Asa'aro Lahagu: Gibran Akan Melawan Sampai Kiamat
Oleh Asa'aro Lahagu
ORBITINDONESIA.COM - Tensi politik di tanah air kini membara. Di Jagat maya, nama Gibran terus berseliweran. Ia menjadi sasaran tembak. Kata-kata gulingkan, habisi, mundurkan, KO-kan, penjarakan, akrab pada namanya. Kubu anti Gibran terus bersatu dalam satu hati, satu tujuan: membalas dendam politik kesumat mereka.
Pasca keluarnya putusan MK, kubu anti Jokowi-Gibran ini terus bersorak. Mereka merasa punya amunisi canggih baru untuk menghantam Gibran. Amunisi itu berupa Keputusan MK yang mengatakan bahwa ijazah SMA Gibran atau yang disetarakan, tidak ditemukan.
Bagi mereka, kata “tidak ditemukan” sama dengan tidak ada, kosong, nihil. Itu berarti Gibran tidak tamat SMA. Tidak tamat SMA berarti tidak memenuhi syarat menjadi cawapres. Tidak memenuhi syarat menjadi cawapres, berarti tidak boleh lagi menjadi wapres seperti saat ini. Jadi Gibran harus tamat.
Upaya melengserkan Gibran terus mencuat. Kubu anti Gibran terus memanaskan dan memprovokasi situasi. Berbagai isu dan ancaman dilontarkan. Gibran harus mundur, harus malu, harus tahu diri, harus mengerti, harus menyerah dan meninggalkan jabatan sebagai wapres. Ini adalah ekspektasi numero uno kubu anti Gibran.
Bersamaan dengan imbauan mundur, lontaran ancaman terus digelorakan membabi buta. Gibran dilaporkan kepada Bareskrim terkait dugaan pemalsuan surat keterangan atau keabsahan dokumen pendidikan yang digunakan saat pendaftaran Pilpres 2024. KPU juga dilaporkan kepada sejumlah instansi.
Gibran juga diancam akan dimundurkan, dilengserkan dipeople-power-kan ala Amien Rais. Selain itu sedang digodok sejumlah orang agar Gibran digoreng dan ditumis di DPR lewat hak menyatakan pendapat. Nantinya Gibran diaduk lewat sidang Paripurna DPR, digiring ke MK, dibawa ke sidang istimewa MPR dan akhirnya dilengserkan secara tragis. Ngeri.
Lalu bagaimana respon kubu Gibran dan Gibran sendiri?
Para pendukung Gibran yang disebut ‘silent majority’ bersikap bertahan ala catenacio Italia atau parkir bus ala Mourinho. Beberapa pasukan berani mati, tampil ke depan bermanufer di hadapan musuh. Mereka adalah relawan militan Gibran 08. Relawan ini sedang menyusun pertahanan parit dari gempuran dahsyat drone kubu lawan.
Gibran sendiri terlihat santai. Ia sudah dibekali oleh Jokowi untuk tetap tenang di tengah badai sedahsyat apapun. Gibran tentu tidak bisa ditangani oleh Bareskrim walaupun ada 12 triliun laporan. Mengapa? Karena sepanjang Gibran belum dinonaktifkan secara politik dari jabatannya sebagai wapres, maka dia kebal pada sentuhan aparat.
Gibran juga tentu tidak mau mundur begitu saja. Enak saja. Di antara 280 juta penduduk Indonesia, Gibran sudah jadi wapres. Orang numero duo di Indonesia. Ini jabatan yang sama sekali tidak gampang diperoleh. Jutaan orang merindukan jabatan wapres. Mundur dengan legowo begitu saja? Tidak Ferguso.
Ekspektasi kubu lawan agar Gibran mundur dengan sukarela adalah mimpi seekor kodok merindukan puteri kahyangan dari bulan. Jadi Gibran sama sekali tidak akan mundur. Itu khayalan konyol. Tidak ada alasan untuk mundur selain hanya memenuhi birahi politik lawannya.
Gibran terlihat santai saja menghadapi isu bergulirnya hak menyatakan pendapat di DPR. Gibran sudah membaca situasi di DPR. Mayoritas kubu di DPR adalah pengusung Prabowo Gibran. Jika tidak ada halilintar menyambar luar biasa, DPR tidak mudah begitu saja melengserkan Gibran.
Melengserkan Gibran sebagai wapres sama dengan menciptakan kekacauan konyol di DPR. Majunya Gibran menjadi cawapres Prabowo adalah adalah kunci solidnya pendukung Prabowo. Jika Gibran lengser, maka kubu partai politik di DPR akan berebutan kursi wapres.
Jika AHY yang maju, maka Muhaimin memberontak. Jika Bahlil yang maju, Erick Thohir membangkang. Intinya mereka akan saling terkam, saling cakar, saling gencet, saling bantai dan baku hantam. Dan akhirnya kursi wapres bisa jatuh bagai durian runtuh ke pelukan Puan Maharani dari PDIP. Relakan jabatan wapres diambil oleh Puan? Tidak rela bos.
Lalu bagaimana pelengseran Gibran lewat pintu people power ala Amien Rais? Ini tidak gampang. Harus dipicu dulu oleh krisis moneter, krisis ekonomi dan turunnya mahasiswa. Sejauh ini mahasiswa di berbagai universitas adem ayem. Tidak ada yang ribut seperti Roy Suryo. Ekonomi juga tidak susah-susah amat. Beras masih kita ekspor dan MBG masih lancar-lancar saja.
Himbauan Gibran mundur sendiri tidak akan terjadi. Itu hanya harapan pemuda kampung pengangguran yang tidak sanggup membeli celana dalam merindukan berpacaran dengan Sandrinna Michelle.
Hak menyatakan pendapat juga di DPR tidak akan terjadi. Itu mimpi basah di siang bolong. Kecuali ada 7 juta massa di Monas dan ada bandar yang menggelontorkan dana 500 Miliar untuk biaya demo yang belum tentu ada hasilnya, baru DPR pura-pura rapat.
Jadi Gibran tetap kokoh. Tegar dan berdiri tegap. Tahan banting. Tetap kuat dan terus bersinar. Ia seperti batu karang yang kokoh dan sulit dirobohkan. Namun ia akan terus dihabisi dan digoyang sampai kiamat. Dan karena itu ia juga akan terus melawan musuhnya sampai kiamat.
Seruput kopi pahit tanpa gula. ***