S&P 500 Rekor, Saham Teknologi AI Menantang Risiko Iran
ORBITINDONESIA.COM – S&P 500 mencetak rekor penutupan baru di 7.609,78 ketika pasar saham AS memilih percaya pada reli saham teknologi dan euforia AI, meski ketegangan AS-Iran kembali mengeras. Di hari yang sama, minyak WTI naik ke US$93,76 per barel, sementara investor menimbang apakah “stabil” yang terlihat ini hanya jeda sebelum gejolak berikutnya.
S&P 500 naik 0,13% dan menutup di atas level 7.600 untuk pertama kalinya, sementara Dow Jones melonjak 0,45% ke 51.307,79 dan Nasdaq naik tipis 0,03% ke 27.093,90. Rekor ini terjadi saat pelaku pasar memantau perkembangan terbaru AS-Iran dan pergerakan saham-saham teknologi besar.
Namun, tidak semua raksasa teknologi menguat. Alphabet justru menekan indeks setelah sahamnya turun hampir 4% karena perusahaan menyatakan akan menghimpun US$80 miliar dari penjualan saham untuk membiayai ekspansi kecerdasan buatan, termasuk investasi US$10 miliar dari Berkshire Hathaway.
Di sisi lain, sektor semikonduktor menjadi penyangga utama. Marvell Technology melesat 32% setelah CEO Nvidia Jensen Huang menyebut perusahaan itu berpotensi menjadi “perusahaan triliun dolar berikutnya,” dan Philadelphia Semiconductor Index melonjak hampir 6%.
Hewlett Packard Enterprise juga menjadi bintang, naik lebih dari 19% setelah memberikan proyeksi kuartal yang cerah dan menaikkan panduan setahun penuh. Perusahaan menyebut hasil kuartal keduanya sebagai kejutan laba terbesar sejak 2018.
Di luar bursa, harga minyak kembali naik dan memperbesar bayangan inflasi. WTI naik 1,74% ke US$93,76 dan Brent menutup di US$96, dipicu laporan media Iran tentang penghentian pertukaran pesan dengan AS melalui perantara serta ancaman pemblokiran Selat Hormuz.
Iran juga menyatakan “tidak akan ada dialog” sampai Israel menghentikan serangan di Lebanon dan Gaza serta menarik diri dari wilayah pendudukan di Lebanon. Presiden Donald Trump merespons dengan mengatakan ia “tidak peduli” jika negosiasi damai berakhir, tetapi kemudian menulis bahwa pembicaraan “berlanjut dengan cepat.”
Reli terbaru memperlihatkan pasar saham AS sedang digerakkan oleh dua mesin yang berlawanan arah. Mesin pertama adalah optimisme AI yang mendorong saham semikonduktor, komputasi awan, dan infrastruktur data center, sementara mesin kedua adalah risiko geopolitik yang mendorong minyak dan berpotensi memicu inflasi.
Pernyataan Jensen Huang menyorot logika teknis di balik euforia itu, yakni kebutuhan konektivitas saat komputasi “dipecah” dan didistribusikan di seluruh pusat data. Ia berkata, “Itulah alasan mengapa Marvell begitu penting,” dan pasar langsung menerjemahkannya menjadi lonjakan valuasi.
Di sisi ekuitas, sinyalnya jelas bahwa pasar menghargai “narasi AI” lebih daripada “biaya modal” untuk sementara waktu. Bahkan ketika Alphabet mengumumkan rencana pendanaan besar US$80 miliar, penurunan sahamnya tidak meruntuhkan indeks karena saham chip dan infrastruktur menutup lubang tersebut.
Namun, pembiayaan masif lewat penerbitan saham juga mengingatkan investor pada konsekuensi dilusi dan disiplin belanja modal. Pasar tampak berkata, AI memang mahal, tetapi yang lebih mahal adalah tertinggal dari perlombaan.
Kekuatan HPE menambah bukti bahwa pemenang AI tidak selalu hanya pembuat chip. HPE mencatat lonjakan saham setelah mengalahkan estimasi Wall Street dan menaikkan panduan, bahkan data Vanda menunjukkan investor ritel membeli saham HPE pada Jumat dan Senin sebanyak gabungan 11 bulan sebelumnya.
Di sisi risiko makro, lonjakan minyak dapat menghidupkan kembali pertanyaan tentang suku bunga. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan jika inflasi tidak segera melandai, dan ia menyorot risiko ekspektasi inflasi naik bila lonjakan energi berlanjut.
Efek samping dari boom AI juga mulai terlihat pada rantai pasok, bukan hanya pada harga saham. GoPro menyatakan kenaikan biaya memori “tak pernah terjadi sebelumnya,” dengan lonjakan 80% hingga 115% pada pekan terakhir Maret, dan mengisyaratkan risiko tidak mampu memenuhi covenant keuangan.
Di pasar kripto, sentimen risk-on tidak merata. Bitcoin turun di bawah US$70.000 ke sekitar US$67.692 setelah Strategy menjual sebagian kecil kepemilikan bitcoin untuk pertama kalinya sejak 2022, memicu likuidasi posisi long sekitar US$594 juta dalam 24 jam menurut CoinGlass.
Rekor S&P 500 saat ketegangan AS-Iran memanas menunjukkan satu hal yang sering terjadi di puncak siklus: pasar lebih percaya pada cerita pertumbuhan daripada peringatan risiko. David Krakauer dari Mercer Advisors menyebut pasar “bertahan,” tetapi ia juga mengingatkan investor soal bahaya menjadi “terlalu terkonsentrasi” pada segelintir saham teknologi.
Konsentrasi ini bukan sekadar isu portofolio, melainkan isu stabilitas narasi. Jika reli ditopang oleh sedikit nama besar, maka satu retakan kecil—dari dilusi pendanaan, kekecewaan guidance, atau gangguan pasokan—bisa terasa seperti gempa bagi indeks yang tampak sehat.
Ancaman pemblokiran Selat Hormuz, jika benar terjadi, adalah risiko yang tidak bisa “di-hedge” hanya dengan optimisme AI. Energi adalah input universal, dan ketika biaya energi naik, perusahaan yang tidak punya pricing power akan tertekan, sementara bank sentral bisa terdorong lebih hawkish.
Di titik ini, pasar seperti memilih untuk menunda kecemasan. Tetapi penundaan bukan berarti pembatalan, dan sejarah menunjukkan bahwa kombinasi valuasi tinggi, minyak mahal, serta ketidakpastian geopolitik jarang berakhir tanpa volatilitas.
Hari ini, rekor S&P 500 adalah potret kepercayaan bahwa AI akan tetap menjadi mesin pertumbuhan utama, bahkan ketika minyak naik dan diplomasi AS-Iran memburuk. Namun, pasar yang “baik-baik saja” sering kali adalah pasar yang sedang menumpuk risiko secara diam-diam.
Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengubah ekonomi, melainkan siapa yang menanggung biaya transisinya ketika energi mahal dan suku bunga berpotensi naik lagi. Pada akhirnya, investor perlu bertanya pada diri sendiri: apakah portofolio kita dibangun untuk masa depan, atau hanya untuk mengejar cerita yang sedang paling keras terdengar. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)