Film Backrooms A24: Liminal Spaces Jadi Horor Box Office 2026
ORBITINDONESIA.COM – Film Backrooms dari A24 mengubah mitos internet The Backrooms menjadi horor psikologis yang memuncaki box office. Adaptasi liminal spaces ini disebut mencetak debut US$81 juta domestik dan US$118 juta global pada akhir pekan pertama.
Angka itu bukan sekadar sensasi sesaat. Ia menjadi sinyal bahwa horor orisinal dan budaya digital kini bisa menguasai bioskop arus utama.
Backrooms berangkat dari konsep liminal spaces, ruang transisi yang terasa familiar namun mengganggu. Estetika dinding kuning kusam, lampu mendengung, dan labirin tanpa ujung sudah lama hidup di Reddit dan TikTok.
Di layar lebar, kisahnya mengikuti Clark, pemilik toko furnitur yang bergulat dengan alkohol dan perceraian. Ia menemukan celah di ruang bawah tanah yang menyeretnya ke rangkaian ruangan tak bertepi.
Clark tidak sendirian lama. Ia mengajak asistennya Kat dan Bobby masuk dengan peralatan dokumentasi, sementara terapisnya Dr. Mary Kline awalnya meragukan cerita itu.
Keraguan itu runtuh ketika ancaman muncul sebagai entitas mengerikan. Saat Clark menghilang, sang terapis menempuh perjalanan ke wilayah tak dikenal untuk menyelamatkannya.
Klaim pendapatan pembuka Backrooms, yakni US$81 juta domestik dan US$118 juta global, menempatkannya sebagai debut terbesar film horor orisinal dalam narasi artikel. Ia juga disebut menjadi debut terbesar sepanjang sejarah A24.
Perbandingan yang dipakai artikel mempertegas lompatan skala. Civil War (2024) disebut memegang rekor A24 sebelumnya dengan US$25,5 juta, sehingga Backrooms tampak melesat lebih dari tiga kali lipat.
Data itu penting karena A24 biasanya identik dengan strategi rilis bertahap dan word of mouth. Backrooms, sebaliknya, tampil seperti event movie yang langsung “meledak” sejak hari pertama.
Faktor pembeda terletak pada asal-usulnya dari serial web Kane Parsons alias Kane Pixels. Basis penggemar online membuat promosi bekerja sebagai jaringan, bukan sekadar iklan.
Artikel juga menyorot pencapaian personal Parsons. Ia disebut menjadi sutradara termuda dengan film nomor satu di box office, melampaui rekor Josh Trank yang berusia 27 tahun saat Chronicle (2012) memuncaki debut.
Namun yang lebih menarik adalah logika horornya. Liminal spaces menakutkan bukan karena monster, melainkan karena “ketiadaan makna” yang memerangkap manusia dalam repetisi.
Di sinopsis, tumpukan furnitur di tengah ruangan menjadi metafora yang kuat. Benda-benda domestik yang harusnya menenangkan justru berubah menjadi bukti bahwa rumah bisa menjadi labirin.
Horor psikologis di sini bertemu kecemasan sosial kontemporer. Ketika perceraian, kecanduan, dan isolasi menjadi latar Clark, Backrooms terasa seperti depresi yang diwujudkan sebagai arsitektur.
Kesuksesan Backrooms menunjukkan perubahan pusat gravitasi budaya pop. Internet tidak lagi sekadar “pemasok ide,” melainkan mesin pembentuk selera yang bisa memaksa studio mengikuti ritmenya.
Di titik ini, istilah “horor orisinal” menjadi problematis namun produktif. Ceritanya baru bagi bioskop, tetapi akarnya merupakan folklore digital yang sudah diuji jutaan penonton di layar ponsel.
Keberhasilan itu juga menguji A24 sebagai merek. Jika A24 mampu mengemas mitos internet menjadi film event, maka batas antara film festival dan film massa kian cair.
Namun ada risiko yang mengintai bila Backrooms dijadikan waralaba. Liminal spaces bekerja karena sunyi, ambigu, dan tidak tuntas, sementara franchise cenderung menuntut penjelasan, aturan, dan eskalasi.
Isyarat Kane Parsons tentang kemungkinan waralaba perlu dibaca hati-hati. Terlalu banyak jawaban bisa membunuh ketakutan, karena ketakutan terbesar Backrooms justru lahir dari ruang kosong.
Di sisi lain, film ini membuka peluang baru bagi kreator YouTube. Ia membuktikan bahwa transisi dari web series ke layar lebar bukan lagi anomali, melainkan rute karier yang sah.
Backrooms tayang di bioskop Indonesia pada 12 Juni, dan momentumnya terasa lebih besar dari sekadar film baru. Ia menjadi contoh bagaimana ketakutan generasi digital dapat diterjemahkan menjadi pengalaman kolektif di ruang gelap bioskop.
Pertanyaannya kini bukan hanya apakah Backrooms akan punya sekuel. Pertanyaannya, apakah kita siap ketika internet tidak lagi “diadaptasi,” melainkan mulai mendikte bentuk horor yang kita tonton dan kita percaya. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Juni 2026)