Cerai Demian Aditya-Sara Wijayanto dan Pertemuan Kiandra Disorot

janalokajournal.id

janalokajournal.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kabar gugatan cerai Demian Aditya dan Sara Wijayanto di Pengadilan Agama Jakarta Selatan membuat publik kembali menoleh pada kisah lain yang lebih sunyi, yakni pertemuan Demian dengan putranya, Kiandra Aldya Arka, setelah 14 tahun terpisah. Di tengah isu perceraian selebritas, momen ayah-anak itu terasa seperti jeda yang memaksa orang bertanya, apa yang sebenarnya paling mahal dalam sebuah rumah tangga.

Gugatan cerai Sara Wijayanto disebut didaftarkan pada 8 September 2026 dan teregistrasi dengan nomor perkara 3594/2026 di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Pernikahan mereka yang berjalan sekitar 12 tahun kini masuk babak persidangan, dengan sidang perdana disebut tidak dihadiri pihak tergugat.

Di saat bersamaan, Demian mengunggah cerita pertemuan kembali dengan Kiandra, anak dari pernikahannya dengan Yulia Rachman. Unggahan itu menonjol karena menyentuh tema keterpisahan panjang, rekonsiliasi, dan waktu yang tidak bisa diulang.

Kiandra adalah buah pernikahan Demian dan Yulia Rachman pada 2008 yang berakhir perceraian, lalu hak asuh jatuh kepada sang ibu. Secara hukum, ayah tetap memiliki hak bertemu, tetapi praktik di lapangan sering kali ditentukan oleh relasi, jarak, dan luka lama.

Pertemuan setelah 14 tahun bukan sekadar peristiwa keluarga, melainkan penanda adanya “ruang kosong” panjang dalam relasi ayah-anak. Demian menulis, “Last time I held him, he barely reached my waist. Now he’s almost as tall as me,” yang menegaskan betapa cepat waktu bergerak ketika komunikasi berhenti.

Ia juga menambahkan, “2 bulan ini kami belajar saling mengenal dari awal,” seolah mengakui bahwa hubungan darah tidak otomatis menjadi kedekatan emosional. Kalimat lain, “Nggak ada yang bisa gantiin waktu yang sudah terlewat,” terdengar seperti ringkasan penyesalan yang sering terlambat diucapkan.

Dari sisi hukum acara, keterangan Humas PA Jakarta Selatan, Abid, M.H., memberi gambaran prosedur jika tergugat absen. “Biasanya kalau pertama tidak hadir, itu akan dipanggil ulang dua kali,” ujarnya, dan jika tetap tidak datang, perkara dapat berlanjut pada pembacaan gugatan serta pembuktian.

Detail ini penting karena memperlihatkan bahwa perceraian publik bukan hanya drama, tetapi proses administratif yang berjalan meski salah satu pihak tidak hadir. Publik kerap membaca ketidakhadiran sebagai simbol konflik, padahal pengadilan menilainya sebagai tahapan yang tetap sah bila tanpa alasan yang dibenarkan.

Namun justru di titik inilah kisah Kiandra menjadi kontras yang tajam. Di ruang sidang, yang diperhitungkan adalah prosedur, sedangkan di ruang keluarga, yang dihitung adalah tahun-tahun yang hilang.

Isu cerai Demian Aditya dan Sara Wijayanto mudah sekali berubah menjadi konsumsi harian, karena publik menyukai akhir yang tegas dari hubungan yang terlihat mapan. Tetapi unggahan tentang Kiandra mengingatkan bahwa “akhir” dalam keluarga jarang benar-benar selesai, ia hanya berganti bentuk dan memanjang menjadi jarak.

Pertemuan ayah dan anak setelah belasan tahun juga menyingkap bagaimana perceraian generasi pertama bisa membayangi relasi generasi berikutnya. Ketika orang dewasa sibuk menegosiasikan luka dan ego, anak sering tumbuh dengan jeda yang tidak pernah ia pilih.

Di media sosial, dukungan warganet mengalir dan itu manusiawi, tetapi ada risiko romantisasi. Rekonsiliasi bukan sekadar foto haru, melainkan kerja sunyi yang menuntut konsistensi, batas yang sehat, dan kesediaan menerima bahwa beberapa bagian masa lalu tidak bisa diperbaiki.

Jika perceraian Sara-Demian benar berlanjut, publik sebaiknya berhenti menuntut tontonan moral siapa yang paling salah. Yang lebih relevan adalah pelajaran praktis, bahwa relasi keluarga membutuhkan kehadiran yang nyata, bukan hanya status hukum dan narasi yang rapi.

Kasus gugatan cerai Demian Aditya dan Sara Wijayanto mungkin akan menemukan putusan, tetapi kisah Kiandra menunjukkan bahwa putusan tidak otomatis menyelesaikan kehilangan. “Cinta tidak pernah hilang,” tulis Demian, namun cinta tetap membutuhkan waktu yang sengaja disediakan, bukan waktu sisa.

Pada akhirnya, yang paling menyakitkan bukan perpisahan itu sendiri, melainkan tahun-tahun yang berlalu tanpa percakapan. Barangkali pertanyaan yang perlu tinggal di kepala kita adalah sederhana, sebelum semuanya terlambat, siapa yang hari ini perlu kita temui dan kita dengarkan kembali. (Orbit dari berbagai sumber, 27 September 2026)