Parasosial Relationship di Media Sosial: Dekat Semu, Dampak Nyata

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Parasosial relationship di media sosial membuat pengikut merasa akrab dengan idola yang belum tentu mengenal mereka. Dari TikTok, Instagram, hingga YouTube Live, kedekatan itu dibangun oleh unggahan harian, balasan komentar, dan potongan kehidupan yang tampak personal.

Masalahnya, kedekatan semu ini bisa berubah menjadi keterikatan emosional yang memakan waktu, energi, bahkan harga diri. Fenomena ini bukan sekadar tren fandom, tetapi cermin cara algoritma menjual rasa “dekat” sebagai pengalaman.

Di artikel Alifa Fajri Azhiema, parasosial relationship dijelaskan sebagai perasaan dekat pada figur publik tanpa hubungan timbal balik. Remaja menjadi kelompok yang rentan karena media sosial meleburkan batas antara hiburan, pertemanan, dan identitas diri.

Dulu, idola hadir lewat televisi dan majalah dengan jarak yang jelas. Kini, idola hadir di saku, menyapa lewat notifikasi, dan tampak “sehari-hari” lewat konten yang sengaja dibuat terasa intim.

Riset Lidwina Mutia Sadasri (UGM) dalam Jurnal Studi Pemuda (2021) menyorot aplikasi penggemar seperti Weverse dan Bubble yang memfasilitasi kedekatan semu. Fitur pesan, pembaruan aktivitas, dan akses eksklusif membuat penggemar merasa berada di lingkar terdekat idola, padahal relasinya tidak seimbang.

Ketimpangan itu adalah inti parasosial relationship: satu pihak memberi perhatian intens, pihak lain memberi “isyarat kedekatan” yang bisa diproduksi massal. Dalam logika platform, kedekatan menjadi komoditas, dan perhatian penggemar menjadi mata uang.

Artikel juga menyebut penelitian tentang remaja penggemar K-Pop yang menemukan hubungan positif signifikan antara parasosial relationship dan kesepian, dengan sampel 207 responden. Temuan ini penting, tetapi perlu dibaca hati-hati karena korelasi tidak otomatis berarti sebab-akibat.

Artinya, parasosial relationship bisa menjadi pelarian dari kesepian, atau justru kesepian membuat seseorang lebih mudah membangun ikatan parasosial. Dua arah ini sama-sama masuk akal, dan keduanya menegaskan bahwa konteks psikologis penggemar tidak bisa diabaikan.

Penelitian lain dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya pada 109 mahasiswa membahas kaitan parasosial relationship dengan self-esteem. Kesimpulannya, hubungan ini harus dipahami bersama faktor lain, sehingga tidak adil menggeneralisasi semua penggemar sebagai pribadi dengan kepercayaan diri rendah.

Namun, ada pola yang kerap muncul di ruang digital: ketika idola tersandung skandal, sebagian penggemar ikut runtuh seolah masalah itu milik pribadi. Emosi penggemar menjadi “terikat jadwal” pada kabar idola, bukan pada ritme hidupnya sendiri.

Di titik ini, algoritma memperparah keadaan karena terus menyodorkan konten serupa. Pengguna yang sekali terpicu akan menerima lebih banyak potongan kehidupan idola, sehingga keterikatan terasa wajar, padahal itu hasil pengulangan yang sistematis.

Parasosial relationship bukan sekadar “mengidolakan berlebihan”, melainkan produk desain platform yang memaksimalkan durasi tatap layar. Media sosial membangun ilusi akses, seolah penggemar berhak tahu detail privat, padahal yang terjadi adalah konsumsi konten yang dibungkus keintiman.

Di sinilah batas etis menjadi kabur: penggemar merasa memiliki, sementara figur publik terpaksa mempertahankan persona yang selalu hadir. Ketika idola tidak merespons, sebagian penggemar menganggapnya pengkhianatan, bukan kenyataan bahwa relasi itu memang tidak setara.

Meski begitu, artikel dengan tepat mengingatkan bahwa parasosial relationship tidak selalu buruk. Banyak penggemar mendapat motivasi belajar, semangat berlatih, atau keberanian berkarya karena meneladani proses idola, dan itu bisa menjadi energi positif.

Masalah muncul ketika dukungan berubah menjadi kontrol, dan apresiasi berubah menjadi tuntutan. Patokannya sederhana: apakah idola memperkaya hidup kita, atau justru menggantikan hidup kita.

Kompas.com dalam artikel “Mengidolakan Berlebih, Bisa Jadi Tanda Hubungan Parasosial” menekankan pentingnya batas. Batas itu bukan berarti berhenti mengagumi, melainkan mengembalikan kendali agar penggemar tetap hadir untuk relasi nyata di sekitarnya.

Parasosial relationship di media sosial akan terus tumbuh karena ia selaras dengan ekonomi perhatian. Selama platform menjual rasa dekat, penggemar akan terus diuji untuk membedakan kedekatan yang nyata dan kedekatan yang diproduksi.

Mengidolakan boleh, terinspirasi sah, dan bergabung komunitas bisa menyehatkan. Tetapi ketika notifikasi idola lebih menentukan suasana hati daripada keluarga dan teman, mungkin saatnya kita berhenti sejenak dan bertanya: siapa yang sebenarnya mengendalikan perhatian kita.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Oktober 2026)