Skema PPPK Guru Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu Lewat Tes

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Skema PPPK guru paruh waktu menjadi penuh waktu kembali mengemuka setelah Mendagri Tito Karnavian menyebut jalurnya lewat tes. Pemerintah menjanjikan kepastian status PPPK guru, tanpa ancaman pemutusan kerja bagi yang belum lulus. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Di DPR, Tito menyampaikan adanya dorongan agar PPPK paruh waktu bisa naik menjadi PPPK penuh waktu, bahkan PPPK penuh waktu bisa berujung menjadi PNS. Ia menyebut angka guru PPPK yang terkait sekitar 172.000 orang, menunjukkan skala persoalan yang tidak kecil. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Isu ini bukan sekadar administrasi kepegawaian, melainkan soal stabilitas hidup guru dan kualitas layanan pendidikan. Status paruh waktu kerap dipersepsikan sebagai “setengah aman”, karena jam kerja, pendapatan, dan jenjang karier terasa lebih rapuh. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Pemerintah mencoba menutup celah ketidakpastian itu melalui mekanisme seleksi, sambil menjaga agar sekolah tidak kehilangan tenaga pengajar. Dalam rapat, Tito menegaskan tidak ada skenario “dipecat atau dirumahkan” bagi yang tidak lulus. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Menurut Tito, kesimpulan rapat mengarah pada tes bagi PPPK guru paruh waktu untuk menjadi PPPK penuh waktu. Jika lulus, mereka akan menjadi pegawai penuh waktu di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Jika tidak lulus, status mereka dipertahankan dan pembiayaan tetap berjalan melalui dana BOS. Tito menyebut skemanya berupa penyaluran dari Kemendikdasmen ke sekolah, sehingga guru tetap dibayar meski belum naik status. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Opsi mengulang tes pada tahun berikutnya memberi jalur mobilitas, tetapi juga menunda kepastian bagi banyak orang. Dalam praktik kebijakan, “boleh ikut lagi” sering berarti kompetisi berulang yang menyita energi, waktu, dan biaya persiapan. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Di sisi lain, tes dapat menjadi alat standardisasi kompetensi jika dirancang adil, transparan, dan relevan dengan kerja mengajar. Namun tes yang terlalu administratif berisiko mengukur kemampuan mengisi formulir, bukan kemampuan mendidik di kelas. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Angka sekitar 172.000 guru yang disebut Tito menandakan dampak fiskal dan manajerial yang besar bila banyak yang beralih menjadi penuh waktu. Pemerintah perlu memastikan kesiapan formasi, beban anggaran, serta peta kebutuhan guru antarwilayah agar tidak terjadi penumpukan di satu daerah dan kekosongan di daerah lain. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Skema ini terdengar menenangkan karena menjanjikan “tidak dipecat” bagi yang gagal, tetapi tetap menyisakan pertanyaan tentang kualitas kepastian itu sendiri. Dipertahankan sebagai paruh waktu bisa berarti bertahan dalam ketidakpastian yang sama, hanya dengan jaminan pembayaran minimal. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Jalur tes juga menyiratkan pesan politik kebijakan: kenaikan status bukan hak otomatis, melainkan hadiah bagi yang lolos seleksi. Ini logis dalam logika meritokrasi, tetapi bisa problematik bila akses pelatihan, perangkat belajar, dan dukungan administratif tidak merata. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Publik perlu menuntut transparansi: materi tes, standar kelulusan, mekanisme sanggah, dan audit independen atas proses seleksi. Tanpa itu, tes mudah berubah menjadi ruang baru bagi ketidakadilan, terutama bagi guru di daerah dengan fasilitas terbatas. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Yang juga penting, pemerintah harus menjelaskan peta jalan PPPK penuh waktu menuju PNS yang disebut Tito sebagai “syukur”. Jika jalurnya kabur, harapan naik status bisa menjadi janji yang terus digantung, sementara kebutuhan sekolah akan guru tetap mendesak setiap semester. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Rencana perubahan status PPPK guru paruh waktu menjadi penuh waktu lewat tes adalah upaya memberi kepastian, tetapi kepastian itu harus terukur dan dapat diawasi. Perlindungan bagi yang tidak lulus patut diapresiasi, namun tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan status paruh waktu menjadi ruang tunggu tanpa ujung. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)

Jika negara serius memperkuat pendidikan dasar, maka yang diuji bukan hanya guru melalui tes, melainkan juga ketegasan tata kelola dan keadilan akses. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah kebijakan ini benar-benar mengangkat martabat guru, atau hanya memindahkan kegelisahan mereka ke tahun seleksi berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)