Tanda Orang Selingkuh: Mengapa Pelaku Tampak Aneh?

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Tanda orang selingkuh sering diburu lewat perubahan sikap yang tampak “aneh”, dari mendadak tertutup sampai tiba-tiba terlalu manis. Namun psikolog keluarga dr. Shirley Glass menegaskan, inti perselingkuhan bukan pola perilaku seragam, melainkan kerahasiaan yang melanggar komitmen.

Di ruang publik, perselingkuhan kerap dibaca seperti teka-teki perilaku. Publik mencari sub-keyword seperti “ciri-ciri selingkuh”, “tanda pasangan selingkuh”, dan “kenapa orang selingkuh berubah”.

Masalahnya, cara membaca “keanehan” sering berubah menjadi perburuan bukti yang salah arah. Ketika kecurigaan dipakai sebagai kompas utama, hubungan bisa rusak bahkan tanpa adanya perselingkuhan.

Shirley Glass, dalam wawancara dengan CBS News, memberi batas tegas tentang definisi. “Perselingkuhan adalah keterlibatan seksual, romantis, atau emosional yang dilakukan secara diam-diam sehingga melanggar komitmen dalam hubungan eksklusif,” ujarnya.

Definisi itu memindahkan fokus dari gestur harian ke struktur hubungan. Yang membedakan perselingkuhan dari pertemanan bukan sekadar kedekatan, melainkan rahasia yang disimpan karena tahu itu melanggar.

Karena itu, “aneh” bukanlah bukti, melainkan gejala yang bisa punya banyak sebab. Stres kerja, depresi, masalah finansial, atau kelelahan pengasuhan juga bisa membuat seseorang berubah.

Di titik ini, artikel KOMPAS.com mengingatkan pembaca agar tidak terjebak pada mitos perilaku tunggal. Perselingkuhan tidak memiliki satu wajah, tetapi hampir selalu memiliki satu pola: pengelolaan rahasia.

Mengapa orang selingkuh sering bertindak aneh, jika tidak ada pola yang sama? Jawaban paling masuk akal ada pada biaya mental dari kerahasiaan.

Menyembunyikan hubungan berarti menjalankan dua narasi hidup sekaligus. Seseorang harus mengingat kebohongan, menambal inkonsistensi, dan mengendalikan jejak yang tertinggal.

Psikolog Dylan Selterman menulis di Psychology Today bahwa pelaku perselingkuhan memakai strategi berlapis untuk menutupi jejak. Strateginya mencakup menghapus jejak digital, membatasi pertemuan, dan berusaha bertingkah “normal” agar tidak memicu curiga.

Upaya bertingkah normal itu sendiri sering melahirkan kejanggalan. Semakin keras seseorang mengontrol citra, semakin mudah ia terpeleset pada respons yang tidak natural.

Biaya mental itu juga mempersempit kapasitas emosi. Orang bisa tampak lebih cemas, lebih defensif, atau lebih cepat tersulut karena energinya habis untuk mengelola risiko ketahuan.

Keanehan juga bisa muncul dalam bentuk “kebaikan mendadak”. Sikap ekstra perhatian kadang bukan tanda cinta yang tumbuh, melainkan kompensasi rasa bersalah.

Di sisi lain, ada konflik batin yang tidak selalu terlihat. Ketika nilai pribadi berbenturan dengan tindakan, tubuh sering mengekspresikannya lewat gelisah, insomnia, atau perubahan rutinitas.

Yang penting, konflik batin tidak otomatis berarti seseorang selingkuh. Namun pada kasus perselingkuhan, konflik batin sering menjadi bahan bakar perilaku yang inkonsisten.

Dalam konteks digital, kerahasiaan makin rumit karena jejak komunikasi mudah tertangkap. Notifikasi yang dimatikan, ponsel yang selalu dibawa, atau kata sandi yang mendadak diganti sering dibaca sebagai tanda.

Tetapi indikator digital juga rawan salah tafsir. Kekhawatiran keamanan data, pengalaman peretasan, atau tuntutan pekerjaan bisa memicu kebiasaan protektif yang serupa.

Maka, analisis yang lebih akurat bukan menumpuk “tanda”, melainkan memeriksa pola kerahasiaan yang melanggar kesepakatan. Pertanyaannya bukan “dia berubah”, melainkan “apakah ada komitmen yang dilanggar secara diam-diam”.

Obsesi pada tanda orang selingkuh sering menjadi cara aman untuk menghindari percakapan sulit. Kita lebih nyaman menebak-nebak daripada membahas batas, kebutuhan emosional, dan definisi kesetiaan yang disepakati.

Padahal, perselingkuhan adalah peristiwa relasional, bukan sekadar penyimpangan individu. Ia tumbuh di ruang yang memberi kesempatan, pembenaran, dan celah komunikasi yang dibiarkan membesar.

Sudut pandang Glass tentang kerahasiaan menggeser perdebatan dari moral panik ke etika komitmen. Jika rahasia dipakai untuk menikmati keuntungan tanpa menanggung konsekuensi, maka yang hancur bukan hanya kepercayaan, tetapi juga rasa aman pasangan.

Namun ada bahaya lain yang sama serius, yaitu budaya “detektif” di dalam rumah. Ketika semua perilaku diperlakukan sebagai bukti, hubungan berubah menjadi ruang interogasi, bukan ruang pemulihan.

Kritis berarti menahan diri dari kesimpulan instan. Kecurigaan bisa menjadi sinyal untuk dialog, bukan lisensi untuk menghukum tanpa verifikasi.

Di sini, yang dibutuhkan adalah bahasa yang tegas dan batas yang jelas. Komitmen tidak cukup diasumsikan, karena setiap pasangan punya definisi eksklusivitas yang bisa berbeda.

Jika yang terjadi adalah pelanggaran, fokusnya bukan sekadar “mengungkap pelaku”. Fokusnya adalah memutus siklus kerahasiaan, memulihkan transparansi, dan menentukan apakah hubungan masih layak diperjuangkan.

Tanda orang selingkuh memang sering terlihat seperti perilaku aneh, tetapi keanehan bukan bukti tunggal yang bisa diadili. Yang paling konsisten dari perselingkuhan adalah kerahasiaan yang melanggar komitmen, seperti ditegaskan dr. Shirley Glass.

Jika Anda merasa ada yang berubah, mulailah dari pertanyaan yang tepat dan percakapan yang jujur. Apakah ada batas yang dilanggar, atau hanya ada luka komunikasi yang belum disembuhkan?

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa rahasia sama sekali, melainkan hubungan yang tidak memerlukan rahasia untuk bertahan. Dan mungkin pertanyaan paling mencerahkan adalah ini: kesetiaan seperti apa yang benar-benar Anda sepakati, dan beranikah Anda menegakkannya bersama?

(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)