Ekspansi College Football Playoff 24 Tim: SEC Jadi Penentu
ORBITINDONESIA.COM – Rencana ekspansi College Football Playoff (CFP) menjadi 24 tim pada 2027 kini bergantung pada satu meja: rapat musim semi SEC di Florida. Big Ten sudah ngotot 24 tim, sementara SEC—melalui komisioner Greg Sankey—lebih condong ke 16 tim dan menuntut bukti uang serta dampaknya pada musim reguler.
Pertemuan tahunan SEC di Destin, Florida, biasanya panggung basa-basi, tetapi tahun ini berubah menjadi arena tawar-menawar masa depan CFP. Pertanyaan besarnya bukan sekadar format, melainkan apakah SEC akan menolak atau menyerah pada dorongan Big Ten.
Secara praktis, hanya Big Ten dan SEC yang menentukan karena konferensi lain dulu menyerahkan kekuasaan voting kepada dua liga “raja.” Big Ten menginginkan 24 tim secepat 2027, sedangkan SEC menjadi satu-satunya penghalang yang tersisa.
Masalahnya, dukungan publik untuk menggandakan playoff belum terlihat kuat, bahkan banyak fans vokal menolak 24 tim. Namun Big 12 dan ACC tiba-tiba ikut menyatakan dukungan, setelah sebelumnya tidak, seolah terseret arus “percayalah, ini akan hebat.”
Sankey memilih bahasa yang hati-hati, tetapi garis besarnya jelas: SEC fokus 16 tim dan meminta keputusan berbasis analisis, bukan spekulasi. Ia mencontohkan liga profesional dan NCAA basket yang cenderung melakukan ekspansi bertahap, bukan lompatan besar.
Argumen utama kubu 24 tim adalah “akses” dan “harapan,” yakni lebih banyak sekolah merasa punya peluang masuk CFP. Big Ten menyebut, jika format 24 tim berlaku sejak 2014, ada 80 sekolah berbeda yang pernah lolos.
Di atas kertas, itu terdengar demokratis, dari Alabama dan Ohio State yang selalu masuk, sampai nama-nama seperti San José State, Liberty, dan Appalachian State yang sesekali kebagian. Tetapi angka partisipasi tidak otomatis berarti kualitas kompetisi naik.
Di sinilah “harapan” mudah berubah menjadi “spin,” karena 8–4 yang berakhir di Pop-Tarts Bowl nyaris sama nilainya dengan 8–4 yang berakhir kalah putaran pertama CFP. Bedanya terutama kemasan, persepsi, bonus pelatih, dan plakat “pernah playoff” di stadion.
Fakta kompetitif juga tidak ramah bagi tim lapis bawah. Dalam format 12 tim, underdog tercatat 2–6 di laga putaran pertama, dan enam kekalahannya terjadi dengan margin dua digit.
Jika tim di sepertiga bawah 12 tim saja sering tak sanggup menahan laju elit, maka tim di separuh bawah 24 tim berpotensi menjadi “figuran” yang memperpanjang kalender tanpa memperkaya drama. Kemenangan kejutan memang mungkin, tetapi probabilitasnya makin tipis saat gap talenta melebar.
Di sisi ekonomi, ekspansi dijual sebagai penenang “perlombaan senjata” biaya roster dan gaji pelatih. Namun matematika dasar FBS tidak berubah: jumlah menang dan kalah tetap sama, dan separuh tim tetap pulang dengan lebih banyak kekalahan.
Komisioner MAC Jon Steinbrecher mengingatkan konsekuensi tak diinginkan dari ekspansi 4 ke 12: tekanan pada program elite justru naik, karena gagal masuk playoff dianggap musim bencana. Ia meragukan ekspansi 12 ke 24 akan menjadi “katup pelepas” yang dijanjikan.
Distribusi “harapan” juga tidak merata, karena tetap didominasi Power 4. Proyeksi 2027 yang disebutkan: 68 tim dari enam liga berebut satu tiket (sekitar 1,5%), sementara 68 tim Power 4 plus Notre Dame berebut 23 tiket (sekitar 33,8%).
Data historisnya tajam: dari 288 slot hipotetis format 24 tim sejak 2014, sekolah non-power hanya mengisi 22 slot atau 7,6%. Dalam dua tahun awal format 12 tim, porsi non-power justru 12,5%, sehingga ekspansi bisa makin memanjakan peringkat 3–6 di liga besar.
Perdebatan terbesar berikutnya adalah nilai musim reguler, aset paling mahal dalam olahraga kampus. Contoh 2025 menunjukkan laga nonkonferensi besar menentukan nasib: Ohio State menyingkirkan Texas, Oklahoma menyingkirkan Michigan, dan Miami serta Texas A&M menyingkirkan Notre Dame dari jalur playoff.
Dalam format 24 tim, hasil-hasil itu kemungkinan tidak lagi “menggigit,” karena kekalahan tidak terlalu menghukum. Sumber ESPN bahkan meragukan klaim bahwa playoff lebih besar akan membuat tim berani menjadwalkan lawan lebih berat, karena dari 4 ke 12 justru terjadi kebalikannya.
Kalender juga jadi bom waktu, sebab format 24 tim berarti lima ronde. Untuk itu, dua hal harus “dikorbankan”: satu pekan musim panas dan, yang lebih kontroversial, laga final konferensi.
Secara bisnis, final SEC adalah mesin uang dan identitas liga, dengan estimasi pemasukan tahunan 50–100 juta dolar AS. Ratingnya pun besar, rata-rata lebih dari 16,6 juta penonton dalam dua tahun terakhir, jauh di atas rata-rata laga putaran pertama CFP yang 9,9 juta.
Big Ten mengajukan kalkulasi: 12 laga on-campus baru di format 24 tim bisa menghasilkan sekitar 72 juta dolar dari tiket, belum termasuk sponsor lokal. Tetapi banyak komisioner menilai angka itu masih “model di atas kertas,” karena nilai hak siar dan minat media belum dipaparkan utuh.
Di belakang layar, Fox terlihat berkepentingan, karena ingin masuk inventori premium Desember setelah menyesal tak ikut menawar hak CFP sebelumnya. CEO Fox Sports Eric Shanks bahkan menyebut 24 tim sebagai model terbaik menurut riset mereka, dan ini membuat dorongan Big Ten dibaca sebagai dorongan jaringan.
Ekspansi CFP 24 tim tampak seperti jawaban bagi kecemasan industri yang biaya operasionalnya melambung, bukan jawaban bagi kualitas kompetisi. Ketika “akses” dipakai untuk membenarkan inflasi gaji pelatih, roster mahal, dan utang atletik, playoff berubah menjadi alat legitimasi, bukan panggung meritokrasi.
SEC, dengan kepentingan menjaga final konferensi, berada pada posisi paling rasional untuk menahan laju 24 tim. Penolakan SEC bukan sekadar keras kepala, melainkan bentuk audit terhadap janji pendapatan, risiko pengenceran produk, dan degradasi nilai musim reguler.
Big Ten benar bahwa lebih banyak tim berarti lebih banyak pasar yang merasa terlibat, tetapi keterlibatan yang dibangun dari “partisipasi” sering mengorbankan “premium competition.” Jika terlalu banyak tiket diberikan, maka kemenangan besar menjadi kurang langka, dan kelangkaan itulah yang selama ini membuat sepak bola kampus berbeda dari liga dengan musim panjang.
Masalah intinya adalah insentif: SEC tidak punya alasan kuat untuk menukar final konferensi yang menguntungkan dengan putaran tambahan yang belum terbukti laku. Di titik ini, 24 tim terasa seperti proyek yang meminta SEC menanggung biaya identitas, sementara pihak lain memanen keuntungan narasi dan inventori siaran.
Keputusan CFP kini menyempit menjadi duel dua komisioner: Tony Petitti membawa garis keras 24 atau tetap 12, sementara Greg Sankey menuntut bukti dan cenderung 16. Tenggat 1 Desember membayangi, tetapi rapat Juni dan dinamika musim panas bisa mengubah arah, seperti pernah terjadi pada momen-momen besar SEC sebelumnya.
Jika masa depan olahraga ditentukan oleh “berapa banyak pertandingan bisa dijual,” maka tradisi dan makna musim reguler akan terus tergerus. Pertanyaannya untuk publik bukan hanya “ingin 24 tim atau tidak,” melainkan “apakah kita sedang memperluas kompetisi, atau sekadar memperluas pasar?” (Orbit dari berbagai sumber, 27 Mei 2026)