Pemenang dan Pecundang One Big Beautiful Bill Act Trump

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – One Big Beautiful Bill Act (OBBBA) yang diteken Donald Trump pada 4 Juli 2025 kini memperlihatkan peta pemenang dan pecundang yang makin jelas. Gedung Putih menyebutnya “Working Families Tax Cut”, tetapi kritik menyasar biaya sosial yang ditanggung kelompok rentan.

OBBBA menurunkan pajak bagi jutaan rumah tangga dan bisnis, lalu menutup sebagian biayanya dengan pemotongan belanja federal pada program seperti Medicaid dan SNAP (food stamps). Sejumlah ketentuan besar baru berlaku pada paruh kedua 2026 hingga 2027, sehingga dampak awal terutama terlihat dari pasal yang sudah berjalan.

Juru bicara Gedung Putih Kush Patel mengatakan kebijakan ini memberi “kelegaan ekonomi jangka pendek” dan membuka jalan bagi “pertumbuhan jangka panjang” melalui insentif investasi. Demokrat membalas bahwa pemotongan program bantuan menjadi harga yang dibayar untuk keringanan pajak yang juga menguntungkan kelompok kaya dan korporasi.

Andrew Lautz dari Bipartisan Policy Center merangkum paradoksnya: dua hal bisa benar sekaligus. Banyak pemotongan pajak memang menyasar kelas menengah, tetapi banyak pasal lain “terutama menguntungkan orang kaya”.

Kelompok berpendapatan tinggi muncul sebagai pemenang utama karena OBBBA memperpanjang ketentuan Tax Cuts and Jobs Act 2017 yang seharusnya berakhir pada akhir 2025. Tarif pajak individu tertinggi dipertahankan permanen di 37%, bukan kembali ke 39,6%, yang terutama berdampak pada sekitar 2% pembayar pajak teratas menurut Center for American Progress.

OBBBA juga menaikkan batas pengurang pajak negara bagian dan lokal (SALT) dari 10.000 dolar menjadi 40.000 dolar per tahun. Jon Whiten dari Institute on Taxation and Economic Policy (ITEP) menyebut 1% teratas “berada di jalur” menerima pemotongan pajak senilai 1 triliun dolar selama satu dekade.

Korporasi juga diuntungkan lewat pemulihan dan permanenisasi bonus depresiasi 100% untuk investasi aset berumur pendek, sehingga biaya investasi bisa langsung dipotong dari pajak. Biaya riset dan pengembangan domestik juga kembali bisa dikurangkan segera, yang menurunkan penghasilan kena pajak perusahaan.

ITEP menyebut paket ini memuat “campuran subsidi khusus dan celah pajak” yang memangkas tagihan pajak korporasi sangat menguntungkan. Whiten mencontohkan Amazon, Alphabet, Meta, dan Tesla bersama-sama meraih sekitar 51 miliar dolar keringanan pajak pada 2025, banyak yang dikaitkan dengan aturan baru.

Pekerja penerima tip dan pekerja lembur menjadi pemenang yang lebih kasat mata bagi publik karena ada ketentuan “tanpa pajak atas tip” dan “tanpa pajak atas lembur”. Komite House Ways and Means menyatakan sekitar 7 juta pekerja mengklaim pengurang tip, dan 28 juta orang mengklaim pengurang lembur.

Nilai pengurang tip tipikal tercatat sekitar 7.000 dolar, sedangkan lembur sekitar 3.100 dolar pada tahun pajak terakhir menurut komite tersebut. Patel menegaskan “puluhan juta” warga kelas pekerja kini memiliki lebih banyak uang tersisa, walau efeknya berbeda-beda tergantung jam kerja dan struktur upah.

Warga senior juga mendapat bonus melalui pengurang tambahan 6.000 dolar bagi pembayar pajak usia di atas 65 tahun, dengan batas penghasilan tertentu. Pengurang mulai berkurang untuk lajang berpenghasilan di atas 75.000 dolar dan hilang sepenuhnya di atas 175.000 dolar, sementara sekitar 34 juta lansia disebut telah mengklaimnya.

Keluarga yang menabung untuk anak mendapat instrumen baru berupa Trump Accounts, rekening investasi berfasilitas pajak untuk anak yang disertai setoran awal 1.000 dolar dari Departemen Keuangan bagi bayi baru lahir yang memenuhi syarat. Program ini berlaku untuk anak di bawah 18 tahun, tetapi setoran 1.000 dolar hanya untuk kelahiran 1 Januari 2025 hingga 31 Desember 2028.

Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan lebih dari 6 juta warga telah membuka Trump Accounts dan berharap program ini mengajarkan efek “compounding” atau bunga berbunga jangka panjang. Di luar pemerintah, Michael dan Susan Dell juga berjanji memberi 250 dolar per anak hingga 25 juta anak di bawah 10 tahun yang tinggal di wilayah berpendapatan median di bawah 150.000 dolar.

Namun daftar pecundang mulai tampak dari perubahan “belum pernah terjadi” pada SNAP, menurut Poonam Gupta dari Urban Institute. Syarat kerja diperluas untuk orang dewasa sehat usia 18 sampai 64 tahun, naik dari aturan lama yang hanya sampai di bawah 55 tahun.

Kelompok yang dulu dikecualikan kini ikut terdampak, termasuk mantan anak asuh, veteran, dan orang yang mengalami tunawisma. Jika syarat kerja tidak terpenuhi, bantuan SNAP dibatasi hanya tiga bulan, sehingga risiko putus bantuan meningkat saat pasar kerja melemah atau akses kerja tidak stabil.

Ada argumen tandingan bahwa syarat kerja dapat memperbaiki hasil jangka panjang, termasuk bagi anak. Adam Michel dari Cato Institute menyatakan riset puluhan tahun menunjukkan insentif kerja pada manfaat pemerintah “membantu keluarga lebih dari sekadar transfer”, meski temuan ini sering diperdebatkan karena konteks lokal dan kualitas pekerjaan berbeda.

Dampaknya menjalar ke ekonomi ritel karena belanja SNAP adalah sumber perputaran uang di toko, terutama toko kecil. Heather Hahn dari Urban Institute memperingatkan lebih sedikit manfaat SNAP berarti pendapatan ritel turun, yang bisa memperlebar luka ekonomi di komunitas berpendapatan rendah.

Implementasi syarat kerja SNAP mulai digulirkan negara bagian sejak musim gugur lalu, dan partisipasi SNAP turun lebih dari 4 juta orang atau 10% hingga Maret menurut Center on Budget and Policy Priorities. Di sisi Medicaid, syarat kerja dan pemeriksaan kelayakan lebih sering baru berlaku pada 2027, dan Urban Institute memperkirakan kepesertaan dapat turun 5 juta sampai 10 juta orang.

Sektor kendaraan listrik dan energi bersih juga masuk kubu pecundang karena insentif pajak federal untuk EV diakhiri tahun lalu, dan sejumlah kredit energi bersih mulai disurutkan. RSM mencatat OBBBA mempercepat penghentian beberapa kredit pajak korporasi untuk investasi energi bersih seperti surya dan angin, yang berpotensi menahan ekspansi proyek.

OBBBA memperlihatkan pola klasik kebijakan fiskal: keringanan pajak cepat terasa, tetapi biaya sosialnya sering muncul belakangan dan tersebar di banyak titik. Ketika tarif puncak dipertahankan dan SALT dinaikkan, sinyalnya jelas bahwa stabilitas beban pajak kelompok atas dan pemilik aset diprioritaskan.

Di sisi lain, narasi “kelas pekerja” lewat pengurang tip dan lembur memang populer dan mudah dijual, tetapi ia tidak menyentuh pekerja bergaji rendah tanpa lembur atau tanpa tip. Kebijakan ini juga berisiko mengunci struktur kerja berupah rendah, karena insentif pajak tidak otomatis mengubah praktik upah dasar atau akses jaminan sosial.

Trump Accounts menawarkan ide menarik tentang literasi investasi sejak dini, tetapi desainnya tetap memunculkan pertanyaan pemerataan. Anak dari keluarga yang mampu menambah kontribusi akan menikmati efek compounding lebih besar, sementara keluarga rentan mungkin hanya menerima setoran awal tanpa kemampuan menyusul.

Yang paling tajam adalah pertukaran antara pemotongan pajak dan pengetatan SNAP serta Medicaid. Jika jutaan orang keluar dari program karena administrasi dan syarat kerja, negara mungkin menghemat anggaran, tetapi masyarakat bisa membayar lewat meningkatnya kerawanan pangan, beban rumah sakit, dan tekanan ekonomi lokal.

Secara politik, OBBBA memperkuat garis pemisah: Partai Republik menekankan “efisiensi” dan pengurangan “pemborosan”, sementara Demokrat menyoroti pemindahan risiko ke kelompok paling rapuh. Dalam praktiknya, seperti kata Andrew Lautz, dua hal bisa benar sekaligus, dan justru di situlah pertarungan moral kebijakan publik berlangsung.

Setahun setelah diteken, One Big Beautiful Bill Act menunjukkan siapa yang menerima cek manfaat lebih dulu dan siapa yang menanggung pengetatan lebih cepat. Pemenangnya terlihat pada kelompok kaya, korporasi, dan sebagian pekerja tertentu, sementara pecundangnya mulai muncul pada penerima SNAP, serta sektor EV dan energi bersih.

Yang belum selesai adalah babak dampak penuh ketika ketentuan Medicaid dan aturan lain mulai berlaku pada 2027. Pertanyaan kuncinya sederhana namun menentukan: apakah pertumbuhan yang dijanjikan benar-benar cukup besar untuk menutup lubang kesejahteraan yang ditinggalkan, atau justru memperlebar jarak antara yang aman dan yang rentan.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Juli 2026)