Hubungan Parasosial di Media Sosial: Kenapa Artis Terasa Dekat

Kumparan.com

Kumparan.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Hubungan parasosial di media sosial membuat artis terasa seperti teman dekat, padahal tidak pernah mengenal kita. Fenomena parasocial relationship ini kian kuat saat algoritma, notifikasi, dan konten harian menghadirkan figur publik berulang kali di layar.

Di era digital, kedekatan tidak lagi menuntut tatap muka atau percakapan dua arah. Cukup dengan mengikuti unggahan, wawancara, dan siaran langsung, banyak orang merasa “tahu” dan “dekat” dengan idolanya.

Artikel ini menyoroti perubahan lingkungan komunikasi yang membuat figur publik hadir dalam rutinitas penggemar. Pertanyaannya bergeser dari sekadar “kenapa bisa ngefans,” menjadi “apa yang dicari dari kedekatan satu arah itu.”

Konsep kuncinya adalah parasocial relationship, hubungan satu arah yang terasa nyata secara emosi. Perasaan itu sah secara psikologis, tetapi tetap berisiko ketika batas realitas dan ekspektasi mulai kabur.

Istilah parasocial relationship diperkenalkan Donald Horton dan R. Richard Wohl pada 1956 untuk menjelaskan ilusi keintiman antara audiens dan figur media. Dulu ia tumbuh lewat televisi dan radio, kini ia dipercepat oleh media sosial yang selalu “on.”

Media Ecology Theory dari Marshall McLuhan membantu membaca perubahan ini sebagai perubahan lingkungan, bukan sekadar perubahan alat. Media digital menjadi ruang hidup baru yang membentuk cara kita merasakan kehadiran orang lain.

Algoritma membuat sosok yang sama muncul berkali-kali tanpa diminta. Paparan berulang memicu efek familiaritas, yaitu kecenderungan menyukai sesuatu karena sering melihatnya.

Di titik ini, penggemar mulai menyusun “profil” artis dari potongan konten. Kita mengenali intonasi, selera, kebiasaan, bahkan pola respons, meski semua itu hanya versi yang ditampilkan.

Riset juga memberi konteks skala fenomena ini. Pew Research Center (2024) mencatat 54% orang dewasa AS mendapatkan berita dari media sosial “setidaknya kadang-kadang,” menandakan layar yang sama juga menjadi ruang pembentuk persepsi dan kedekatan.

Ketika figur publik hadir setiap hari, otak memprosesnya seperti relasi sosial yang konsisten. Karena itu, emosi penggemar bisa naik turun mengikuti rilis lagu, kontroversi, atau kabar pribadi sang idola.

Sisi positifnya nyata, terutama sebagai hiburan dan regulasi emosi. Banyak orang merasa ditemani, termotivasi, atau lebih tenang setelah menonton konten kreator yang diikuti lama.

Namun risikonya muncul saat penggemar merasa “berhak” mengatur hidup artis. Di sinilah hubungan satu arah dapat berubah menjadi tuntutan, kemarahan kolektif, atau penghakiman moral yang tidak proporsional.

Masalah lain adalah ilusi timbal balik yang disuburkan fitur interaksi. Like, komentar yang dibalas, atau sapaan di live stream terasa personal, padahal tetap terjadi dalam skala massa.

Akibatnya, batas antara dukungan dan kepemilikan menjadi tipis. Penggemar bisa menganggap keputusan pribadi artis sebagai “pengkhianatan,” karena relasi emosionalnya sudah terlanjur dianggap setara hubungan nyata.

Fenomena ini bukan sekadar soal penggemar yang “terlalu baper,” tetapi soal desain komunikasi digital yang mendorong kelekatan. Platform diuntungkan ketika atensi bertahan lama, dan hubungan parasosial adalah bahan bakar yang efektif.

Yang sering luput dibahas adalah kesenjangan informasi dan kuasa. Figur publik mengendalikan narasi melalui kurasi konten, sementara penggemar mengisi celahnya dengan asumsi, tafsir, dan harapan.

Di sisi lain, parasocial relationship juga memantulkan kebutuhan sosial manusia yang tidak selalu terpenuhi di dunia nyata. Saat hidup terasa sepi atau monoton, figur yang familiar memberi rasa stabil, walau semu.

Ironinya, kedekatan di layar kadang menggantikan kedekatan di sekitar. Orang bisa hafal jadwal unggahan idolanya, tetapi tidak tahu kabar tetangga atau teman yang duduk satu meja.

Karena itu, literasi relasi digital menjadi penting, bukan untuk melarang ngefans. Tujuannya menjaga batas, agar kekaguman tetap sehat dan tidak berubah menjadi tuntutan yang merusak.

Ukuran sehatnya sederhana: kita boleh terinspirasi, tetapi tidak mengklaim akses atas hidup orang lain. Kita boleh merasa dekat, tetapi tidak menganggap kedekatan itu sebagai kontrak timbal balik.

Hubungan parasosial di media sosial menjelaskan kenapa artis terasa dekat, meski tak pernah mengenal kita. Media bukan hanya menyalurkan cerita, tetapi membangun lingkungan yang membuat kehadiran terasa konstan.

Di era algoritma, pertanyaan paling penting bukan “siapa yang kita ikuti,” melainkan “kebutuhan apa yang sedang kita tambal.” Apakah kita mencari hiburan, inspirasi, atau rasa ditemani yang tidak kita dapatkan di sekitar.

Jika kita mampu menjaga batas, parasocial relationship bisa menjadi sumber energi yang positif. Tetapi jika kita kehilangan jarak, kedekatan semu itu dapat menjauhkan kita dari relasi nyata yang membutuhkan perhatian.

Pada akhirnya, layar hanya menghadirkan bayangan keintiman, bukan keintiman itu sendiri. Mungkin tugas kita adalah kembali menyeimbangkan: mengagumi dari jauh, sambil merawat yang dekat.

(Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)