Posyandu ILP Kelurahan Gunung Kejar Imunisasi Campak Balita

Beritajakarta.id

Beritajakarta.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kelurahan Gunung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menyasar 80 warga lansia dan balita pada Kamis (15/10). Program ini menonjol karena fokus pada kejar imunisasi, terutama vaksin campak, agar hak imunisasi anak tidak terlewat.

Di kota besar, akses layanan kesehatan dasar sering tampak dekat, tetapi tidak selalu benar-benar terjangkau oleh semua keluarga. Mobilitas tinggi, jam kerja, dan kurangnya informasi membuat sebagian orang tua menunda kunjungan Posyandu.

Karena itu, pendekatan door to door dipilih untuk menutup celah layanan yang tidak terlihat di atas kertas. Upaya ini menegaskan bahwa imunisasi bukan sekadar program, melainkan perlindungan kolektif yang bergantung pada kedisiplinan cakupan.

Kepala Seksi Kesra Kelurahan Gunung, Aristika Widi Rahayu, menyebut Oktober sebagai momentum “kejar imunisasi” terkait vaksinasi campak. Ia mengatakan, “ada beberapa bayi atau balita yang kita imunisasi campak, dan ada yang DP-Tnya juga kita kejar.”

Pernyataan itu menunjukkan dua hal sekaligus, yakni adanya anak yang belum lengkap imunisasi dan adanya sistem yang aktif mengejar ketertinggalan. Dalam kesehatan publik, kelompok yang tertinggal inilah yang kerap menjadi titik rapuh saat terjadi lonjakan kasus penyakit menular.

Kepala Puskesmas Pembantu Kelurahan Gunung, Silvia Aulia, menambahkan target kejar imunisasi adalah empat anak setiap bulan. Di RW 01 dan wilayah terdekat, target itu disebut tercapai dengan baik, yang menandakan kerja lapangan berjalan efektif.

Namun target “empat anak” juga mengundang pertanyaan tentang skala kebutuhan riil di permukiman padat Jakarta Selatan. Jika sasaran kegiatan mencapai 80 warga lansia dan balita, maka indikator keberhasilan seharusnya tidak berhenti pada angka target bulanan, tetapi pada penurunan anak yang status imunisasinya tidak lengkap.

Secara kebijakan, imunisasi campak tetap dipandang krusial karena campak sangat menular dan dapat memicu komplikasi serius pada anak. Referensi WHO menyebut campak dapat dicegah melalui vaksinasi dan membutuhkan cakupan tinggi untuk memutus penularan.

Antusiasme warga yang “hadir langsung tepat waktu” patut diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat pemerintah puas terlalu cepat. Partisipasi tinggi pada satu hari kegiatan tidak otomatis berarti perilaku rutin bulanan sudah terbentuk.

Posyandu ILP seharusnya dibaca sebagai koreksi terhadap model layanan yang menunggu warga datang, padahal sebagian warga justru membutuhkan jemput bola. Door to door efektif, tetapi jika terlalu sering menjadi penyangga utama, itu bisa menandakan sistem informasi dan pengingat layanan belum cukup kuat.

Yang lebih penting, narasi “kejar imunisasi” semestinya diiringi transparansi sederhana di tingkat RW, misalnya berapa anak yang tertinggal, berapa yang sudah dikejar, dan apa hambatan utamanya. Tanpa peta masalah yang terbuka, keberhasilan mudah berubah menjadi seremonial yang sulit dievaluasi.

Silvia Aulia mengimbau warga Kelurahan Gunung untuk rutin mendatangi Posyandu setiap bulan demi meningkatkan derajat kesehatan. Ajakan ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar bila menjadi kebiasaan kolektif, bukan hanya respons sesaat.

Pada akhirnya, Posyandu ILP di Kelurahan Gunung mengingatkan bahwa kesehatan publik dibangun dari kunjungan kecil yang konsisten dan data yang jujur tentang siapa yang tertinggal. Pertanyaannya, setelah kejar imunisasi Oktober berlalu, apakah sistem akan memastikan tak ada anak yang kembali hilang dari pantauan layanan? (Orbit dari berbagai sumber, 20 Oktober 2026)