Kanker Payudara Usia Muda: Gejala Diremehkan, Nyawa Dipertaruhkan

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kanker payudara usia muda kembali menampar asumsi lama, setelah Andrea de Armas didiagnosis ganas di usia 26 tahun. Ia datang dengan benjolan, namun sempat diperlakukan seolah berlebihan, sebelum radiolog justru mendesak biopsi segera.

De Armas masuk ruang USG di antara pasien yang lebih tua, dan ia merasa kehadirannya dipertanyakan. Teknisi memberi kesan “mengapa kamu di sini,” membuatnya merasa diremehkan dan tidak nyaman.

Padahal ia datang dengan keluhan konkret: ada massa di dada atau payudara yang ia rasakan sendiri. Setelah pemindaian, arah cerita berubah tajam ketika radiolog meminta biopsi secepatnya.

Di Baptist Health Herbert Wertheim Cancer Institute, ia menjalani pemindaian ulang dan biopsi. Empat hari kemudian, tepat sehari sebelum sekolah physician assistant dimulai, ia mendengar vonis: benjolan itu ganas.

Reaksi De Armas bukan sekadar panik, melainkan mode bertahan. Ia menggambarkannya sebagai keadaan “pause” lalu tiba-tiba “go mode,” karena esok ia harus memulai pendidikan dan hidupnya tidak bisa berhenti.

Kisah ini menunjukkan masalah yang lebih luas dari sekadar satu pengalaman buruk. Ada jarak antara gejala yang dirasakan pasien muda dan cara sistem kesehatan menilai “risiko” berdasarkan usia.

Data American Cancer Society menyebut sekitar 1 dari 10 diagnosis baru kanker payudara terjadi pada perempuan di bawah 45 tahun. Namun pada usia 20-an, angkanya jauh lebih jarang, sekitar 1 dari 1.344 perempuan.

Kelangkaan ini sering dibaca keliru sebagai “hampir mustahil,” padahal artinya hanya “lebih jarang.” Ketika klinik terlalu mengandalkan statistik, gejala individual bisa terlewat.

ACS juga mencatat insiden kanker payudara meningkat sekitar 1% per tahun. Bahkan disebut ada sedikit lebih banyak kasus baru pada perempuan di bawah 50 dibanding di atas 50.

Dr. Mary Gemignani dari NYU Langone menyatakan perempuan muda cenderung terdiagnosis pada stadium lebih lanjut. Ia juga menekankan tumor pada usia muda lebih sering agresif atau termasuk subtipe yang lebih jarang.

Di titik inilah bias usia bekerja diam-diam. Gemignani mengatakan ia kerap mendengar pasien diberi narasi “terlalu muda untuk kanker payudara,” dan kalimat itu bisa menunda pemeriksaan lanjutan.

Kasus De Armas juga menonjolkan faktor genetik. Pengujian menemukan mutasi genetik yang meningkatkan risiko kanker payudara, dan informasi itu membuatnya merasa lebih “memegang kendali.”

Manfaatnya bukan hanya psikologis, tetapi juga preventif untuk keluarga. Ketika risiko diketahui, keluarga bisa mengejar skrining yang tepat dan lebih dini.

Yang jarang dibahas adalah logistik hidup pasien muda saat terapi. De Armas menjalani kemoterapi pukul 06.50 pagi lalu masuk kelas siang harinya, dan menjadwalkan mastektomi bilateral serta rekonstruksi saat libur musim dingin.

Dokter bedah onkologi Dr. Cristina Lopez-Penalver menyebut jadwal tak lazim itu memungkinkan sekolahnya tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan. Pernyataan ini menegaskan bahwa perawatan kanker tidak selalu soal obat, tetapi juga desain hidup yang realistis.

Gemignani menambahkan pasien muda punya kebutuhan unik karena mereka menyeimbangkan sekolah, kerja, atau keluarga dengan dukungan yang sering lebih terbatas. Kebutuhan ini mencakup kesuburan, karier awal, serta kesehatan mental yang rentan terguncang.

De Armas kini bebas kanker di usia 30, tetapi tetap menjalani terapi hormon. Obat itu memicu menopause sementara, dan ia harus mengambil keputusan terkait fertilitas lebih cepat dari yang ia bayangkan.

Kanker payudara usia muda bukan sekadar anomali medis, melainkan ujian terhadap cara kita mendengar pasien. Ketika “kecil kemungkinan” berubah menjadi “tidak mungkin,” sistem sedang menutup telinga pada sinyal bahaya.

Pengalaman De Armas memperlihatkan bahwa keraguan tenaga kesehatan bisa menjadi hambatan pertama, bahkan sebelum diagnosis. Dalam isu kanker, hambatan pertama sering kali adalah yang paling mematikan karena ia mencuri waktu.

Namun kisah ini juga menolak narasi korban pasif. De Armas bertahan bukan karena ia tidak takut, tetapi karena ia memaksa dirinya tetap bergerak, mencari jawaban, dan menata strategi hidup.

Pelajaran terbesarnya bukan “semua orang muda harus panik,” melainkan “semua keluhan harus diuji.” Benjolan yang dirasakan pasien adalah data klinis, bukan drama.

Di sisi lain, publik juga perlu waspada pada jebakan romantisasi “kuat.” Tidak semua orang punya fleksibilitas jadwal, akses institusi kanker, atau kemampuan mengadvokasi diri seperti De Armas.

Karena itu, tanggung jawab tidak boleh dibebankan pada pasien saja. Sistem perlu protokol triase yang lebih peka gejala, komunikasi yang tidak merendahkan, dan akses skrining berbasis keluhan, bukan hanya usia.

De Armas lulus sebagai physician assistant pada 2025 dan sebulan kemudian langsung bekerja, lalu merayakan satu tahun kariernya pada September. Ia ingin kisahnya mendorong orang lain percaya pada tubuh sendiri dan berani meminta jawaban ketika ada yang terasa salah.

Ia menyebut ketakutan saat pemeriksaan adalah pengalaman yang valid, tetapi tidak boleh membuat seseorang berhenti mencari kepastian. “Knowledge is power” terdengar klise, namun pada kanker payudara usia muda, pengetahuan sering menjadi pembeda antara terlambat dan tertolong.

Pertanyaannya kini, berapa banyak benjolan lain yang masih dianggap “kecemasan” karena usia pasien terlalu muda untuk dicurigai? Jika tubuh memberi sinyal, mungkin yang paling rasional adalah berhenti menebak, lalu mulai memeriksa. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Oktober 2026)