Hiu Putih Besar Block Island Terekam, Diduga Pertama di Rhode Island

FOX Weather

FOX Weather

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Hiu putih besar Block Island menjadi sorotan setelah seekor great white terekam berenang dan makan bangkai paus di perairan Rhode Island. Atlantic Shark Institute menyebut rekaman bawah air itu mungkin yang pertama kalinya hiu putih besar pernah tertangkap kamera di wilayah tersebut.

Pemandangan langka itu terjadi pekan lalu saat tim melakukan pencarian berjam-jam di area sekitar 50 mil persegi. Misi dipimpin Jon Dodd selaku Direktur Eksekutif Atlantic Shark Institute dan Sarah Callan, Manajer Program Penyelamatan Satwa di Mystic Aquarium.

Mereka melacak bangkai paus bungkuk sepanjang sekitar 40 kaki yang hanyut setelah video awal dari publik beredar. Dalam video itu tampak hiu putih besar berukuran masif sedang memakan bangkai tersebut.

Menurut Atlantic Shark Institute, bangkai paus akhirnya ditemukan mengapung beberapa mil di selatan-tenggara Block Island. Di lokasi itu, tim mendokumentasikan hiu putih besar sekitar 8 kaki yang sedang memakan sisa-sisa paus.

Jon Dodd merekam momen tersebut dari bawah air, menghasilkan sudut pandang yang jarang didapat di Atlantik bagian timur laut. Atlantic Shark Institute menyebutnya kesempatan riset, karena Sarah Callan juga mengambil sampel dari bangkai paus.

Peristiwa ini memperlihatkan pola ekologi yang sering luput dari perhatian publik: kematian paus dapat menjadi “pemicu” berkumpulnya predator puncak. Atlantic Shark Institute menulis, “White shark sightings are few and far between until a whale dies and then they seem to appear out of nowhere.”

Kalimat itu bukan sekadar sensasi, melainkan petunjuk tentang bagaimana sumber makanan besar yang tiba-tiba muncul dapat mengubah perilaku ruang dan waktu predator. Bangkai paus adalah “bonanza” energi, dan hiu putih besar dikenal sebagai pemakan oportunistik yang memanfaatkan momen seperti ini.

Pencarian seluas 50 mil persegi juga menunjukkan bahwa pemantauan satwa laut tidak bisa bergantung pada kebetulan semata. Ketika video warga menjadi titik awal, riset ilmiah mendapat arah, lalu dokumentasi dan pengambilan sampel memperkuat nilai pengetahuannya.

Dalam konteks komunikasi sains, rekaman bawah air memberi bukti visual yang lebih kuat daripada laporan lisan. Jika benar ini rekaman pertama hiu putih besar di perairan Rhode Island, maka ia menjadi penanda penting bagi arsip keanekaragaman hayati lokal.

Namun “rekaman pertama” tidak otomatis berarti “kehadiran pertama.” Bisa jadi hiu putih besar sudah lama melintas, hanya saja tidak terdeteksi karena keterbatasan kamera, cuaca, atau minimnya operasi survei terarah.

Beberapa hari kemudian, bangkai paus itu dilaporkan terdampar di Crescent Beach dengan tak terhitung bekas gigitan hiu. Atlantic Shark Institute menutup kisahnya dengan kalimat, “the saga of this whale and the sharks it attracted ended!”

Detail “innumerable shark bites” memperkuat dugaan bahwa bukan hanya satu individu yang datang. Bangkai besar di laut terbuka lazim menarik lebih dari satu pemangsa, dan jejak gigitan menjadi “catatan” kasar tentang intensitas interaksi.

Peristiwa hiu putih besar Block Island mudah berubah menjadi narasi ketakutan, padahal inti beritanya adalah fungsi ekosistem. Predator puncak bukan sekadar ancaman, melainkan indikator bahwa rantai makanan bekerja dan laut masih menyediakan sumber daya.

Di sisi lain, viralnya video publik mengingatkan bahwa sains modern sering bergerak dari kolaborasi tak langsung antara warga dan peneliti. Tetapi kolaborasi itu perlu etika: menjaga jarak aman, tidak mengejar satwa, dan tidak mengubah peristiwa alam menjadi tontonan berisiko.

Jika lembaga riset menyebut kejadian ini “sangat langka,” publik sebaiknya membaca kelangkaan itu sebagai peluang belajar, bukan alasan panik. Kelangkaan juga berarti data minim, dan data minim menuntut kehati-hatian dalam menyimpulkan tren kehadiran hiu putih besar di Rhode Island.

Rekaman hiu putih besar di sekitar Block Island menegaskan satu hal: laut menyimpan peristiwa besar yang sering terjadi di luar pandangan manusia. Bangkai paus yang hanyut dapat menjadi panggung singkat, tempat sains, kebetulan, dan perilaku predator bertemu.

Pertanyaannya kini bukan hanya “apakah ini yang pertama,” melainkan “seberapa sering kita benar-benar melihat apa yang terjadi di bawah permukaan.” Jika satu video warga bisa membuka misi riset 50 mil persegi, mungkin yang kita butuhkan adalah lebih banyak pemantauan, lebih banyak literasi, dan lebih sedikit sensasi.

(Orbit dari berbagai sumber, 14 Juli 2026)