Kampung Bebas Jentik Buniseuri Tekan DBD, Jadi Percontohan PSN
ORBITINDONESIA.COM – Kampung Bebas Jentik (KBJ) Buniseuri di Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, ditetapkan sebagai percontohan setelah menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sempat berstatus KLB. Program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M Plus dan pemeriksaan jentik rutin menjadi kunci yang paling sering dicari publik saat musim kasus meningkat.
DBD bukan sekadar urusan klinik, melainkan cermin tata kelola lingkungan di tingkat rumah tangga. Ketika sebuah desa sempat masuk Kejadian Luar Biasa (KLB), itu menandakan ada mata rantai pencegahan yang putus, dari genangan air sampai disiplin warga.
Di Buniseuri, penelusuran awal menemukan titik-titik kecil yang sering dianggap sepele. Pot bunga dan wadah penampungan air disebut menjadi lokasi potensial berkembang biaknya Aedes aegypti.
Kepala Puskesmas Buniseuri, Minin Sutisna Daryanto, menegaskan perubahan terjadi setelah gerakan bersama digerakkan secara berkelanjutan. “Setelah KLB terjadi, kami bersama pemerintah desa dan masyarakat melakukan berbagai langkah penanganan hingga Buniseuri ditetapkan sebagai pilot project KBJ,” ujarnya, Minggu, 21 Juni 2026.
Strategi yang dipilih tidak berhenti pada respons darurat, tetapi mengunci kebiasaan harian melalui PSN. Penerapan 3M Plus, pemeriksaan jentik rutin, dan edukasi kebersihan lingkungan menjadi paket yang menekan risiko dari hulu.
Di banyak wilayah, PSN sering melemah karena hanya kuat saat ada kasus, lalu mengendur ketika situasi membaik. Buniseuri mencoba membalik pola itu dengan kerja bakti dan kontrol jentik yang dibuat menjadi rutinitas sosial, bukan agenda musiman.
Secara epidemiologis, DBD sangat sensitif terhadap kepadatan vektor dan ketersediaan tempat perindukan. Karena itu, fokus pada “wadah kecil” justru rasional, sebab satu kontainer air bisa menghasilkan banyak nyamuk dalam siklus singkat.
Penetapan sebagai pilot project KBJ juga membawa konsekuensi baru, yakni pembuktian yang terukur dan konsisten. Tanpa indikator yang jelas, label “bebas jentik” bisa berubah menjadi slogan, bukan sistem pencegahan.
Keberhasilan Buniseuri patut dibaca sebagai kritik halus terhadap pendekatan yang terlalu bergantung pada penanganan kasus, bukan pencegahan. Ketika warga hanya bergerak setelah ada pasien, biaya sosial dan kesehatan sudah terlanjur terjadi.
Minin menekankan bahwa kunci utamanya adalah keterlibatan aktif warga. “Jika lingkungan bersih dan tidak ada tempat berkembang biaknya nyamuk, maka risiko DBD bisa ditekan,” katanya.
Namun, partisipasi warga tidak lahir dari imbauan semata, melainkan dari kepercayaan dan kepemimpinan lokal yang hadir di lapangan. Jika beban pencegahan hanya ditumpukan pada relawan atau kader, program mudah lelah dan kembali rapuh.
KBJ seharusnya tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi menjadi standar kerja lintas sektor, dari RT/RW sampai layanan kesehatan. Pertanyaannya, apakah desa-desa lain siap meniru disiplin kecil yang konsisten, bukan hanya meniru seremoni peluncurannya.
Buniseuri memberi pelajaran bahwa perang melawan DBD dimulai dari keputusan sederhana: menutup, menguras, dan mengelola setiap wadah air, lalu mengulanginya tanpa menunggu alarm KLB. Keberhasilan ini terasa kuat karena dibangun dari kebiasaan, bukan kepanikan.
Jika satu desa bisa menekan DBD lewat PSN yang rapi, maka tantangannya kini adalah menjaga ketekunan saat situasi sudah tenang. Pada akhirnya, pertanyaan reflektifnya sederhana: kita ingin dikenal sebagai wilayah yang “cepat fogging”, atau komunitas yang benar-benar memutus siklus jentik sejak awal.
(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)