Investasi SDM di Era AI: Strategi Maximus Raih Top Workplaces

WTOP News

WTOP News

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Investasi SDM di era AI menjadi kata kunci ketika Maximus kembali masuk daftar Top Workplaces wilayah D.C. Penghargaan ini berbasis survei karyawan Energage, saat banyak perusahaan justru sibuk mengejar otomatisasi.

Gelombang adopsi kecerdasan buatan memaksa organisasi menghitung ulang kebutuhan tenaga kerja. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI dipakai, melainkan siapa yang akan tertinggal ketika proses kerja berubah.

Di kawasan D.C. yang kompetitif, perebutan talenta teknologi berlangsung ketat dan mahal. Dalam konteks itu, klaim “people-first” sering terdengar seperti slogan, bukan strategi.

Maximus, perusahaan layanan pemerintah dan teknologi yang berkantor pusat di McLean, Virginia, memilih menonjolkan investasi pada manusia. Perusahaan ini memiliki lebih dari 41.000 karyawan di seluruh dunia dan mengerjakan program pemerintah dari layanan kesehatan hingga keamanan siber.

Pengakuan Top Workplaces yang diterima Maximus datang dari Energage Workplace Survey yang mengukur rasa dihargai, didukung, dan diberdayakan. Michelle Link, chief human resources officer Maximus, menyebut ini penghargaan ketiga dan “bermakna karena berbasis umpan balik karyawan.”

Di balik label penghargaan, ada mekanisme yang menarik: “listening points” di sepanjang perjalanan karyawan. Link menyebut umpan balik diminta saat onboarding, setelah promosi, dan pada momen penting lain untuk menguji apa yang bekerja dan apa yang gagal.

Pola ini mencerminkan pergeseran HR modern dari evaluasi tahunan ke pemantauan budaya yang lebih sering. Namun risikonya jelas: survei yang terlalu rutin bisa berubah menjadi ritual administratif bila tidak diikuti perubahan nyata.

Maximus mengklaim menggunakan hasil survei untuk menentukan prioritas investasi sumber daya. Jika benar konsisten, ini menjawab keluhan klasik pekerja tentang “didengar, tapi tidak ditindaklanjuti.”

Bagian yang paling relevan dengan era AI adalah strategi upskilling. Link menyatakan Maximus melatih seluruh tenaga kerja, bukan hanya soal alat AI, tetapi juga “keterampilan manusia” yang makin bernilai.

Perusahaan memakai platform Eightfold untuk memetakan keterampilan dan “adjacent skills” agar karyawan melihat jalur karier yang mungkin. Pendekatan ini sejalan dengan tren talent marketplace internal, ketika perusahaan ingin memindahkan orang lintas peran tanpa selalu merekrut dari luar.

Maximus menekankan AI sebagai peluang, bukan ancaman. Link mengatakan ketika AI menjadi arus utama, perusahaan memilih “lean in” dan mendorong orang nyaman menggunakannya.

Yang patut dicatat, Maximus tidak hanya mengajarkan cara memakai satu platform AI tertentu. Fokusnya pada literasi yang lebih tahan lama, seperti mengevaluasi informasi hasil AI dan memahami titik di mana penilaian manusia tetap dominan.

Di banyak organisasi, kegagalan AI sering bukan pada modelnya, melainkan pada kualitas keputusan yang diambil dari output yang tampak meyakinkan. Maka, penekanan pada critical thinking dan problem-solving terdengar lebih realistis ketimbang sekadar pelatihan prompt.

Link juga menyinggung kelangkaan talenta teknis dan menyebut membangun orang yang sudah ada lebih efektif dibanding berebut “talent pool” terbatas. Ini argumen ekonomis yang kuat, karena biaya rekrutmen dan turnover di sektor teknologi biasanya tinggi.

Namun strategi ini menuntut disiplin: pelatihan harus terhubung ke proyek nyata, jalur promosi, dan kompensasi yang adil. Jika tidak, upskilling berubah menjadi beban tambahan yang mendorong karyawan terbaik pergi.

Maximus menambatkan pengembangan SDM pada misi layanan publik. Perusahaan bekerja pada program pemerintah yang berdampak pada jutaan orang, dan Link menilai “mission-driven work” membuat karyawan lebih terikat dan bertahan.

Di tengah euforia AI, banyak perusahaan memuja efisiensi sambil diam-diam memangkas ruang tumbuh manusia. Maximus mencoba membalik narasi: AI dipelajari, tetapi manusia tetap pusat investasi.

Meski begitu, penghargaan Top Workplaces tidak otomatis membuktikan semua masalah selesai. Survei berbasis persepsi bisa memotret suasana, tetapi tidak selalu mengungkap ketimpangan beban kerja, tekanan target, atau disparitas kesempatan antardivisi.

Pertanyaan tajamnya adalah apakah “listening points” benar-benar mengubah keputusan manajerial, atau hanya memperhalus citra employer branding. Ukuran yang lebih keras semestinya ikut dibaca, seperti mobilitas internal, retensi talenta kunci, dan dampak pelatihan pada kinerja proyek.

Penekanan pada “membangun kapabilitas” ketimbang “mengisi posisi” adalah langkah yang tepat, karena pekerjaan memang makin cair. Namun kapabilitas hanya tumbuh bila organisasi berani merombak struktur karier, bukan sekadar menambah modul pelatihan.

Dalam dunia layanan pemerintah, kualitas SDM juga bersinggungan dengan akuntabilitas publik. Ketika AI dipakai untuk membantu layanan sosial atau contact center, literasi etika dan kehati-hatian terhadap bias seharusnya menjadi bagian dari “keterampilan manusia” yang diajarkan.

Investasi SDM di era AI tampak menjadi benang merah strategi Maximus, dari survei budaya kerja hingga upskilling berbasis keterampilan. Penghargaan Top Workplaces memberi sinyal bahwa sebagian karyawan merasakan dampaknya, setidaknya pada level pengalaman kerja.

Namun ujian sesungguhnya ada pada konsistensi: apakah pelatihan menghasilkan mobilitas, apakah AI meningkatkan layanan tanpa menggerus martabat pekerja, dan apakah misi publik benar-benar diterjemahkan ke praktik sehari-hari. Di masa depan, mungkin bukan AI yang menggantikan manusia, melainkan organisasi yang gagal memanusiakan karyawannya yang akan tertinggal.

(Orbit dari berbagai sumber, 16 Oktober 2026)