Investasi SpaceX James Murdoch: Cuan IPO, Retak Dinasti Media
ORBITINDONESIA.COM – Investasi SpaceX James Murdoch mendadak jadi pembicaraan, setelah dokumen pengadilan mengisyaratkan taruhannya bisa berubah menjadi hingga sekitar US$7,5 miliar. Jika angka itu mendekati kenyataan, ia berpotensi meraup jauh lebih besar daripada yang ia peroleh dari warisan bisnis media keluarga Murdoch.
James Murdoch, 53 tahun, adalah putra Rupert Murdoch yang hubungannya retak dan kini nyaris tak berkomunikasi. Dalam kisah keluarga yang penuh pertarungan suksesi, James justru membangun jalur kekayaan baru lewat teknologi, bukan koran dan televisi.
Menurut catatan publik yang muncul dalam perkara pemegang saham Tesla pada 2023, James membeli tiga tranche saham SpaceX. Dua tranche masing-masing US$50 juta dibeli pada 2019 dan 2020 melalui firma investasi privat yang diyakini terkait Lupa Systems, sementara US$20 juta dibeli sebagai investasi pribadi pada 2019.
Perkiraan Pitchbook melalui analis Franco Granda menyebut gabungan kepemilikan itu kini bernilai sekitar US$6,573 miliar hingga US$7,44 miliar. Fortune melaporkan valuasi ini belum pernah diungkap secara publik sebelumnya, sementara perwakilan James Murdoch menolak berkomentar.
Konteksnya penting karena James sebelumnya sudah meraih US$2,2 miliar dari penjualan aset 21st Century Fox ke Disney senilai US$71,3 miliar pada 2019. Namun, potensi lonjakan dari SpaceX dapat membuat hasil dari “kerajaan media ayahnya” tampak kecil dalam perbandingan.
Artikel sumber menyebut SpaceX melakukan penawaran umum tahun ini dan menyebutnya sebagai IPO terbesar dalam sejarah, meski detail formal seperti S-1 yang dikutip tidak mencantumkan nama James Murdoch. S-1 itu, menurut laporan, memuat petunjuk valuasi internal lewat penghargaan saham untuk CFO Bret Johnsen yang menilai saham di angka US$4,40 dengan kedaluwarsa 2030.
Dari petunjuk angka US$4,40 itulah kalkulasi Pitchbook ditarik untuk memperkirakan nilai kepemilikan pra-IPO. Analis media Brian Wieser menilai jika pembelian terjadi di sekitar level itu pada 2020, maka pertumbuhan nilainya bisa mencapai sekitar 33 kali lipat untuk saham 2019–2020.
Namun, ada catatan kehati-hatian yang tak boleh diabaikan. James bisa saja sudah menjual sebagian sahamnya, dan SpaceX mengalami dilusi serta aksi korporasi seperti stock split lima banding satu pada Mei.
Di sisi lain, jejaring James di orbit Elon Musk sudah lama terbentuk. Ia pertama bertemu Musk pada akhir 1990-an saat Musk membangun Zip2 dan James mengurusi operasi digital News Corp, lalu kembali dekat setelah James memesan Tesla Roadster pada pertengahan 2000-an.
Relasi itu berujung pada posisi James di dewan Tesla sejak Juli 2017, dan ia juga disebut berlibur bersama keluarga Musk ke Israel, Meksiko, serta Bahama. Dalam dokumen perkara kompensasi Musk, disebut Musk kemudian menambahkan James ke board Tesla setelah berbicara dengan Kimbal Musk.
Keuntungan James dari Tesla pun nyata dalam dokumen SEC. Penjualan saham Tesla disebut telah menghasilkan US$107 juta untuk JRM Rev Trust sejak musim semi tahun lalu, dan ada pula entitas Seven Hills Trust yang menampung kepemilikan.
Tambahan lapisan spekulasi datang dari rumor pasar bahwa Tesla dapat “dilipatkan” ke SpaceX, sementara Tesla sendiri dilaporkan memiliki 19 juta saham SpaceX. Jika rumor itu kelak menemukan bentuknya, ekosistem Musk bisa makin mengunci nilai pada aset-aset privat yang sulit diakses investor ritel.
Di luar Musk, James membangun Lupa Systems di New York pada 2019 dan menempatkan modal pada portofolio yang lebar. Ia disebut membuat kesepakatan US$300 juta untuk mengakuisisi porsi besar Vox Media, serta berinvestasi pada AWA, Tribeca Enterprises, MCH Group pemilik Art Basel, hingga joint venture streaming di India melalui Bodhi Tree Systems yang didanai Comcast dan Qatar Investment Authority.
Kisah investasi SpaceX James Murdoch terasa seperti pembalikan simbolik atas perang dinasti Murdoch. Saat Rupert Murdoch pernah menantang lewat pertanyaan tajam, “Pernahkah kamu melakukan sesuatu yang sukses dengan usahamu sendiri?”, jawaban James kini tampak muncul dalam bentuk portofolio teknologi bernilai miliaran.
Namun, narasi “self-made” juga tidak sepenuhnya steril dari privilese. Akses ke jaringan, deal privat, dan kesempatan masuk ke cap table perusahaan seperti SpaceX adalah kemewahan yang jarang tersedia bagi investor biasa.
Di sinilah pelajaran besarnya bagi industri media dan publik. Kekayaan masa depan tampaknya lebih banyak terkonsentrasi pada teknologi privat berpertumbuhan tinggi, sementara bisnis media tradisional makin tertekan oleh fragmentasi perhatian dan model iklan yang melemah.
Meski demikian, ada paradoks yang mengintai: memiliki saham privat bernilai besar bukan berarti kaya secara kas. Seperti diingatkan Brian Wieser, nilai itu baru berarti jika bisa dilikuidasi, karena memegang saham tanpa bisa menjualnya dapat mengubah “windfall” menjadi sekadar angka di atas kertas.
Konflik keluarga Murdoch juga memperlihatkan sisi lain kapitalisme modern. Pertarungan bukan lagi sekadar soal kepemilikan perusahaan media, melainkan soal hak suara, trust yang “tak bisa diubah”, dan rekayasa tata kelola untuk mengendalikan narasi serta aset.
Putusan komisaris probate Nevada yang menolak perubahan trust, lalu kesepakatan yang memberi James, Liz, dan Prue masing-masing US$1,1 miliar, menunjukkan betapa mahalnya stabilitas dinasti. Kesepakatan itu juga mensyaratkan anak-anak Murdoch melepas saham mereka di News Corp dan Fox, seolah memutus tali dengan masa lalu.
Jika estimasi Pitchbook mendekati benar, investasi SpaceX James Murdoch adalah contoh bagaimana satu keputusan alokasi modal bisa mengalahkan puluhan tahun akumulasi di industri lama. Ini juga menegaskan bahwa “warisan” hari ini bisa kalah cepat dari “jaringan” dan “timing” di ekosistem teknologi.
Namun pembaca patut bertanya: apakah kekayaan baru ini benar-benar lahir dari visi, atau dari akses ke pintu privat yang tertutup bagi kebanyakan orang. Dan jika masa depan ekonomi makin ditentukan oleh perusahaan-perusahaan privat raksasa, siapa yang memastikan akuntabilitasnya saat publik hanya bisa melihat bayangannya lewat dokumen pengadilan?
(Orbit dari berbagai sumber, 21 Juli 2026)