Self-care Aktivis dan Keadilan Sosial: Strategi Wellness Berkelanjutan
ORBITINDONESIA.COM – Self-care aktivis kembali jadi sorotan setelah Anana Johari Harris Parris menegaskan bahwa merawat diri adalah bagian dari keadilan sosial dan strategi wellness berkelanjutan. Di Wake Up With Dee Morning Show, ia mengaku baru “tersadar” ketika pengalaman persalinan yang sulit memaksanya memindahkan keterampilan perencanaan strategis ke tubuh dan pikirannya sendiri.
Di banyak gerakan sosial, pengorbanan diri sering dipuji sebagai standar moral. Akibatnya, kelelahan, trauma sekunder, dan kerja tanpa batas dianggap risiko yang “wajar” bagi para pejuang.
Anana melihat paradoks itu dari dekat di lingkungan berpaparan tinggi, mulai dari advokat kekerasan domestik hingga pembela publik. Ia menyebut banyak pemimpin bisa mengorganisir massa, tetapi gagap ketika harus mengorganisir kebutuhan dasarnya sendiri.
Dalam bukunya pada 2016, Self Care Matters: A Revolutionary's Approach, ia menolak gagasan self-care sebagai kemewahan. Ia memosisikannya sebagai infrastruktur gerakan agar perjuangan tidak habis di tengah jalan.
Di studio, Anana menyampaikan kalimat yang tajam: “I could lead a march… but I was never strategic… to my own wellness and self-care.” Pernyataan itu mengungkap masalah operasional yang sering luput, yakni strategi organisasi tidak otomatis melindungi manusia di dalamnya.
Pekerja garis depan di sektor hukum dan layanan sosial bekerja dalam ritme krisis yang berulang. Ketika sistem tidak didesain untuk pemulihan, individu dipaksa menambal kebocoran dengan “ketangguhan” personal yang akhirnya rapuh.
Di sinilah ia menawarkan Life AlignmentOS™ dan program Blind Spot Challenge melalui YourAlignmentOS.com. Intinya sederhana, mengukur jarak antara kebutuhan nyata untuk sehat secara personal-profesional dan kebiasaan yang benar-benar dijalankan.
Anana juga menyinggung keyakinan yang paling menghambat: merasa harus mampu melakukan semuanya sendiri. “Thinking you can do it all on your own is one of the most challenging belief systems,” katanya, karena isolasi membuat bantuan terasa seperti kelemahan.
Ia mendorong orang “mendapat PhD tentang diri sendiri,” yakni mengaudit pola energi, batas, dan pemicu stres dengan keberanian yang sama seperti saat membela komunitas. “Don't be selective with your courage,” ujarnya, agar keberanian tidak hanya dipakai untuk orang lain.
Kerja Anana tidak berhenti di level individu karena ia masuk ke struktur. Ia kini menjadi konsultan perencanaan strategis untuk National Association for Public Defense (NAPD), membantu kantor pembela publik merestruktur sistem agar lebih menopang pengacara, pekerja sosial, dan staf.
Langkah ini penting karena burnout bukan sekadar masalah motivasi, melainkan desain kerja. Ketika beban kasus, ritme darurat, dan kultur “selalu siap” tidak ditata ulang, program self-care mudah berubah menjadi slogan yang menyalahkan korban.
Ia juga menekankan praktik yang membumi, dari perencanaan terstruktur hingga yoga dan gerak seperti salsa. Pesannya konsisten, keluar dari autopilot dan membangun “wellness infrastructure” yang bisa bertahan lama.
Gagasan self-care sebagai keadilan sosial terdengar provokatif, tetapi justru mengoreksi bias lama dalam aktivisme. Gerakan sering menuntut ketahanan, namun jarang mengalokasikan waktu, anggaran, dan kebijakan untuk pemulihan.
Di titik ini, pendekatan Anana terasa lebih “strategis” daripada sekadar inspiratif. Ia memaksa kita mengakui bahwa keberlanjutan perjuangan adalah persoalan manajemen risiko, sama seperti di organisasi bisnis.
Namun ada catatan kritis yang perlu dijaga, yakni jangan sampai self-care menjadi komoditas yang mahal dan eksklusif. Jika aksesnya bergantung pada kelas sosial, maka narasi “revolusioner” bisa berubah menjadi privilese yang dibungkus bahasa moral.
Karena itu, nilai terbesar dari kerangka Anana adalah dorongan untuk mengubah sistem, bukan hanya rutinitas individu. Ketika kantor, lembaga, dan gerakan merancang batas kerja yang manusiawi, self-care tidak lagi menjadi tugas tambahan yang melelahkan.
Wawancara ini mengingatkan bahwa tubuh dan pikiran adalah “alat kerja” paling dasar dalam perjuangan sosial. Jika alat itu rusak, idealisme setinggi apa pun akan berhenti di ruang gawat darurat atau depresi yang sunyi.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi menohok, apakah kita berani memberi diri sendiri keberanian yang sama seperti saat membela orang lain. Mungkin revolusi paling awal adalah berhenti menganggap kelelahan sebagai lencana kehormatan. (Orbit dari berbagai sumber, 1 Oktober 2026)