Self-care Active Lifestyle: Lavojoy Run dan Tren Personal Care
ORBITINDONESIA.COM – Self-care active lifestyle kini menjelma menjadi bahasa baru kelas urban: lari, pilates, lalu mandi cepat dan re-apply sunscreen. Lavojoy Run di GBK memotret pergeseran itu, ketika personal care tidak lagi sekadar me time, tetapi perangkat untuk tetap tampil siap di tengah mobilitas.
Gaya hidup aktif membuat batas antara olahraga, kerja, dan sosial makin tipis. Running, gym, pilates, dan aktivitas outdoor menjadi agenda rutin sekaligus ruang berjejaring.
Di titik ini, personal care bergeser fungsi. Ia bukan hanya ritual setelah aktivitas, tetapi juga “perlengkapan” sebelum dan selama aktivitas, dari sunscreen sampai perawatan rambut dan kulit kepala.
Lavojoy membaca perubahan tersebut setelah empat tahun di Indonesia. Brand ini memperluas lini dari body dan hair care ke sunscreen wajah, lalu mengunci positioning sebagai active lifestyle self-care brand.
Perayaan ulang tahun keempat lavojoy di Plaza Sudirman, GBK, diikuti sekitar 500 peserta dari komunitas lari, media, KOL, dan konsumen. Formatnya bukan sekadar fun run 5K, tetapi paket pengalaman yang menggabungkan wellness dan personal care.
Setelah finis, peserta diarahkan ke “Pit Stop of Joy” yang menawarkan express hair wash, styling station, dan product trial. Ini menempatkan perawatan diri sebagai kelanjutan logis dari olahraga, bukan aktivitas terpisah.
Di sore hari, acara berlanjut lewat Zumba bersama Fithub dan Sunset Mat Pilates bersama Re Bar Pilates. Rangkaian ini memperlihatkan personal care dipasarkan sebagai ekosistem gaya hidup, bukan sekadar produk di rak.
Dari sisi tren, pasar wellness global memang sedang menanjak. McKinsey (2024) memperkirakan pasar wellness global bernilai sekitar US$1,8 triliun dengan pertumbuhan 5–10% per tahun, dan personal care menjadi salah satu pilar konsumsinya.
Di Indonesia, sinyalnya terlihat pada meledaknya komunitas lari dan kelas kebugaran berbasis studio. Aktivitas fisik berubah menjadi identitas sosial, sehingga “tampil segar” setelahnya ikut menjadi kebutuhan.
Strategi lavojoy memanfaatkan logika itu: olahraga menciptakan momen berkeringat, lalu produk menawarkan solusi instan untuk kembali nyaman. Dalam bahasa pemasaran, ini mengubah self-care menjadi “utility” yang menempel pada rutinitas.
Brand Director lavojoy Indonesia, Dickson Leo, menegaskan arah tersebut. “Mulai dari inovasi produk hingga rangkaian perawatan badan, kepala, dan sekarang sudah merambah ke lini sunscreen untuk wajah,” ujarnya dalam keterangan acara.
Namun ada pertanyaan yang perlu diajukan: ketika self-care dipaketkan sebagai gaya hidup aktif, apakah ia masih tentang merawat diri, atau tentang merawat citra? Di ruang publik, self-care mudah bergeser menjadi performa yang harus terlihat.
Event berbasis komunitas memang menguatkan rasa memiliki. Tetapi ia juga berpotensi menjadikan kesehatan sebagai komoditas sosial, di mana “ikut lari” dan “ikut kelas” terasa seperti tiket untuk dianggap disiplin.
Di sisi lain, pendekatan ini bisa punya dampak positif bila mendorong kebiasaan sehat yang konsisten. Personal care yang ditempelkan pada olahraga dapat membantu orang merasa nyaman, mengurangi hambatan, dan akhirnya lebih rajin bergerak.
Kuncinya ada pada transparansi dan edukasi. Sunscreen misalnya, idealnya dikomunikasikan lewat fungsi perlindungan yang benar, bukan sekadar aksesori gaya hidup.
Leo menyebut fun run dipilih karena dekat dengan perjalanan hidup. “Setiap orang memiliki ritme yang berbeda, tetapi semuanya memiliki tujuan yang sama: hidup lebih sehat dan lebih baik,” katanya.
Pernyataan itu kuat, tetapi publik juga berhak menuntut konsistensi. Jika self-care diklaim sebagai dukungan kesehatan, maka kualitas produk, klaim manfaat, dan keamanan harus menjadi prioritas, bukan sekadar pengalaman acara.
Empat tahun lavojoy menandai fase baru: self-care dibawa keluar dari kamar mandi dan masuk ke arena lari. Ia dirayakan sebagai kebiasaan harian yang menyatu dengan olahraga, komunitas, dan mobilitas kota.
Perayaan seperti lavojoy Run menunjukkan satu hal penting: masyarakat ingin sehat, tetapi juga ingin tetap nyaman dan percaya diri saat bergerak. Di situlah personal care menemukan panggung barunya.
Namun self-care yang paling jujur tetaplah yang tidak bergantung pada sorak atau kamera. Pertanyaannya, setelah event selesai dan produk disimpan, apakah kita masih merawat diri dengan cara yang benar-benar kita butuhkan, bukan sekadar yang terlihat baik? (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)