Israel Intensifkan Serangan Hezbollah di Lebanon, Nabatieh Dievakuasi

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Israel intensifkan serangan Hezbollah di Lebanon pada Selasa, menarget lebih dari 100 lokasi dan memperingatkan evakuasi seluruh kota Nabatieh. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut ia memerintahkan militer untuk “meningkatkan pukulan” terhadap kelompok yang didukung Iran itu. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Israel menyatakan semalam menghantam lebih dari 100 situs Hezbollah di Lebanon selatan dan timur, termasuk gudang senjata dan pusat komando. Peringatan evakuasi untuk Nabatieh, salah satu kota terbesar di Lebanon selatan, menandai serangan udara dinilai segera terjadi. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Di Mashghara, Lembah Bekaa, serangan semalam menewaskan sedikitnya 11 orang termasuk dua anak, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Militer Israel merujuk pernyataan sebelumnya bahwa targetnya adalah “situs infrastruktur Hezbollah.” (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Netanyahu menyatakan “kami berperang dengan Hezbollah” dan memerintahkan pasukan “menekan pedal lebih dalam.” Dua pejabat militer Israel mengatakan pasukan kini beroperasi melampaui “garis pertahanan depan,” beberapa mil masuk wilayah Lebanon selatan yang diduduki sejak invasi pada konflik terbaru. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Perang pecah pada Maret, setelah ofensif AS-Israel terhadap Iran dimulai, ketika Hezbollah menembakkan roket lintas perbatasan untuk mendukung Teheran. Gencatan senjata yang dimediasi AS berlaku pada April, namun serangan balasan terus terjadi dan kedua pihak saling menuding pelanggaran. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Peningkatan serangan ini terjadi saat Presiden Trump dan pejabat Iran memberi sinyal kemajuan menuju kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran. Tiga pejabat senior Iran mengatakan kepada The New York Times bahwa kesepakatan itu juga akan menghentikan pertempuran di semua front, termasuk Lebanon, namun detailnya masih kabur. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Di sisi lain, Netanyahu justru menegaskan kembali “hak Israel membela diri terhadap ancaman di setiap front, termasuk Lebanon” dalam panggilan akhir pekan dengan Trump. Pernyataan itu memberi pesan bahwa Israel ingin ruang manuver militer tetap terbuka, bahkan jika diplomasi AS-Iran bergerak maju. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Hezbollah pada Selasa mengklaim meluncurkan serangan drone dan roket ke pasukan Israel di Lebanon selatan. Kelompok itu makin mengandalkan drone fiber-optic berbiaya rendah yang sulit dijamming, dan ini membuka kerentanan Israel meski sudah berminggu-minggu melakukan serangan udara serta operasi darat. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Secara taktis, peringatan evakuasi Nabatieh mengindikasikan pola operasi yang menggabungkan tekanan psikologis dan penghancuran infrastruktur militer yang dituduh terkait Hezbollah. Namun, eskalasi semacam ini juga memperbesar risiko korban sipil, memperdalam kebencian lokal, dan memperluas basis legitimasi sosial Hezbollah di wilayah yang terdampak. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Tekanan politik domestik di Israel turut membentuk arah operasi. Netanyahu menghadapi desakan kelompok garis keras untuk memperluas kampanye, termasuk melanjutkan serangan ke Beirut dan pinggiran selatannya, yang berpotensi merobek gencatan senjata yang sudah rapuh. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Di Washington, perwakilan Israel dan Lebanon menjalani pembicaraan langsung yang jarang terjadi untuk merancang penyelesaian jangka panjang. Isu kunci adalah pelucutan senjata Hezbollah, yang dituntut Israel, namun ditolak Hezbollah untuk dibahas sebelum Israel menghentikan serangan dan menarik pasukan dari wilayah Lebanon. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Pertemuan pejabat militer kedua negara dijadwalkan di Pentagon pada Jumat di bawah pengawasan AS, disusul putaran politik pekan depan. Tetapi Hezbollah bukan pihak dalam pembicaraan dan menolak negosiasi langsung, sehingga jalur diplomasi berisiko tidak menyentuh aktor utama di medan tempur. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Keyword “Israel intensifkan serangan Hezbollah di Lebanon” bukan sekadar judul, melainkan sinyal bahwa perang ini bergerak di dua rel yang saling bertabrakan. Rel pertama adalah diplomasi AS-Iran yang menjanjikan de-eskalasi regional, sementara rel kedua adalah logika pencegahan Israel yang cenderung memperlebar operasi ketika merasa terancam. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Netanyahu tampak memanfaatkan momen negosiasi untuk menegaskan bahwa Israel tidak akan “terikat” oleh kesepakatan yang tidak mengunci Hezbollah. Ini bisa dibaca sebagai upaya mengubah fakta di lapangan, agar setiap perjanjian nanti dimulai dari posisi tawar militer yang lebih tinggi. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Namun, strategi “meningkatkan pukulan” punya efek samping yang sering diabaikan. Serangan besar yang memicu evakuasi kota dapat memperkuat narasi perlawanan Hezbollah, sekaligus menciptakan lingkaran balas dendam yang menormalisasi perang sebagai rutinitas. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Kerentanan Israel terhadap drone fiber-optic juga memperlihatkan paradoks perang modern. Teknologi murah yang sulit dijamming dapat menetralkan sebagian keunggulan militer mahal, dan memaksa pihak yang lebih kuat untuk terus menaikkan intensitas demi mengejar hasil yang sama. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Di sisi Lebanon, tuntutan pelucutan senjata Hezbollah tanpa peta jalan politik yang kredibel nyaris mustahil diterima. Selama ada pendudukan, serangan lintas batas, dan ketidakpastian keamanan, senjata akan selalu diposisikan sebagai “asuransi” oleh sebagian pihak, meski biayanya dibayar warga sipil. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Eskalasi Israel di Lebanon, evakuasi Nabatieh, dan serangan balasan Hezbollah menunjukkan bahwa gencatan senjata April lebih mirip jeda rapuh daripada solusi. Diplomasi Washington bisa menghasilkan pertemuan dan jadwal, tetapi tanpa keterlibatan aktor bersenjata di lapangan, perdamaian mudah berubah menjadi dokumen kosong. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa yang menang hari ini, melainkan siapa yang menanggung luka jangka panjangnya. Jika setiap “pukulan” dibalas dengan inovasi senjata murah dan kemarahan baru, maka kawasan ini akan terus terjebak dalam perang yang selalu menemukan alasan untuk berlanjut. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)