Curhat ke AI: Tren Kesehatan Mental yang Mengkhawatirkan

Universitas Islam Al Azhar Mataram

Universitas Islam Al Azhar Mataram

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Curhat ke AI kian jadi kebiasaan baru, terutama saat dukungan sosial terasa jauh dan layanan kesehatan mental terasa mahal. Di Mataram, psikiater UNIZAR dr. Danang Nur Adiwibawa menegaskan AI bisa membantu refleksi, tetapi tidak boleh menggantikan relasi manusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Artificial Intelligence (AI) berubah dari alat produktivitas menjadi “ruang aman” untuk berbagi cerita. Banyak pengguna merasa lebih nyaman berbicara dengan chatbot AI ketimbang teman, keluarga, atau pasangan.

Dr. Danang menyebut akses yang mudah dan respons yang terasa personal membuat orang cepat melekat. Percakapan bisa dilakukan kapan saja, bahkan saat larut malam ketika dukungan manusia tidak tersedia.

Ada pula motif sosial yang jarang diakui secara terbuka. Sebagian orang takut dinilai lemah atau berlebihan ketika bercerita kepada manusia.

Daya tarik utama curhat ke AI adalah anonimitas dan ketiadaan stigma. AI “tidak menghakimi”, kata dr. Danang, sehingga pengguna merasa aman membuka sisi paling rapuh dari dirinya.

Fitur respons instan memperkuat kebiasaan itu. Ketika seseorang sedang cemas, jawaban cepat sering terasa lebih menenangkan daripada menunggu balasan pesan dari orang terdekat.

Namun, respons instan juga menciptakan ilusi kedekatan yang tidak selalu setara dengan dukungan emosional nyata. AI tidak punya pengalaman hidup, empati, dan pemahaman kontekstual yang tumbuh dari relasi manusia.

Di titik tertentu, kebiasaan ini bisa bergeser menjadi ketergantungan psikologis. Dr. Danang mengaitkannya dengan pola behavioral addiction seperti kecanduan media sosial, gim daring, dan judi online.

Tandanya bukan sekadar sering memakai AI, melainkan merasa tidak mampu mengelola emosi tanpa AI. Tanda lain adalah menyerahkan keputusan hidup sepenuhnya pada saran chatbot, seolah AI menjadi kompas moral pribadi.

Risiko lain yang jarang dibahas adalah kualitas nasihat yang tidak selalu konsisten. Model AI bisa terdengar meyakinkan meski keliru, terutama bila pengguna tidak mampu memverifikasi informasi saat sedang tertekan.

Dalam literatur kesehatan digital, fenomena “automation bias” dikenal sebagai kecenderungan manusia mempercayai rekomendasi sistem otomatis. Saat emosi sedang rapuh, bias ini bisa makin kuat dan memengaruhi keputusan penting.

AI memang bisa berguna untuk journaling, menyusun pikiran, dan mengidentifikasi emosi. Tetapi ketika gejala sudah mengganggu fungsi harian, AI tidak boleh menjadi satu-satunya sandaran.

Dr. Danang menekankan tanda bahaya yang harus dianggap serius. Gangguan tidur berkepanjangan, serangan panik berulang, hilang motivasi, dan pikiran menyakiti diri sendiri menuntut bantuan profesional segera.

Fenomena curhat ke AI sebenarnya cermin dari dua krisis sekaligus: kesepian modern dan mahalnya akses dukungan psikologis. Ketika relasi sosial melemah, teknologi datang menawarkan “teman” yang selalu siap.

Masalahnya, kenyamanan itu bisa menipu karena tidak menuntut timbal balik. Hubungan manusia mengandung risiko ditolak, tetapi juga menyediakan kehangatan, batas, dan tanggung jawab yang membentuk ketahanan mental.

Curhat ke AI dapat menjadi pintu awal untuk memahami diri, tetapi ia bukan ruang pemulihan yang utuh. Pemulihan membutuhkan keterhubungan, dan keterhubungan butuh manusia yang hadir secara nyata.

Di sini, pertanyaannya bukan “AI baik atau buruk,” melainkan “mengapa kita sampai memilih mesin untuk didengarkan.” Jawaban itu mengarah pada budaya kerja yang melelahkan, komunikasi yang dangkal, dan jaringan sosial yang makin rapuh.

Karena itu, literasi AI perlu berjalan bersama literasi kesehatan mental. Pengguna harus paham kapan AI membantu, kapan ia hanya menunda pertolongan yang seharusnya segera dicari.

Curhat ke AI adalah gejala zaman yang tidak bisa dihapus dengan larangan. Ia muncul karena menawarkan akses cepat, rasa aman, dan ilusi dipahami tanpa risiko sosial.

Namun, seperti diingatkan dr. Danang, AI tetap alat bantu yang tidak punya empati manusia. Ketika hidup terasa berat, yang paling dibutuhkan sering kali bukan jawaban, melainkan kehadiran.

Perenungan akhirnya sederhana tetapi menohok: jika kita makin sering curhat ke mesin, apakah kita sedang kehilangan orang, atau kehilangan keberanian untuk saling mendengar. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Oktober 2026)