Crazy Taxi World Tour 2027: Remake Sega dan Nostalgia Soundtrack

Engadget

Engadget

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Crazy Taxi World Tour menjadi kunci strategi Sega menghidupkan kembali franchise legendaris untuk generasi baru, lengkap dengan tampilan widescreen dan nuansa open world. Kenji Kanno, kreator Crazy Taxi orisinal, kembali sebagai produser kreatif, dan Sega menargetkan rilis pada 2027.

Terjemahan artikel: Crazy Taxi kembali sebagai bagian dari dorongan Sega untuk membawa hit terbesar dan waralabanya ke generasi gamer baru—disegarkan, dibuat ulang, dan disajikan dalam layar lebar. Proyek ini juga menyasar superfans, dengan soundtrack yang diambil langsung dari era 1999.

Kenji Kanno, pencipta Crazy Taxi versi asli, bekerja sebagai produser kreatif World Tour dan antusias melihat reaksi orang-orang saat ia melaju di jalan curam, berbelok di alun-alun, bahkan menerobos ke laut, semuanya dengan taksi kuning ikonik. Pengalaman inti tidak berubah: Anda tetap menjemput dan mengantar penumpang, berusaha menuntaskan perjalanan dengan cara paling “liar” demi skor tertinggi.

Dalam demo tanpa dimainkan langsung, World Tour terlihat lebih hidup dan terbuka. Pejalan kaki ada hampir di mana-mana, lalu lintas padat, dan semuanya sengaja membuat pekerjaan menyetir taksi makin sulit.

Untungnya, kendaraan lain terasa “mengambang” ala arcade, sehingga taksi Anda bisa mendorong mereka keluar jalan dengan relatif mudah. Tiap wilayah berkendara juga punya versi malam hari, dan Kanno tampak sangat puas dengan hasilnya.

Kanno menambahkan, World Tour akan memiliki mode cerita selain misi dan berkendara bebas di dunia terbuka. Crazy Taxi yang dulu—game arcade balap solo—memang butuh lebih banyak aktivitas agar sepadan dengan game kontemporer.

Di luar berkendara bebas, misi dan distraksi seperti time attack dan balapan satu lawan satu dapat ditemukan secara organik. Ada juga misi spesial yang lebih “gila” agar game ini benar-benar sesuai namanya.

Salah satu misi yang diperlihatkan adalah mengantarkan setumpuk 20 pizza ke lokasi tertentu sambil memastikan tidak banyak yang jatuh. Saat mobil meluncur dari tanjakan dan melompat, tumpukan pizza bergerak seperti kartun Looney Tunes, seolah menantang gravitasi lalu tersusun rapi kembali.

Ditampilkan pula misi memancing yang aneh, ketika Anda memakai momentum taksi untuk melempar kail ke laut. Untuk menarik hasil tangkapan, Anda harus melakukan back dash, dan jika berhasil Anda bisa mendapat ikan buntal, hiu, atau bahkan roda kemudi kapal bajak laut.

Dengan cerdas, mini game memancing ini sebenarnya tutorial terselubung untuk back dash. Harapannya, tim pengembang memasukkan lebih banyak tugas “edan” seperti ini ke versi final, karena mengingatkan pada side quest seri Yakuza—dalam arti yang baik.

Ada opsi “off the clock” untuk keluar dari aktivitas spontan kapan saja dan kembali berkendara tanpa gangguan. Namun beberapa aktivitas, seperti tantangan kecepatan time-attack, terasa sangat singkat.

Game ini nyaris mustahil disebut Crazy Taxi tanpa soundtrack kapsul waktunya, karena versi PS3 dan Xbox 360 dulu kehilangan banyak lisensi musik dan dampaknya terasa. Kanno meminta pemain “tetap berekspektasi tinggi” soal artis yang sedang diupayakan Sega, dan demo menampilkan “All I Want” dari The Offspring.

Belum ada tanggal rilis pasti, tetapi Sega menyatakan game ini meluncur pada 2027. Itu menempatkan proyek ini sebagai taruhan jangka menengah dalam agenda kebangkitan IP klasik Sega.

Crazy Taxi World Tour menegaskan tren industri: nostalgia bukan lagi sekadar remaster, melainkan rekonstruksi pengalaman yang disesuaikan dengan standar modern. Sega tidak hanya menjual memori, tetapi juga mencoba mengubah struktur permainan lama agar relevan di era open world dan konten berlapis.

Keputusan menambah mode cerita adalah sinyal bahwa format arcade “datang-main-selesai” makin sulit bersaing. Game modern menuntut progres, variasi misi, dan alasan untuk kembali, bukan sekadar mengejar skor.

Namun, tantangannya adalah menjaga identitas Crazy Taxi yang serba cepat dan absurd. Jika peta terlalu besar atau misi terlalu repetitif, sensasi “kacau tapi terarah” bisa berubah menjadi rutinitas yang melelahkan.

Desain misi pizza dan memancing menunjukkan arah yang menjanjikan: tutorial dikamuflasekan sebagai komedi fisik. Ini pendekatan yang efektif, karena pemain belajar mekanik tanpa merasa digurui.

Fitur “off the clock” juga penting untuk ritme permainan. Dunia terbuka sering gagal karena memaksa pemain berhenti terlalu sering, sementara Crazy Taxi hidup dari momentum dan aliran kecepatan.

Soundtrack menjadi isu yang lebih serius daripada sekadar pelengkap. Pengalaman PS3 dan Xbox 360 yang kehilangan lisensi membuktikan bahwa musik adalah bagian dari identitas merek, dan tanpa itu, nostalgia terasa “kosong”.

Kutipan Kanno agar publik “keep [your] expectations high” adalah janji sekaligus risiko. Jika lisensi tak terpenuhi, reaksi penggemar bisa keras, karena soundtrack era 1999 adalah penanda emosional yang sulit digantikan.

Target rilis 2027 memberi ruang produksi yang panjang, tetapi juga memperbesar ekspektasi. Di tengah gelombang remake, publik menuntut pembaruan nyata, bukan sekadar polesan visual.

Sega tampak memahami bahwa menghidupkan Crazy Taxi bukan hanya soal mengulang masa lalu, tetapi mengkurasi ulang “kegilaan” agar terasa segar. Kembalinya Kenji Kanno memberi legitimasi kreatif, meski tetap tidak menjamin hasil akhir akan setajam memori pemain.

Saya melihat World Tour berpotensi sukses jika ia berani menjaga kesederhanaan tujuan: antar penumpang secepat dan segila mungkin. Dunia terbuka seharusnya menjadi panggung, bukan beban, dan misi-misi aneh harus memperkaya, bukan mengalihkan.

Yang paling menentukan justru konsistensi desain: aktivitas singkat boleh ada, tetapi harus meninggalkan efek “ingin coba lagi”. Jika Sega gagal menyeimbangkan nostalgia dan kebutuhan konten modern, World Tour bisa terjebak menjadi produk fan service yang cepat basi.

Crazy Taxi World Tour menunjukkan bahwa kebangkitan franchise klasik adalah pekerjaan editorial: memilih apa yang dipertahankan dan apa yang harus ditulis ulang. Sega sudah memberi sinyal yang benar—widescreen, open world, mode cerita, serta janji soundtrack yang ikonik.

Pertanyaannya, apakah “kegilaan” Crazy Taxi bisa tetap spontan di tengah struktur game modern yang serba sistematis. Jika jawabannya ya, 2027 bisa menjadi momen ketika nostalgia bukan sekadar kenangan, melainkan energi baru yang hidup kembali. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)