Antisemitisme Australia: Sheina Gutnick Diserang Usai Tragedi Bondi

COLlive

COLlive

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Antisemitisme di Australia kembali menampakkan wajah paling telanjang setelah Sheina Gutnick, putri korban tragedi Bondi Beach, dihujani pesan kebencian. Salah satu pesan bahkan menyesali mengapa ia tidak ikut terbunuh bersama ayahnya dalam serangan saat perayaan Hanukkah.

Artikel sumber mengisahkan Sheina Gutnick, putri Reuven Morrison HY”D, yang tewas ditembak saat tragedi Bondi Beach Hanukkah pada Desember lalu. Morrison disebut gugur ketika berusaha menghentikan pelaku dengan melempar batu bata, sebuah tindakan yang kemudian dipandang heroik.

Sejak itu Gutnick menjadi Public Affairs Advocate untuk Australia di CAM, dan membangun platform global melawan kebencian yang merenggut ayahnya. Ia juga menjadi saksi pertama yang bersaksi di Royal Commission on Antisemitism and Social Cohesion pada awal bulan ini.

Namun sorotan publik datang bersama biaya personal yang mahal, karena ia berubah menjadi sasaran cercaan antisemit. Dalam hitungan jam setelah serangan, ia sempat menolak semua permintaan media, sampai sebuah pesan jurnalis CBS datang larut malam: “Dunia perlu tahu apa yang ayahmu lakukan.”

Gutnick menjawab pesan itu dengan kalimat yang menjadi kunci narasi: “Ayah saya tidak punya suara; saya harus berbicara untuknya.” Pagi harinya, kisah itu menyebar di berbagai media besar Australia, dan sejak saat itu gelombang kebencian di ruang digital mengikutinya.

Ia menerima “tak terhitung” pesan vitriol, tetapi satu unggahan dari akun aktif yang dapat diidentifikasi paling mengguncang: harapan agar ia terbunuh di Bondi bersama ayahnya. Gutnick mengingat, “Saya sudah melihat ratusan, dan itu satu-satunya yang membuat saya goyah,” lalu menambahkan bahwa normalisasi kebencian membuat orang “terbiasa” dengan kekerasan verbal.

Contoh pesan yang dikutip artikel menunjukkan spektrum dehumanisasi, dari seruan pembunuhan “ketika mereka membunuh kalian semua” sampai ejekan “drama queen.” Ada pula yang membandingkannya secara sinis dengan Anne Frank, korban Holocaust, untuk merendahkan kesaksiannya.

Di kolom komentar, muncul pola yang lebih luas: penyangkalan duka Yahudi dan pengalihan isu ke konflik Gaza. Artikel mencatat sebagian orang bahkan mengabaikan pembunuhan sang ayah, tetapi menuntut Gutnick “bertanggung jawab” atas situasi di Jalur Gaza.

Data yang disebutkan memberi gambaran skala: satu unggahan tentang Gutnick memicu lebih dari 3.800 komentar, dan mayoritasnya antisemit. Beberapa menampilkan gambar sepatu menginjak bendera Israel, menyebut bendera Israel dan Amerika sebagai “bendera terorisme,” serta memuat slogan yang menyerukan “intifada” agar “diglobalisasi.”

Bahasa kebencian berulang: “pembunuh bayi,” “parasite,” disertai emoji jari tengah dan tawa yang mengejek korban Bondi. Ini bukan lagi perdebatan politik, melainkan proses mengubah korban menjadi objek olok-olok agar simpati publik mati sebelum sempat lahir.

Artikel juga menyoroti bertahannya teori konspirasi bahwa pembantaian Bondi adalah operasi “false flag” yang diatur Israel, bahkan hampir setengah tahun setelah serangan. Ketika konspirasi menguasai ruang publik, fakta tragedi menjadi sekadar bahan bakar narasi kebencian.

Gutnick menuding arsitektur media sosial sebagai pemicu utama, karena “checks and balances” sosial yang dulu menahan rasisme kini lenyap. Dalam logika platform, setiap pikiran diberi panggung, diberi legitimasi, bahkan dirayakan, dan kelompok minoritas menanggung akibatnya.

Kisah Gutnick memperlihatkan krisis empati yang lebih mengkhawatirkan daripada satu rangkaian komentar jahat. Ketika duka seorang anak atas ayahnya yang ditembak mati di perayaan keagamaan tidak lagi dianggap layak dihormati, masyarakat sedang kehilangan kemampuan dasar untuk membedakan kritik politik dan kebencian identitas.

Di titik ini, antisemitisme bekerja bukan hanya melalui makian, tetapi melalui mekanisme “tidak ada ruang untuk duka Yahudi.” Duka dipolitisasi, lalu dipatahkan, sehingga korban dipaksa membela diri bahkan saat berduka, dan pelaku kebencian merasa moral karena menyelipkan isu geopolitik sebagai pembenaran.

Royal Commission on Antisemitism and Social Cohesion menjadi panggung penting karena menempatkan pengalaman korban sebagai bukti, bukan opini. Namun komisi saja tidak cukup bila ekosistem digital tetap memberi insentif pada konten ekstrem yang paling cepat memicu amarah.

Media arus utama juga menghadapi dilema: mengangkat kisah korban penting untuk kebenaran, tetapi eksposur memperbesar risiko serangan daring. Di sinilah perlindungan, moderasi, dan literasi publik harus berjalan bersamaan, agar “kesaksian” tidak berubah menjadi “hukuman sosial” bagi korban.

Gutnick mengatakan ia tidak gentar karena merasa membawa warisan ayahnya yang tak lagi bisa bersuara. Kalimat itu mengingatkan bahwa melawan kebencian bukan sekadar soal membalas komentar, melainkan mempertahankan ruang publik agar kemanusiaan tetap menjadi standar minimal.

Tragedi Bondi Beach tidak berhenti pada tembakan yang merenggut nyawa Reuven Morrison, karena gelombang antisemitisme memanjangkan kekerasan itu ke ranah digital. Ketika masyarakat membiarkan duka berubah menjadi sasaran, kita sedang mengizinkan kebencian menjadi bahasa sehari-hari.

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa yang menulis komentar paling kejam, tetapi mengapa sistem membuatnya terasa normal. Jika empati bisa runtuh hanya karena identitas korban, maka yang terancam bukan satu komunitas saja, melainkan fondasi kohesi sosial itu sendiri (Orbit dari berbagai sumber, 27 Mei 2026)