Serangan AS-Iran dan Selat Hormuz: Blokade Picu Krisis Minyak

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan AS ke Iran kembali meningkat, sementara Selat Hormuz menjadi pusat pertarungan yang mengerek harga minyak dan mengguncang stabilitas Teluk. Iran membalas dengan rudal dan drone ke Bahrain serta Kuwait, menandai eskalasi yang mengikis “kesepakatan sementara” penghentian perang Iran. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Amerika Serikat meningkatkan serangan ke Iran pada Kamis dini hari, dengan target bergerak lebih ke utara dan mendekati Teheran. Pada saat yang sama, AS menembaki sebuah kapal yang dituduh mencoba menerobos blokade laut terhadap Republik Islam itu. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Iran membalas sebelum fajar dengan tembakan rudal dan drone yang menyasar Bahrain dan Kuwait. Rangkaian serangan timbal-balik selama beberapa hari di Timur Tengah, ditambah ancaman baru terhadap Selat Hormuz, membuat kesepakatan interim kian rapuh. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Pejabat Iran menyebut serangan AS telah menewaskan lebih dari 35 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Serangan juga dilaporkan mencapai area sekitar Teheran untuk pertama kalinya dalam gelombang kekerasan terbaru ini. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Ketika AS dan Israel meluncurkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran pada praktiknya menutup Selat Hormuz bagi pelayaran. Langkah itu mendorong harga minyak, pupuk, dan banyak komoditas lain melonjak, sekaligus memberi Iran daya tawar besar dalam negosiasi. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Harga yang melonjak kini menjadi beban politik bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilu Kongres pada November. Washington kesulitan membuka kembali jalur pelayaran, sehingga Trump kembali memberlakukan blokade laut pada Rabu. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Qalibaf, menyatakan Iran siap menghadapi konfrontasi militer lebih luas bila AS tidak mematuhi syarat kesepakatan interim. Garda Revolusi bahkan mengancam menghentikan seluruh ekspor energi dari Timur Tengah sebagai respons atas blokade. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

“Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan berlaku untuk semua orang atau tidak untuk siapa pun,” bunyi pernyataan Garda Revolusi. Kalimat itu adalah sinyal bahwa Iran ingin mengubah konflik militer menjadi tekanan ekonomi global. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Trump kembali bersikeras Iran siap membuat kesepakatan damai, tetapi ia tidak merinci bentuknya. Ia berkata, “Mereka tidak suka apa yang kami lakukan, dan mereka memang ingin menyelesaikan,” lalu menambahkan opsi “menuntaskannya” bila perundingan gagal. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Trump juga menulis di media sosial bahwa Teheran menunjukkan itikad baik dengan membebaskan warga AS yang ditahan keliru sejak 2024. Pengacara HAM Jared Genser mengidentifikasi tahanan itu sebagai kliennya, Dena Karari, warga AS-Iran yang memimpin sebuah organisasi nirlaba dan didakwa spionase. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Iran tidak segera mengakui pembebasan tersebut, dan kasusnya sebelumnya tidak diketahui publik. Pola ini bukan hal baru, karena penahanan di Republik Islam kerap terjadi tanpa sorotan luas sampai fase negosiasi tertentu. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS pada Kamis dini hari menghantam sekitar Teheran. Serangan juga disebut menyasar Provinsi Semnan, yang menjadi rumah produksi rudal balistik dan program antariksa Iran. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Pada Rabu, AS kembali menyerang Iran pada siang hari, menandakan tempo operasi yang meningkat. Komando Pusat AS menyatakan serangan ke Pulau Greater Tunb, titik strategis di Selat Hormuz, menargetkan pertahanan Iran dan situs rudal. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Militer AS juga mengaku menembaki kapal tanker minyak berbendera Curacao, Belma, yang berlayar menuju Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran di Teluk Persia. Setelah kapal “mengabaikan banyak peringatan,” sebuah pesawat AS melumpuhkan kapal dengan menembakkan rudal ke cerobong asapnya. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Serangan lain pada Rabu menargetkan barak Brigade Infanteri Mekanis ke-388 Iran di Provinsi Sistan dan Baluchestan, menurut televisi pemerintah Iran. Laporan itu menyebut setidaknya 13 rudal ditembakkan, dengan tujuh korban tewas termasuk wajib militer dan prajurit karier, serta sejumlah personel luka-luka. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Selat Hormuz tetap menjadi inti pertarungan karena ia adalah simpul logistik energi dunia. Selama kesepakatan interim, sebagian kapal sempat melintas lewat rute dekat Oman yang diawasi militer AS dan berada di luar kontrol Teheran. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Namun dalam beberapa hari terakhir, Iran menyerang kapal-kapal yang menggunakan rute tersebut, memicu rangkaian balasan. AS mengancam membuka selat dengan kekuatan, tetapi para ahli menilai itu bisa memerlukan armada jauh lebih besar, bahkan puluhan ribu pasukan darat. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Blokade menjadi cara lain untuk menekan Iran tanpa langsung menginvasi, tetapi risikonya adalah eskalasi yang tak terkendali. Sementara itu harga minyak terus bergerak naik, dengan Brent diperdagangkan di atas 85 dolar AS per barel pada Kamis, lebih dari 15% lebih tinggi dibanding sebelum perang. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Meski begitu, harga tersebut masih di bawah puncak hampir 120 dolar AS saat konflik mencapai titik tertinggi. Data ini menunjukkan pasar belum sepenuhnya panik, tetapi juga tidak lagi percaya bahwa “kesepakatan sementara” mampu menahan perang. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Blokade Selat Hormuz adalah pesan bahwa AS ingin mengendalikan jalur napas ekonomi Iran tanpa menanggung biaya politik invasi besar-besaran. Namun setiap kapal yang ditembak atau dilumpuhkan mempersempit ruang diplomasi, karena simbolnya lebih keras daripada pernyataan damai. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Iran, pada sisi lain, memanfaatkan Hormuz sebagai tuas negosiasi yang paling efektif, karena dampaknya langsung terasa di dompet negara-negara jauh dari Teluk. Ancaman “untuk semua atau tidak untuk siapa pun” mengubah konflik menjadi ujian solidaritas global, terutama bagi negara importir energi. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Di Washington, tekanan harga minyak bertemu kalender politik, dan itu membuat keputusan militer sulit dipisahkan dari kebutuhan domestik. Di Teheran, korban dan serangan dekat ibu kota memperbesar tuntutan pembalasan, sehingga pemimpin sulit terlihat “lunak” di meja perundingan. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Pembebasan tahanan AS bisa dibaca sebagai sinyal kanal belakang masih hidup, tetapi juga bisa menjadi transaksi kecil untuk membeli waktu. Jika serangan terus meluas ke fasilitas rudal dan wilayah sekitar Teheran, maka insentif untuk kompromi akan kalah oleh logika deterrence dan gengsi. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Pertanyaan paling tajamnya bukan siapa yang “menang” hari ini, melainkan siapa yang sanggup menghentikan spiral eskalasi tanpa kehilangan muka. Dalam perang modern, kemenangan tak hanya dihitung dari target yang hancur, tetapi dari kemampuan menjaga jalur perdagangan tetap bernapas. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Serangan AS-Iran yang kian intens dan blokade Selat Hormuz memperlihatkan betapa rapuhnya jeda perang yang dibangun di atas ancaman. Selama jalur minyak menjadi medan tempur, setiap rudal bukan hanya pesan militer, tetapi juga pemicu inflasi dan ketidakpastian global. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)

Pada akhirnya, dunia sedang menyaksikan apakah diplomasi masih punya ruang ketika kapal dagang ikut menjadi sasaran. Jika “untuk semua atau tidak untuk siapa pun” menjadi prinsip baru, maka pertanyaan yang tersisa adalah: siapa yang berani mengembalikan Hormuz menjadi jalur dagang, bukan garis depan perang. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)