Netanyahu Bertahan di Lebanon Selatan, Gencatan Senjata Dipertanyakan

CNN Indonesia

CNN Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Netanyahu bertahan di Lebanon selatan, meski ada kesepakatan gencatan senjata yang disebut mengikat Israel untuk menghentikan agresi. Ia menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di “zona keamanan” selama diperlukan demi melindungi warga Israel di utara.

Pernyataan itu datang saat konflik Israel–Hizbullah kembali menegang dan Lebanon selatan menjadi panggung paling rawan. Netanyahu juga mengaitkan langkah di Lebanon dengan strategi lebih besar menghadapi Iran dan jejaring proksinya.

Di saat yang sama, ia mengulang garis merah lama Israel: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ia menyebut kampanye militer bersama Amerika Serikat dan Israel telah mencegah “ancaman eksistensial”.

Kalimat “tetap berada selama diperlukan” adalah frasa yang sengaja elastis, karena tidak memberi tenggat dan membuka ruang operasi militer berkepanjangan. Dalam politik keamanan Israel, “zona keamanan” punya memori historis, karena Israel pernah menduduki Lebanon selatan selama 22 tahun sebelum mundur pada 2000.

Iran membaca memori itu sebagai titik tekan psikologis dan propaganda. Komandan Al Quds IRGC, Esmail Qaani, mengancam “epos tahun 2000” akan terulang jika Israel tak mundur, seraya menyebut Israel akan dipaksa keluar “terhina dan kalah”, sebagaimana dikutip Press TV dan dilansir Al Jazeera.

Netanyahu berusaha mengunci legitimasi lewat dua jalur: ancaman nuklir Iran dan klaim presisi operasi di Lebanon. Ia bahkan mengutip rasio korban “lima banding satu”, yakni lima “teroris” tewas untuk setiap satu warga sipil terdampak, dan menyebutnya “belum pernah terjadi sebelumnya”.

Namun klaim rasio seperti itu sulit diverifikasi secara independen ketika akses lapangan terbatas dan definisi “kombatan” diperdebatkan. Dalam konflik perkotaan, perbedaan metodologi pencatatan korban sering menjadi medan perang kedua, karena angka menentukan persepsi moral dan dukungan politik.

Gencatan senjata yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Iran menambah lapisan paradoks. Jika kesepakatan itu benar-benar “mengikat” Israel untuk menghentikan agresi, maka keputusan bertahan di Lebanon selatan dapat dibaca sebagai pengujian batas komitmen sekutu, bukan sekadar keputusan taktis.

Di sisi lain, Netanyahu menyampaikan narasi kemenangan strategis: IRGC dipukul berat dan jurang rezim–rakyat Iran melebar. Ia bahkan menyiratkan peluang runtuhnya rezim Iran, sebuah klaim yang lebih politis ketimbang intelijen yang bisa diuji publik.

Dalam kalkulasi kawasan, Lebanon bukan hanya medan Israel melawan Hizbullah, tetapi simpul pesan ke Teheran. Israel ingin menunjukkan bahwa tekanan di perbatasan utara tetap berjalan, meski diplomasi atau gencatan senjata dibicarakan di tingkat lebih tinggi.

Pernyataan Netanyahu tampak seperti upaya menyatukan dua panggung: perang di Lebanon dan konflik strategis dengan Iran. Dengan begitu, setiap operasi di selatan Lebanon dipasarkan sebagai bagian dari “pencegahan nuklir”, bukan sekadar pertikaian perbatasan.

Masalahnya, narasi besar sering menelan realitas kecil yang paling mahal, yakni stabilitas warga sipil dan masa depan negara Lebanon yang rapuh. Ketika sebuah negara berkata “kami berperang melawan Hizbullah, bukan Lebanon”, kalimat itu terdengar rapi, tetapi dampaknya tetap menimpa ruang hidup Lebanon.

Ancaman Qaani juga menyimpan motif yang tak kalah politis, karena ia menghidupkan simbol “Liberation Day” dan kemenangan 2000 sebagai bahan bakar legitimasi. Dengan mengulang sejarah, Iran dan Hizbullah menanam pesan bahwa pendudukan akan selalu berakhir, sekalipun dengan biaya panjang.

Di tengah tarik-menarik itu, publik internasional menghadapi pertanyaan dasar tentang akuntabilitas. Jika gencatan senjata ada, siapa yang mengukur kepatuhan, dan apa konsekuensinya ketika salah satu pihak menafsirkan “keamanan” sebagai alasan permanen untuk bertahan.

Netanyahu bertahan di Lebanon selatan bukan hanya keputusan militer, tetapi pernyataan politik tentang siapa yang berhak mendefinisikan “ancaman” dan “perlindungan”. Qaani menjawabnya dengan bahasa sejarah, seolah waktu sendiri akan memaksa Israel mengulang mundur 2000.

Di antara dua klaim yang sama-sama keras, ada satu hal yang sering hilang: batas kapan kekuatan berhenti menjadi pencegahan dan berubah menjadi perang tanpa ujung. Jika “selama diperlukan” tidak pernah diberi definisi, maka yang tersisa hanyalah siklus kekerasan yang terus menemukan alasan barunya.

(Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)