Tri Handoyo: Korupsi Informasi
Oleh Tri Handoyo
ORBITINDONESIA.COM - Di sebuah gardu ronda di pinggiran Karang Kedempel, asap kopi mengepul beradu dengan bau ketela bakar.
Petruk sedang asyik mengipasi arang, sementara Bagong tiduran berbantalkan tumpukan kardus. Gareng sibuk mengutak-atik radio bututnya yang kresek-kresek.
Semar, sang ayah, duduk tenang di pojokan sambil mengisap rokok klobotnya.
"Reng, Truk... kamu dengar berita tidak?" Bagong membuka suara sambil mengeliat. "Katanya, kurban sapi dari Prabowo tahun ini sebanyak seribu lebih, tapi pakai uang APBN!"
"Gong, Gong... kamu itu korban korupsi lagi," kata Petruk kalem.
Bagong langsung bangkit duduk, wajahnya sewot. "Heh, Truk! Jangan sembarangan nuduh ya. Dompetku kempes begini, apa yang mau dikorupsi? Mau nilep duit kas ronda aja isinya cuma bon utang!"
Petruk terkekeh, "Bukan korupsi duit, Gong. Tapi Korupsi Informasi."
"Lho, ada toh yang begitu?" Gareng ikut mendekat, penasaran.
"Ya ada, dan justru ini yang paling bahaya," potong Semar yang sedari tadi diam. Semar membetulkan posisi duduknya, menatap ketiga anaknya bergantian.
"Menyampaikan informasi yang tidak utuh, dipotong di tengah, atau sengaja dipelintir supaya orang salah paham, itu namanya korupsi informasi, Ngger."
Semar menjelaskan bahwa dalam kasus kurban pemerintah yang diomongkan Bagong, informasinya sebenarnya tidak begitu.
"Pemerintah menyalurkan kurban bukan atas nama Prabowo, dan mekanismenya diatur agar disalurkan langsung ke daerah-daerah terpencil yang jarang mendapat daging, bukan menumpuk di kota atau di pusat administrasi saja!"
"Oalah..." Bagong melongo.
Gareng manggut-manggut, mulai paham. "Tapi, kalau korupsi duit kan jelas merugikan negara miliaran. Kalau cuma korupsi info begini, ruginya di mana? Kan kita cuma jadi salah paham doang?"
Semar tersenyum bijak, lalu mengembuskan asap rokoknya.
"Reng, kalau korupsi duit, yang hilang itu hartanya negara. Tapi kalau korupsi informasi, yang hilang itu kedamaian dan akal sehat rakyat."
Semar membeberkan mengapa korupsi info ini jauh lebih beracun. Rakyat yang tidak tahu apa-apa mudah disulut emosinya. Begitu dengar info yang "setengah matang", langsung merasa dizalimi.
Lanjutnya, "Informasi yang dipelintir sengaja didesain agar rakyat saling curiga, benci ke pemerintah, atau bahkan berantem sesama warga. Kalau rakyat sudah telanjur ngamuk dan rusuh karena info hoaks, yang rusak bukan cuma fasilitas, tapi juga tatanan sosial."
"Korupsi info itu ibarat menyebar bensin di rumput kering. Begitu ada percikan dikit, langsung kebakaran se-Karang Kedempel. Sementara yang motong info tadi? Duduk manis sambil makan kacang nonton kita berantem," imbuh Petruk berapi-api.
Bagong terdiam. Dia memandangi radio butut Gareng, lalu memandangi perutnya yang buncit.
"Wah, ngeri juga ya. Berarti yang menyebarkan berita sepotong-sepotong itu sebetulnya koruptor kelas kakap ya, Romo?" tanya Bagong polos.
"Bisa dibilang begitu, Gong. Karena mereka mencuri kebenaran dari masyarakat," jawab Semar.
Malam itu, di gardu ronda, para punakawan belajar satu hal: sebelum menelan informasi, pastikan kunyahannya utuh, agar tidak tersedak fitnah yang bikin sesak dada.
Jakarta, 30 Mei 2026. ***