, baik dari sisi aliran dana asing, likuiditas perdagangan, volatilitas harga saham, maupun persepsi risiko investasi Indonesia di mata investor global.

Nafan menyoroti persoalan mendasar yang mendasari alasan MSCI menilai Indonesia bahkan belum layak masuk kategori Frontier Market.

Persoalannya bukan semata ukuran kapitalisasi atau kedalaman pasar saham, melainkan kualitas tata kelola dan tingkat investabilitas pasar. Reformasi pasar modal selama ini belum cukup meyakinkan investor institusional global dari sisi implementasi dan hasil nyata.

Liza Camelia Suryanata dari PT Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan tekanan jual dari investor asing dan volatilitas pasar akan berlanjut hingga ada kejelasan posisi Indonesia. Sementara Henry Wibowo dari Alphagate Capital mengatakan, kabar tersebut akan memicu arus dana keluar yang besar dalam waktu dekat.

Trending Medsos

IHSG memuncaki daftar Google Trends hari Jumat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia hari Jumat tertekan, tersengat pengumuman MSCI yang membuka ruang penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

2. Di media sosial, termasuk X dan Threads, isu rontoknya indeks harga saham juga menjadi perbincangan ramai. Frasa "IHSG", "MSCI", "Standalone Market", dan juga "Zimbabwe" trending terkait rontoknya indeks. MSCI membuka kemungkinan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia bukan ke Frontier Market, tapi ke Standalone Market, setara dengan negara-negara semacam Zimbabwe. ***