Wabah Campak Pennsylvania Picu Ancaman Campak Kongenital pada Bayi

CIDRAP

CIDRAP

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Wabah campak Pennsylvania kembali mengguncang, kali ini lewat peringatan tentang campak kongenital pada bayi yang tertular sejak dalam kandungan. Departemen Kesehatan Pennsylvania menyebut 66 perempuan hamil terinfeksi campak tahun ini, dan sedikitnya enam bayi lahir dengan campak.

Peringatan kesehatan terbaru dari Departemen Kesehatan Pennsylvania mengingatkan dokter tentang campak kongenital, penyakit yang dulu sangat langka di Amerika Serikat. Kini, ketika puluhan perempuan hamil terinfeksi dalam wabah yang masih berlangsung, penularan dari ibu ke janin berpotensi menjadi tantangan klinis bagi dokter yang belum pernah menanganinya.

Hingga kini, negara bagian itu melaporkan 66 perempuan hamil tertular campak saat hamil pada tahun ini. Setidaknya enam bayi di Pennsylvania dilaporkan lahir dengan campak, sementara dari enam kematian yang pernah dilaporkan, sedikitnya dua terjadi pada bayi, meski belum diketahui apakah terkait infeksi kongenital.

Masalahnya, publik sulit memperoleh gambaran lengkap karena rilis informasi hasil kesehatan bayi dari kehamilan tersebut ilegal di Pennsylvania. NBC News juga mencatat tidak ada basis data nasional untuk campak kongenital, kemungkinan karena kasusnya jarang terlihat selama puluhan tahun di Amerika Serikat.

Di titik ini, persoalan terbesar adalah “denominator data”, yakni data pembagi untuk menghitung risiko sebenarnya. “Kami tidak punya data denominator tentang campak kongenital,” kata Adam J. Ratner, MD, MPH, anggota Komite Penyakit Infeksi American Academy of Pediatrics (AAP), kepada CIDRAP News.

Ratner menjelaskan bahwa pengetahuan medis yang tersedia banyak bertumpu pada studi kasus dan seri kasus. Karena itu, hampir mustahil mengekstrapolasi berapa banyak ibu hamil dengan campak yang akan melahirkan bayi dengan campak kongenital.

Definisi kasus campak kongenital juga ketat, karena hanya infeksi campak pada dua minggu terakhir kehamilan atau 10 hari pertama setelah persalinan yang dikategorikan kongenital. Namun Ratner mengutip seri kasus Prancis tahun 2021 yang menemukan bayi tanpa gejala tetap positif campak lebih dari 20 minggu setelah infeksi pada ibu.

Data dari wabah besar di Kanada pada 2025 memberi gambaran yang lebih “keras” tentang risiko klinis. Dalam seri kasus itu, 51 perempuan hamil terinfeksi dan menghasilkan sembilan kasus campak kongenital, dengan satu kematian pada salah satu dari sembilan bayi tersebut.

Masalah perhitungan risiko makin rumit karena pelaporan yang tidak lengkap. “Pasti ada underreporting campak prenatal, karena kasus campak ringan pada kehamilan bisa tidak terdeteksi,” kata Ratner.

Di sisi pencegahan, Pennsylvania menegaskan vaksin MMR (measles, mumps, rubella) sebaiknya diberikan sebelum hamil. MMR tidak direkomendasikan setelah kehamilan dimulai karena mengandung virus hidup.

Untuk ibu hamil yang belum divaksin dan terpapar campak, ada jendela waktu enam hari untuk menerima terapi imunoglobulin. Jika paparan terjadi pada perempuan yang sudah menerima dua dosis MMR saat kecil, ia dinilai memiliki perlindungan yang baik.

Departemen Kesehatan Pennsylvania menekankan variasi gejala campak kongenital sangat lebar. Spektrumnya bisa tanpa gejala, muncul ruam khas campak, hingga penyakit multisistem yang fulminan dan berujung kematian.

Penanganan terutama bersifat suportif, dan pada bayi bergejala dapat diberikan vitamin A bila tidak ada kontraindikasi. Bayi tanpa gejala yang lahir dari ibu dengan infeksi aktif, yakni onset ruam dalam 14 hari sebelum kelahiran, juga dapat dipertimbangkan mendapat imunoglobulin.

Di tingkat wabah, Pennsylvania mengonfirmasi 1.286 kasus campak, dengan 109 kasus dilaporkan dalam sepekan terakhir. Dashboard negara bagian mencatat lima kematian akibat campak, meski sebelumnya ada laporan kematian keenam di Franklin County.

Dalam email kepada CIDRAP News, Departemen Kesehatan Pennsylvania menyatakan masih menyelidiki kematian di Franklin County. Kematian itu tidak akan dilabeli “measles-associated” sampai ada bukti memenuhi seluruh kriteria, termasuk bukti infeksi campak dan tes laboratorium positif dalam 30 hari sebelumnya.

Wabah campak Pennsylvania memperlihatkan paradoks sistem kesehatan modern: teknologi diagnostik maju, tetapi data dasar untuk menilai risiko pada kelompok rentan justru bolong. Ketika tidak ada database nasional dan informasi luaran bayi dibatasi hukum, ruang kosong itu diisi ketidakpastian, sementara dokter harus mengambil keputusan klinis dalam tekanan waktu.

Definisi kasus yang ketat memang penting untuk ketertiban epidemiologi, tetapi bisa membuat realitas klinis “tidak terlihat” dalam statistik. Jika ada bayi yang baru terdeteksi positif berbulan-bulan setelah infeksi ibu, maka pertanyaannya bukan sekadar definisi, melainkan apakah sistem surveilans kita menutup mata pada spektrum penyakit yang lebih luas.

Di atas semua itu, pesan paling politis sekaligus paling sederhana tetap sama: pencegahan lewat vaksinasi sebelum kehamilan. Ketika MMR tidak dapat diberikan saat hamil, setiap keputusan menunda vaksin sebelum hamil sebenarnya memindahkan risiko dari orang dewasa ke janin yang tidak punya pilihan.

Campak kongenital bukan sekadar istilah medis yang kembali dari masa lalu, melainkan alarm bahwa wabah campak bisa menembus batas paling rapuh: kandungan. Dalam situasi data yang minim dan pelaporan yang tidak utuh, pencegahan menjadi strategi paling rasional, bukan sekadar anjuran.

Pertanyaannya kini, apakah masyarakat dan pembuat kebijakan mau memperlakukan vaksinasi pra-kehamilan sebagai standar perlindungan generasi berikutnya. Atau kita akan terus menunggu angka-angka yang lengkap, sementara bayi-bayi lahir di tengah ketidakpastian yang seharusnya bisa dicegah.

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Oktober 2026)