Kehilangan Kromosom Y pada Pria: Risiko Kesehatan Serius Meningkat

detikHealth

detikHealth

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kehilangan kromosom Y pada pria kini dibaca ilmuwan sebagai sinyal bahaya, bukan sekadar anomali genetik. Sejumlah studi menunjukkan kaitannya dengan risiko penyakit serius, dari kanker hingga gangguan jantung, dan trennya dinilai mengkhawatirkan.

Kehilangan kromosom Y pada pria dikenal sebagai mosaic loss of Y (LOY), yaitu kondisi ketika sebagian sel darah kehilangan kromosom Y seiring waktu. Fenomena ini paling sering ditemukan pada pria lanjut usia, tetapi juga dipengaruhi paparan lingkungan dan gaya hidup.

Secara biologis, kromosom Y memang kecil, sehingga dulu sering dianggap tidak terlalu penting selain untuk penentuan jenis kelamin. Namun riset genomik modern menunjukkan Y membawa gen yang terlibat dalam regulasi imun dan kontrol peradangan.

Di ruang publik, isu ini mudah disalahpahami sebagai “pria kehilangan kejantanannya” atau sekadar bahan sensasi. Padahal inti persoalannya adalah kesehatan populasi, karena LOY dapat menjadi penanda kerentanan tubuh terhadap penyakit kronis.

Penelitian besar di Swedia yang dipublikasikan di Nature Genetics (2014) melaporkan LOY sebagai perubahan genetik somatik paling umum pada pria. Studi itu juga mengaitkan LOY dengan peningkatan risiko kematian dan kanker pada kelompok tertentu.

Studi lain di Science (2022) menyoroti mekanisme yang lebih spesifik pada jantung, yaitu sel imun yang kehilangan kromosom Y dapat mendorong fibrosis dan memperburuk fungsi kardiovaskular. Temuan ini menggeser LOY dari sekadar “penanda penuaan” menjadi faktor biologis yang mungkin ikut menggerakkan penyakit.

Tren yang paling konsisten adalah hubungan kuat antara LOY dan usia, dengan prevalensi meningkat tajam setelah usia paruh baya. Sejumlah laporan epidemiologi menyebut sebagian pria di atas 70 tahun dapat menunjukkan LOY pada proporsi sel darah yang signifikan, meski angka pastinya bergantung metode pengukuran.

Faktor risiko yang berulang muncul adalah merokok, yang dikaitkan dengan meningkatnya LOY dan dapat berkurang setelah berhenti merokok. Ini penting karena memberi petunjuk bahwa LOY tidak sepenuhnya takdir genetik, melainkan juga cermin paparan yang bisa dikendalikan.

Dari sisi klinis, tantangannya adalah LOY tidak selalu menimbulkan gejala langsung, sehingga ia bekerja seperti “alarm diam-diam.” Ketika ia terdeteksi, pertanyaan berikutnya adalah apakah LOY harus diperlakukan sebagai biomarker risiko yang memicu skrining lebih ketat.

Masalah lain adalah ketimpangan akses pemeriksaan genetik, yang membuat temuan LOY lebih sering muncul di negara dengan fasilitas riset maju. Jika LOY benar-benar berkaitan dengan penyakit utama, maka negara berkembang berisiko terlambat membaca sinyal epidemiologi ini.

Kehilangan kromosom Y pada pria seharusnya dipahami sebagai isu kesehatan publik, bukan isu identitas. Kita terlalu sering mengunci pembicaraan genetika pada simbol maskulinitas, padahal yang dipertaruhkan adalah risiko penyakit yang dapat dicegah atau diperlambat.

Jika LOY berkaitan dengan disfungsi imun, maka ia bisa menjelaskan mengapa sebagian pria lebih rentan pada kondisi tertentu seiring menua. Ini juga menantang kebiasaan lama yang menganggap penuaan sebagai proses pasif, padahal ada jalur biologis yang bisa dipetakan dan mungkin diintervensi.

Namun kita juga perlu kritis terhadap jebakan determinisme genetik, karena korelasi tidak otomatis berarti sebab-akibat pada semua kasus. LOY bisa menjadi indikator kerusakan biologis yang lebih luas, sehingga intervensi terbaik mungkin tetap berada pada pencegahan klasik seperti berhenti merokok, mengelola metabolik, dan menekan inflamasi.

Di sisi kebijakan, isu ini menekan satu pertanyaan: apakah sistem kesehatan siap memakai biomarker genetik untuk pencegahan, bukan hanya pengobatan. Tanpa kerangka etik dan akses yang adil, skrining LOY bisa berubah menjadi layanan premium yang memperlebar jurang kesehatan.

Di sisi komunikasi sains, media punya tanggung jawab untuk tidak menyederhanakan LOY menjadi “kromosom pria hilang.” Publik perlu memahami bahwa tubuh adalah mosaik yang berubah, dan perubahan itu bisa menjadi petunjuk untuk hidup lebih sehat, bukan sumber stigma.

Kehilangan kromosom Y pada pria memperlihatkan bahwa penuaan bukan sekadar hitungan tahun, melainkan akumulasi perubahan sel yang nyata. Riset terbaru mengisyaratkan LOY dapat terkait dengan kanker, penyakit jantung, dan pelemahan sistem imun, sehingga tren peningkatannya patut dibaca sebagai peringatan dini.

Jika sinyal ini benar, maka langkah paling masuk akal adalah memperkuat pencegahan, memperluas riset, dan menata akses pemeriksaan genetik secara adil. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kromosom Y “penting,” melainkan apakah kita mau mendengar pesan tubuh sebelum ia berubah menjadi diagnosis. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juni 2026)