Wabah Ebola Bundibugyo di Kongo: Hampir 1.000 Kasus, Krisis Kepercayaan

ORBITINDONESIA.COM – Wabah Ebola Bundibugyo di Kongo timur mendekati 1.000 kasus, namun ancaman terbesarnya bukan hanya virus langka tanpa vaksin. Di Bunia, relawan Palang Merah Vanny Birungi mengaku dilempari batu dan dihina saat mengingatkan warga bahwa Ebola nyata dan menyebar cepat.

Setiap kali Vanny Birungi turun ke permukiman kelas pekerja di Bunia, ia menghadapi dua bahaya sekaligus. Pertama, Ebola tipe Bundibugyo yang jarang, dan kedua, kemarahan warga yang curiga pada petugas kesehatan.

Birungi berkata, “Kami terus memberi tahu mereka bahwa penyakit itu ada di luar sana. Ada yang menerima, ada yang tidak.” Kalimat itu menggambarkan jurang kepercayaan yang melebar di pusat wabah.

Di wilayah Ituri, kecurigaan bukan muncul dari ruang hampa. Warga hidup bertahun-tahun di bawah ancaman kelompok bersenjata yang membunuh ribuan orang dan memaksa banyak lainnya mengungsi.

Trauma kolektif membuat orang mudah menolak “orang luar”, termasuk mereka yang datang membawa pesan kesehatan. Situasi ini diperburuk karena wabah disebut terdeteksi terlambat, sementara pengawasan penyakit melemah akibat pemotongan bantuan AS dan donor lain.

Kecurigaan itu kadang berubah menjadi teori konspirasi terang-terangan. Pierre Basola, 56 tahun, mengatakan, “Mereka harus berhenti mengganggu kami… Jangan lupa Ebola itu ciptaan orang kulit putih.”

Angka kasus terus naik, sementara infrastruktur respons justru diserang. WHO menyebut wabah kini memiliki lebih dari 900 kasus suspek dan lebih dari 220 kematian suspek, dan pihaknya “sedang mengejar ketertinggalan” menghadapi epidemi yang bergerak cepat.

Dalam sepekan, fasilitas kesehatan diserang tiga kali. Pada Minggu, sekelompok pemuda menyerbu rumah sakit yang merawat pasien Ebola dan memaksa evakuasi saat suara tembakan terdengar.

Sabtu, tenda penanganan kasus suspek dan terkonfirmasi milik Doctors Without Borders di Mongbwalu dibakar. Lebih dari selusin orang yang diduga terinfeksi melarikan diri, menciptakan risiko penularan baru yang sulit dilacak.

Kamis, pusat kesehatan di Rwampara dibakar setelah keluarga dilarang mengambil jenazah pria yang diduga Ebola. Praktik pencegahan yang melarang kontak dengan jenazah memicu amarah, karena bertabrakan dengan ritus pemakaman yang sakral.

Ebola menular lewat kontak dekat dengan cairan tubuh pasien sakit atau meninggal, seperti keringat, darah, feses, atau muntah. Karena itu tenaga kesehatan dan keluarga yang merawat pasien berada pada risiko tertinggi, dan kekerasan terhadap fasilitas memperbesar risiko paparan.

Heather Kerr dari International Rescue Committee menegaskan, “Kepercayaan hampir sama pentingnya dengan respons kesehatan.” Jika warga tidak percaya, mereka tidak akan datang ke pusat kesehatan, dan rantai penularan akan bergerak di luar radar.

Konflik bersenjata menambah lapisan kesulitan yang tidak dimiliki wabah di tempat lain. Perjalanan dari Bunia ke Mongbwalu membuka risiko serangan, dan jarak lebih dari 1.000 kilometer dari Kinshasa membuat logistik dan komando respons tidak selalu cepat.

Secara teknis Kongo berpengalaman, dengan 17 wabah Ebola sebelumnya, dan WHO menyatakan negara itu punya kapasitas merespons. Namun pada awal wabah ini, tes dilakukan untuk tipe Ebola yang lebih umum, sehingga waktu berharga hilang sebelum Bundibugyo teridentifikasi.

Laboratorium pengujian untuk tipe Bundibugyo terbatas, sementara banyak klinik bergantung pada generator. Bahkan bandara besar yang menjadi hub kemanusiaan disebut telah dikuasai pemberontak lebih dari setahun, menandai rapuhnya jalur bantuan.

Petugas di lapangan mengatakan mereka kurang siap dan kurang terlindungi. Sejumlah responder terinfeksi dan beberapa meninggal, termasuk dokter Kongo Rubens Dhedgia yang dilaporkan wafat di Rwampara.

Di Uganda yang bertetangga, penularan lebih kecil namun sudah menjangkiti sedikitnya tiga tenaga kesehatan setelah perjalanan dari Kongo. Ini mengingatkan bahwa wabah lokal bisa cepat menjadi lintas batas ketika pelacakan melemah.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah melaporkan tiga relawan meninggal di Mongbwalu setelah diduga menangani jenazah pada 27 Maret dalam pekerjaan yang tidak terkait Ebola. Jika terkonfirmasi, ini akan memundurkan garis waktu wabah dari kematian terkonfirmasi pertama pada akhir April di Bunia.

Di sisi lain, sebagian warga tetap menganggap Ebola mitos, meski tanda-tanda ekonomi kematian muncul di jalanan. Seorang pengelola rumah duka bahkan sudah memajang peti mati untuk dijual di pinggir jalan Bunia.

Action Aid mencatat skeptisisme tinggi dan minim pemahaman pada warga yang mereka wawancarai di pertengahan Mei, tak lama setelah wabah diumumkan. WHO dan Africa CDC pun menilai wabah kemungkinan lebih besar daripada angka yang sudah dilaporkan.

Wabah Ebola Bundibugyo di Kongo bukan sekadar krisis epidemiologi, melainkan krisis legitimasi negara dan kemanusiaan. Ketika warga percaya petugas “mencari uang” atau membawa agenda asing, pesan kesehatan berubah menjadi provokasi.

Kekerasan terhadap pusat perawatan memperlihatkan paradoks: warga marah karena tradisi pemakaman dibatasi, namun pembatasan itu justru inti pencegahan. Di titik ini, sains tanpa kepekaan sosial menjadi rapuh, dan empati tanpa protokol menjadi berbahaya.

Pemotongan bantuan dan melemahnya surveilans penyakit memperpanjang waktu deteksi, lalu membuka ruang bagi rumor. Keterlambatan ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan keputusan politik global yang dampaknya dibayar oleh komunitas paling rentan.

Mado Nditamba, 70 tahun, berkata warga melihat dokter pun meninggal, lalu “kami menyerahkan semuanya kepada Tuhan.” Kalimat itu bukan anti-sains, melainkan ekspresi putus asa ketika institusi gagal memberi rasa aman dan kepastian.

Karena itu, strategi paling menentukan bukan hanya menambah tenda dan alat pelindung diri, tetapi membangun “jembatan makna” dengan komunitas. Yakubu Mohammed Saani dari Action Aid menyebut satu-satunya jalan adalah keterlibatan komunitas, dan itu berarti mendengar sebelum mengajar.

Jika respons hanya beroperasi sebagai operasi darurat yang seragam, ia akan terus ditolak di wilayah yang hidup dalam logika konflik. Namun jika respons mengakui trauma, melibatkan pemuka lokal, dan transparan soal risiko serta keterbatasan, kepercayaan bisa dipulihkan sedikit demi sedikit.

Di Bunia, Ebola Bundibugyo menyebar di antara ketakutan, senjata, dan rumor yang lebih cepat dari informasi resmi. Ketika pusat kesehatan dibakar dan pasien melarikan diri, wabah bergerak dari ruang klinis ke ruang sosial yang tidak bisa dikendalikan dengan protokol saja.

Pertanyaannya bukan hanya kapan kurva kasus turun, tetapi kapan warga merasa cukup aman untuk percaya pada pertolongan. Jika kepercayaan adalah “vaksin” sosial, maka ia harus diproduksi lewat kehadiran yang jujur, perlindungan nyata, dan dialog yang menghormati duka manusia.

(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)