Elif Eralp Die Linke Menang Berlin: Calon Wali Kota Baru

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kemenangan Elif Eralp dari Die Linke dalam pemilu negara bagian Berlin menggeser peta politik Jerman, tepat saat AfD terus menguat di sejumlah wilayah. Ia maju dengan janji perumahan terjangkau, kontrol sewa, dan inklusi politik bagi imigran serta pengungsi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Ketika berusia 10 tahun, Elif Eralp mengajak teman-temannya membuat poster lukis tangan di garasi keluarga untuk menyerukan perlindungan lingkungan. Ia tumbuh di Jerman awal 1990-an, ikut demonstrasi politik bersama orang tuanya, dan belajar bahwa jalanan bisa menjadi ruang pendidikan warga. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Eralp lahir di Munich dari orang tua Turki yang sosialis dan aktivis serikat buruh, yang melarikan diri dari kudeta militer 1980 di Turkiye. Kini, 35 tahun setelah aktivisme masa kecilnya, ia berpeluang menjadi wali kota pemerintahan Berlin, kota yang dikenal keras, kreatif, dan penuh kontradiksi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Kemenangannya berpotensi mencetak beberapa rekor politik. Ia bisa menjadi kandidat Die Linke pertama yang memimpin Berlin sejak reunifikasi 1990, wali kota pertama berdarah Turki, dan perempuan kulit berwarna pertama di jabatan itu. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Namun kemenangan suara bukan akhir cerita, melainkan awal negosiasi kekuasaan. Die Linke meraih suara terbanyak, tetapi tetap perlu mitra koalisi untuk menguasai kantor wali kota melalui mayoritas di House of Representatives Berlin. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Janji kampanye Eralp menonjol karena menyentuh luka paling nyata warga kota: sewa yang menekan, stok rumah yang terbatas, dan rasa tak diikutsertakan bagi komunitas migran. Ia menawarkan kontrol sewa nasional dan dorongan agar lebih banyak perumahan berada di bawah kepemilikan kota. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Kontrasnya tajam jika dibandingkan dengan rival sayap kanan jauh, Alternative for Germany (AfD), yang mengandalkan narasi ketertiban dan sentimen anti-imigran. Dua pekan sebelumnya AfD menang di Saxony-Anhalt, tetapi di Berlin mereka hanya finis ketiga. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Konsultan politik Jerman, Martin Fuchs, menyebut ada “keinginan kuat untuk disrupsi dan perubahan politik radikal”. Ia menilai kemenangan Eralp setelah lonjakan AfD menunjukkan Jerman 2026 bukan hanya menyaksikan kenaikan ekstrem kanan, tetapi juga tetap memiliki wajah beragam, terbuka, dan liberal. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Di level personal, Eralp bukan figur dadakan yang muncul karena viral semata. Ia anggota Die Linke sejak 2017, duduk di parlemen Berlin sejak 2021, dan menjadi wakil ketua fraksi pada 2024. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Latar hukumnya juga memberi modal teknokratis yang sering hilang dari politik populis. Ia belajar hukum di Hamburg dan lebih dari satu dekade bekerja sebagai penasihat hukum untuk Die Linke. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Agenda “kota solidaritas” yang ia dorong menempatkan migrasi sebagai isu tata kota, bukan sekadar isu keamanan. Ia ingin Berlin lebih ramah pada pengungsi, mengakhiri “pemeriksaan polisi yang menstigma”, dan memperluas partisipasi imigran dalam masyarakat sipil. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Keberhasilannya juga dipacu strategi kampanye digital yang disiplin. Fuchs menyebut konten “vibe” yang profesional, meniru gaya kampanye Zohran Mamdani di New York, membuatnya terasa dekat dengan realitas sehari-hari warga Berlin. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Data dari platform analitik viral.app menunjukkan Eralp menjadi kandidat paling terlihat di media sosial. Ia mengumpulkan total 6,3 juta penayangan lintas platform, jauh di atas pesaingnya. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Edward Goodger dari University of Manchester menilai Die Linke kini berhasil menggeser pesaing kiri lain, termasuk Sahra Wagenknecht Alliance. Ia menyebut pemerintahan dipimpin Eralp dapat menjadi titik kumpul baru bagi politik kiri radikal di Jerman. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Profesor Gero Neugebauer dari Free University of Berlin menilai profil Eralp cocok memimpin kota dengan komunitas imigran besar sejak 1960-an. Ia menekankan Eralp memiliki orang tua Turki, lahir di Munich, dan memegang kewarganegaraan ganda Jerman-Turki, sehingga jika menjabat akan menguatkan slogan budaya lokal: “Lihat, inilah Berlin.” (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Kemenangan Elif Eralp dan Die Linke di Berlin dapat dibaca sebagai sinyal bahwa politik identitas tidak selalu berujung pada polarisasi. Dalam kasus ini, identitas migran justru dipaketkan dengan program ekonomi konkret, terutama perumahan, yang menyasar kelas pekerja lintas latar. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Label “Germany’s Mamdani” membantu menjelaskan gaya kampanye, tetapi juga berisiko menyederhanakan konteks Berlin. Meniru blueprint New York hanya efektif jika kebijakan yang dijanjikan mampu melewati rintangan hukum, pasar properti, dan resistensi pelaku usaha. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Di titik ini, ujian sebenarnya adalah koalisi dan implementasi, bukan retorika. Fuchs mengingatkan Eralp harus meyakinkan sekitar setengah warga Berlin, termasuk komunitas bisnis, sementara reformasi perumahan bisa memicu sengketa panjang antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Die Linke juga membawa beban reputasi yang tidak kecil. Tuduhan anti-Semitisme yang pernah diarahkan pada partai itu harus dijawab dengan jarak politik yang tegas, karena Berlin sangat peka terhadap isu memori sejarah dan kebencian berbasis identitas. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Meski begitu, tren yang ditangkap Goodger patut dicatat sebagai peringatan bagi partai arus utama. Ketidakpuasan pemilih kini mengalir ke dua kutub sekaligus, yakni penantang kiri radikal dan kanan radikal, dan keduanya menawarkan “jalan keluar” yang sama-sama emosional. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Jika Eralp benar-benar menjadi wali kota, Berlin akan menjadi panggung uji coba untuk politik kiri yang menjanjikan kota lebih murah dan lebih inklusif. Pidato kemenangannya merangkum taruhan itu: “Prioritas sekarang adalah membuat Berlin terjangkau,” sambil menegaskan ia berdiri untuk kebijakan sosial yang “membawa semua orang bersama.” (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Namun sejarah kota-kota besar menunjukkan niat baik sering kandas pada aturan, anggaran, dan kompromi koalisi. Pertanyaannya, apakah kemenangan ini akan menjadi model perubahan yang bisa ditiru Jerman, atau sekadar jeda singkat sebelum gelombang ekstrem kanan kembali merebut narasi? (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)