Workshop Penulisan Artikel Ilmiah APBISDI Kalimantan Dorong Publikasi Bereputasi
ORBITINDONESIA.COM – Workshop penulisan artikel ilmiah APBISDI Wilayah 7 Kalimantan menyorot satu pesan tegas: publikasi bereputasi bukan sekadar target angka, melainkan ukuran kontribusi akademik. Dari Balikpapan, forum daring ini membedah strategi menembus jurnal nasional dan internasional, termasuk cara etis memanfaatkan AI.
Di banyak kampus, publikasi ilmiah sering dipahami sebagai kewajiban administratif untuk akreditasi dan kenaikan jabatan. Akibatnya, penulisan artikel kerap dikejar cepat, tetapi rapuh pada kebaruan, teori, dan ketajaman analisis.
APBISDI Wilayah 7 Kalimantan merespons situasi itu lewat Workshop Penulisan Artikel Ilmiah bertema “Menulis Ilmiah, Menginspirasi, dan Berdampak Nyata” pada 12 Juni 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk dosen yang sudah memiliki draf, sehingga pembahasan bergerak dari masalah nyata, bukan teori umum.
Kartika Aprilia Ivani memoderasi sekaligus menggerakkan forum, sementara Sekretaris Umum APBISDI Dr. Dini Turipanam Alamanda menegaskan publikasi sebagai indikator kualitas pendidikan tinggi. Pernyataan ini menempatkan publikasi bukan sebagai beban, melainkan sebagai bukti bahwa riset kampus punya relevansi.
Narasumber nasional Dr. Grisna Anggadwita dari Telkom University mengurai lanskap publikasi akademik global yang makin kompetitif. Ia menekankan pemilihan jurnal yang tepat, pemahaman scope, dan kesiapan menghadapi peer review sebagai penentu nasib naskah.
Workshop menempatkan indeksasi seperti Scopus, Web of Science, dan SINTA sebagai penanda visibilitas dan kualitas. Di ruang publik, ketiga nama itu sering diperlakukan sebagai “stempel prestise”, padahal seharusnya dibaca sebagai peta: di mana riset kita berdiri dan siapa pembacanya.
Penolakan artikel, menurut pemaparan Dr. Grisna, kerap terjadi karena riset belum matang, kebaruan minim, teori lemah, dan analisis tidak memadai. Ini sejalan dengan temuan umum dalam ekosistem publikasi, bahwa novelty dan kontribusi teoretik menjadi mata uang utama dalam seleksi jurnal bereputasi.
Ia juga memaparkan tahapan publikasi yang sistematis, dari perancangan riset hingga revisi berdasarkan masukan reviewer. Pesan tersiratnya jelas: artikel yang kuat lahir dari proses riset yang disiplin, bukan dari perapihan bahasa di menit terakhir.
Dimensi baru yang relevan adalah pembahasan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara etis dalam penulisan. Isu ini penting karena banyak jurnal internasional kini mensyaratkan transparansi penggunaan AI, sekaligus melarang AI menjadi “penulis” yang menggantikan tanggung jawab akademik.
Workshop juga menegaskan etika publikasi, mulai dari pencegahan plagiarisme hingga kewaspadaan terhadap jurnal predator. Dalam praktiknya, predator journal tumbuh subur ketika kampus menekan target publikasi tanpa membangun literasi kualitas, sehingga penulis rentan memilih jalan pintas.
Kegiatan APBISDI ini patut dibaca sebagai kritik halus terhadap budaya “kejar tayang” publikasi yang sering menggerus mutu. Fokus pada draf peserta menandakan keberanian untuk masuk ke ruang paling sensitif: kekurangan naskah yang nyata dan kebiasaan riset yang perlu dibenahi.
Namun, ada pertanyaan yang lebih tajam dari sekadar teknik menulis: untuk siapa artikel itu ditulis dan dampak apa yang dituju. Jika publikasi hanya berhenti pada indeksasi, maka riset bisnis digital berisiko menjadi arsip, bukan solusi.
Di sisi lain, penekanan pada AI secara etis menunjukkan APBISDI membaca arah zaman dengan kepala dingin. AI dapat mempercepat proses, tetapi tanpa integritas, ia bisa mengaburkan orisinalitas, menumpulkan argumentasi, dan merusak kepercayaan pada karya ilmiah.
Kolaborasi antarperguruan tinggi yang disebut Dr. Dini juga perlu ditafsirkan sebagai strategi bertahan di era kompetisi global. Jejaring riset bukan hanya memperbanyak penulis, tetapi memperkaya data, memperkuat metodologi, dan memperluas relevansi temuan.
Workshop penulisan artikel ilmiah APBISDI Kalimantan memperlihatkan bahwa kualitas publikasi tidak bisa dipisahkan dari kualitas riset dan etika akademik. Ia mengingatkan dosen bahwa menembus jurnal bereputasi adalah konsekuensi dari kontribusi yang jelas, bukan sekadar keterampilan merangkai kalimat.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana tetapi menentukan arah: apakah kita menulis untuk memenuhi angka, atau menulis untuk mengubah cara berpikir dan cara kerja di masyarakat. Jika kampus memilih yang kedua, maka publikasi bukan lagi beban, melainkan tanggung jawab intelektual yang memerdekakan. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)