Kanker Kolorektal Remaja Meningkat: Gejala Samar, Diagnosis Terlambat
ORBITINDONESIA.COM – Kanker kolorektal remaja kini menjadi alarm baru, setelah Jo Henderson didiagnosis kanker kolorektal stadium lanjut pada usia 17 tahun. Ia mengira hanya alergi gluten atau intoleransi laktosa, tetapi kanker sudah menyebar hingga ke ovarium.
Kasus kanker kolorektal pada usia di bawah 20 tahun sangat langka, sekitar satu dari satu juta orang. Di Amerika Serikat, jumlahnya kurang dari 100 kasus per tahun, sehingga sering tidak masuk radar pemeriksaan awal.
Namun sebuah studi baru menunjukkan pola yang mengkhawatirkan, karena sebagian besar kasus pada anak dan remaja bersifat agresif dan ditemukan pada stadium lanjut. Dr. Danielle Cameron dari Mass General Brigham Cancer Institute menilai kelompok ini “unik dan rentan”, bahkan dibanding pasien usia 30–40-an.
Secara global, tren kanker kolorektal usia muda juga naik pada kelompok usia 20–30-an. Data yang dikutip studi menyebut orang yang lahir pada 1990-an empat kali lebih mungkin didiagnosis kanker kolorektal sebelum usia 50 dibanding mereka yang lahir pada 1960-an.
Tim peneliti mengidentifikasi 84 remaja di Amerika Serikat yang didiagnosis kanker kolorektal pada 2012–2023, dengan usia median 16 tahun. Riset ini akan dipresentasikan di konferensi nasional American Academy of Pediatrics di San Diego, tetapi belum terbit di jurnal peer-reviewed.
Temuan paling keras adalah keterlambatan diagnosis, karena 80% pasien baru terdeteksi pada Stadium 3 atau 4, saat kanker sudah menyebar. Pada fase ini, terapi jauh lebih sulit, tercermin dari 37% kasus kanker yang kambuh dan 45% pasien yang meninggal.
Masalahnya, gejala kanker kolorektal remaja sering “abu-abu” dan mirip penyakit umum. Dalam studi, 74% melaporkan nyeri punggung atau perut, 45% perubahan kebiasaan buang air besar, sebagian mengalami penurunan berat badan tanpa sebab, dan 32% perdarahan rektal.
Dr. Tara Henderson dari Yale School of Medicine menegaskan banyak penyebab lain yang lebih sering memicu gejala tersebut. Remaja juga masih jauh dari usia skrining kolonoskopi rutin, sehingga pintu deteksi dini menjadi sempit.
Dr. Christopher Lieu dari University of Colorado Anschutz mengingatkan bahwa tidak semua remaja yang nyeri perut harus langsung kolonoskopi. Namun jika gangguan umum seperti irritable bowel syndrome sudah disingkirkan dan keluhan tidak membaik dalam waktu singkat, kanker kolorektal perlu ikut dipertimbangkan agar kasus tertangkap lebih dini.
Di titik ini, “pertanyaan sejuta dolar” adalah penyebab naiknya kanker kolorektal pada usia muda. Cameron menduga perubahan DNA akibat paparan lingkungan sejak masa kanak-kanak menjadi kandidat kuat, karena kerusakan biologis bisa terbentuk jauh sebelum gejala muncul.
Dr. Kimmie Ng dari Dana-Farber Cancer Institute menambahkan kemungkinan peran makanan ultraprocessed yang makin dominan dalam pola makan modern. Riset sebelumnya dari Ng menemukan perempuan yang lebih banyak mengonsumsi makanan ultraprocessed memiliki risiko lebih tinggi mengalami polip kolon, yang bisa menjadi cikal bakal kanker.
Hipotesis lain sedang diuji, termasuk kemungkinan kontribusi mikroplastik, meski bukti kausalnya belum mapan. Yang jelas, narasi “ini hanya penyakit orang tua” makin rapuh, sementara kebiasaan makan, paparan kimia, dan gaya hidup sedentari pada generasi muda terus meningkat.
Menariknya, faktor keluarga bukan penjelasan utama dalam studi ini, karena hanya 20% pasien memiliki kerabat tingkat pertama atau kedua dengan riwayat kanker kolorektal. Tara Henderson mengingatkan, tanpa riwayat keluarga pun seseorang bisa memiliki predisposisi genetik.
Sekitar setengah pasien menjalani tes genetik dan ditemukan beberapa mutasi yang meningkatkan risiko kanker. Mutasi ini tidak selalu diwariskan, karena bisa muncul akibat paparan tertentu atau kebetulan biologis, sehingga pencegahan tidak bisa hanya bertumpu pada silsilah keluarga.
Dari kacamata kebijakan kesehatan, temuan ini menuntut dua hal sekaligus, yaitu kewaspadaan klinis dan literasi publik. Jika dokter terlalu mengandalkan probabilitas kelangkaan, gejala akan diremehkan, tetapi jika publik panik, sistem bisa dibanjiri pemeriksaan yang tidak tepat sasaran.
Jalan tengahnya adalah protokol rujukan yang lebih tajam untuk remaja dengan gejala persisten, terutama perdarahan rektal, penurunan berat badan tanpa sebab, dan perubahan pola buang air besar yang menetap. Kanker kolorektal remaja memang jarang, tetapi ketika terjadi, ia sering datang dalam bentuk yang paling ganas.
Jo Henderson menjalani operasi pengangkatan sebagian kolon dan kedua ovarium pada Desember, lalu kemoterapi selama lima bulan. Ia kini menjalani terapi pengganti hormon dan harus kolonoskopi tahunan, sementara kolonoskopi Agustus menunjukkan tidak ada tanda kanker.
Empat hari setelah kabar baik itu, ia bersiap masuk kuliah dan kini menjadi mahasiswa baru di Powers College of Business, Clemson University. Kisahnya menegaskan bahwa di balik angka yang kecil, ada hidup yang berubah total oleh keterlambatan deteksi.
Kanker kolorektal remaja memaksa kita mengubah cara memandang gejala “sepele” yang menetap. Pertanyaannya bukan sekadar mengapa kasus meningkat, tetapi apakah kita cukup cepat belajar untuk tidak lagi terlambat mendengarkan tubuh—dan mendengarkan pasien muda yang sering tidak dipercaya. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Oktober 2026)