Literasi Keuangan Anak: Orang Tua Kanada Masih Ragu Lepas Kendali

WestCentralOnline

WestCentralOnline

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan anak kembali jadi sorotan saat survei Mydoh mencatat 87% orang tua Kanada menganggap keterampilan mengelola uang sangat penting. Namun angka yang sama, 87%, juga mengaku punya kekhawatiran saat anak diberi kemandirian finansial, terutama soal belanja impulsif dan risiko penipuan online. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Di satu sisi, orang tua ingin anak siap menghadapi dunia nyata yang serbadigital dan penuh transaksi cepat. Di sisi lain, uang masih dianggap wilayah “berbahaya” yang sebaiknya dikendalikan orang dewasa selama mungkin. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Survei yang dikutip Mydoh menunjukkan bentuk kekhawatiran paling dominan adalah anak akan menghabiskan uang terlalu cepat (49%). Kekhawatiran lain adalah keputusan belanja yang buruk (42%), serta potensi tertipu atau melakukan pembelian online yang tidak aman (33%). (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Keraguan ini bukan sekadar soal nominal uang saku. Ia memantulkan kegelisahan yang lebih besar: bagaimana mendidik anak menjadi mandiri tanpa membiarkan mereka “terluka” oleh kesalahan finansial. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Menariknya, banyak keluarga sebenarnya sudah memberi ruang latihan, meski masih terbatas. Survei mencatat 67% orang tua berharap anak menabung untuk sesuatu yang mereka inginkan selama tahun ajaran, dan 61% berharap anak mengelola uang belanjanya sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Praktik kemandirian kecil juga mulai muncul pada keputusan harian. Sekitar 57% orang tua mengharapkan anak melakukan pembelian kecil secara mandiri, semacam latihan “mengambil keputusan” dengan risiko rendah. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Namun kurva kepercayaan itu menurun tajam saat tanggung jawab membesar. Hanya 22% orang tua yang berharap anak mengelola sebagian anggaran belanja kembali ke sekolah, dan cuma 13% yang membiarkan anak belanja online secara mandiri. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Pola ini menunjukkan ada batas psikologis yang jelas: offline dianggap lebih bisa dipantau, sedangkan online dipersepsikan sebagai ruang liar. Ketakutan pada scam, tautan palsu, dan pembelian impulsif satu klik membuat orang tua cenderung menarik rem. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

CEO Mydoh, Angelique de Montbrun, merangkum paradoksnya dengan lugas: orang tua paham uang adalah keterampilan hidup, tetapi paham saja tidak otomatis membuat mereka nyaman menyerahkan kontrol. Ia menekankan targetnya bukan kebebasan tanpa batas, melainkan keputusan nyata dengan bimbingan saat konsekuensinya masih kecil. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Dari sisi edukasi, Vanessa Bowen, chartered professional accountant dan pendiri platform Mint Worthy, menegaskan kemandirian finansial tumbuh lewat pengalaman. Ia menyarankan latihan dimulai dari keputusan kecil seperti membandingkan harga, mengelola uang makan siang, atau mengatur belanja perlengkapan sekolah dengan jumlah tetap. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Bagian tersulit justru bukan pada anak, tetapi pada orang tua. Survei menyebut 19% orang tua merasa sulit untuk mundur dan membiarkan anak melakukan kesalahan kecil. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Padahal, kesalahan kecil adalah laboratorium pembelajaran paling jujur. Pembelian yang disesali atau uang yang cepat habis bisa menjadi pintu masuk diskusi tentang anggaran, trade-off, dan efek satu keputusan terhadap sisa kebutuhan lain. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Dimensi online menuntut strategi bertahap, bukan larangan total. Bowen menyarankan aturan jelas tentang apa yang boleh dibeli, kapan perlu izin, serta cara mengenali situs mencurigakan dan penawaran yang terlalu bagus untuk benar. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Musim back-to-school juga dapat menjadi momen “uji coba” yang terukur. Mydoh menyebut keluarga bisa memberi anak porsi anggaran perlengkapan sekolah, meminta mereka membandingkan harga, lalu melacak sisa uang setelah transaksi. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Keraguan orang tua sebenarnya wajar, tetapi bisa menjadi bumerang bila berubah menjadi kontrol permanen. Anak yang tidak pernah diberi ruang mengambil keputusan akan memasuki usia dewasa dengan keterampilan finansial yang rapuh, meski nilai matematikanya bagus. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Di era pembayaran digital, risiko bukan alasan untuk menunda literasi keuangan anak, melainkan alasan untuk mempercepatnya dengan pendampingan. Jika anak tidak belajar mengenali scam saat nominalnya kecil, mereka bisa belajar dengan “biaya” jauh lebih mahal ketika sudah punya akses rekening sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Ada juga bias yang perlu diakui: banyak orang tua lebih takut pada kesalahan anak daripada pada ketidaksiapan anak. Ketakutan ini sering berbaju “perlindungan”, padahal yang terjadi adalah penundaan pengalaman yang seharusnya dibangun sejak dini. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Kuncinya adalah desain tanggung jawab, bukan sekadar melepas atau menahan. Batasan yang transparan, target yang realistis, dan evaluasi setelah belanja akan membuat uang saku berubah dari “hadiah” menjadi kurikulum kehidupan. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Survei Mydoh memotret dilema yang relevan di banyak keluarga: literasi keuangan anak diakui penting, tetapi kemandirian finansial anak masih dianggap mengancam. Data 87% versus 87% itu seperti cermin, bahwa pendidikan uang sering berhenti pada niat, bukan praktik. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)

Back-to-school memberi panggung untuk latihan kecil yang nyata, dari membagi anggaran hingga meninjau keputusan belanja. Pertanyaannya, apakah orang tua siap menukar rasa aman sesaat dengan proses belajar yang membentuk ketahanan jangka panjang. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)