Barry Diller Bidik Akuisisi MGM Resorts Rp18 Miliar Dolar

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Rencana akuisisi MGM Resorts oleh Barry Diller lewat People Inc. mengarah pada valuasi lebih dari 18 miliar dolar AS, dengan tawaran tunai 48,30 dolar per saham untuk porsi yang belum ia miliki. Di saat yang sama, ancaman Iran terhadap kabel data bawah laut di Selat Hormuz dan taruhan A.I. senilai 500 juta dolar oleh Kirkland & Ellis menegaskan satu hal: aset keras, data, dan infrastruktur digital kini menjadi pusat perebutan kekuasaan bisnis global.

Berikut terjemahan inti artikel sumber: People Inc. milik Barry Diller menyiapkan penawaran untuk membeli MGM Resorts dengan valuasi lebih dari 18 miliar dolar AS, meski proposal masih bisa berubah atau batal. People Inc. disebut akan menawar 48,30 dolar per saham secara tunai untuk 73,9% saham MGM yang belum dimiliki, premium sekitar 10,6% dari penutupan Jumat dan 30% di atas rata-rata tertimbang 90 hari.

People Inc. sudah memiliki 26,1% saham MGM dan dua kursi dewan, termasuk satu yang ditempati Diller, sehingga MGM telah menjadi salah satu bisnis utama perusahaan. Diller menyebut MGM sebagai operasi luar biasa dengan resor ikonik, platform digital yang bisa diskalakan, merek premium, ekspansi global, dan kepemimpinan CEO Bill Hornbuckle, serta menekankan bahwa MGM memiliki 40% Las Vegas Strip yang tak tergantikan.

Diller menilai aset fisik MGM sebagai “lindung nilai sempurna” bagi bisnis media digital People Inc. di dunia yang berubah cepat dan tak terduga, sementara saham MGM naik lebih dari 19% sepanjang tahun berjalan karena harapan kebangkitan Las Vegas. Namun MGM menghadapi tantangan di bisnis BetMGM yang bersaing dengan DraftKings dan FanDuel, serta tekanan baru dari situs pasar prediksi seperti Kalshi dan Polymarket.

Artikel juga menyoroti ancaman Iran untuk merusak atau mengambil alih kabel data bawah laut di Selat Hormuz, termasuk wacana meminta biaya lisensi dari Amazon, Google, Microsoft, dan Meta, dengan perkiraan kabel itu membawa transaksi finansial sekitar 10 triliun dolar AS per hari. Di sisi lain, firma hukum Kirkland & Ellis berencana membelanjakan 500 juta dolar AS untuk membangun platform A.I. internal berbasis model yang sudah ada, memanfaatkan data puluhan tahun demi melindungi kekayaan intelektual dan kerahasiaan klien.

Tambahan kabar lain: Nvidia merilis chip RTX Spark untuk A.I. lokal di laptop/desktop, Berkshire Hathaway membeli Taylor Morrison 6,8 miliar dolar AS, SoftBank melampaui Toyota sebagai perusahaan terbesar Jepang dan merencanakan investasi 75 miliar euro untuk fasilitas komputasi A.I. di Prancis. Artikel juga menyebut laporan ProPublica tentang dugaan dorongan bantuan pendanaan pemerintah AS ke perusahaan yang terkait Donald Trump Jr., serta laporan bahwa rilis berkas Jeffrey Epstein mengganggu upaya tim Bill Gates memoles reputasi filantropinya karena terungkapnya hubungan yang lebih dekat dari pengakuan sebelumnya.

Keyword “akuisisi MGM Resorts” kini bukan sekadar gosip Wall Street, melainkan sinyal konsolidasi di industri hiburan-perjudian yang kembali panas setelah fase pemulihan pariwisata. Tawaran 48,30 dolar per saham untuk 73,9% porsi yang belum dimiliki memberi premium nyata, tetapi juga menguji apakah pasar menilai Las Vegas sebagai mesin kas yang stabil atau siklus yang rapuh.

Posisi People Inc. yang sudah memegang 26,1% saham MGM dan dua kursi dewan menciptakan “blocking stake” yang bisa menahan penawar lain, sekaligus memudahkan negosiasi internal. Dalam praktik M&A, kepemilikan awal seperti ini sering mengubah permainan: bukan hanya soal harga, tetapi soal kontrol dan kecepatan eksekusi.

Alasan Diller menekankan “hard assets” relevan di era ketika bisnis media digital mudah terguncang oleh perubahan algoritma, iklan, dan preferensi publik. Resor, lahan, dan dominasi MGM atas sekitar 40% Las Vegas Strip adalah aset yang tidak bisa ditiru cepat, sehingga berfungsi sebagai penyeimbang volatilitas bisnis digital.

Namun, sisi digital MGM justru berada di medan perang yang semakin padat. BetMGM memang tumbuh, tetapi tekanan datang dari DraftKings dan FanDuel, lalu muncul kompetitor non-tradisional seperti Kalshi dan Polymarket yang mengalihkan perhatian penjudi ke “pasar prediksi” yang terasa lebih seperti trading daripada betting.

Di luar MGM, ancaman Iran pada kabel data bawah laut menunjukkan bahwa ekonomi digital punya titik lemah yang sangat fisik. Jika benar kabel di Selat Hormuz membawa sekitar 10 triliun dolar AS transaksi per hari, maka gangguan kecil saja bisa menjadi guncangan sistemik yang merambat ke bank, bursa, logistik, dan layanan cloud.

Data dari International Telecommunication Union menyebut sekitar 99% trafik internet global melintas lewat kabel bawah laut, dengan kira-kira 200 insiden putus kabel per tahun yang umumnya karena gempa laut atau jangkar. Artinya, risiko “kecelakaan” sudah tinggi, dan risiko “sengaja” akan memperbesar biaya asuransi, keamanan, serta urgensi rute redundan.

Kasus putus kabel 2024 di Laut Merah yang disebut menutup sekitar 25% trafik internet regional dan butuh berminggu-minggu untuk pulih memperlihatkan kenyataan pahit: merusak lebih mudah daripada memperbaiki. Dengan hanya empat perusahaan spesialis pemasangan kabel dan sekitar 20 kapal perbaikan, pemulihan di Timur Tengah bisa tertahan oleh jarak dan situasi keamanan.

Sementara itu, taruhan A.I. Kirkland & Ellis senilai 500 juta dolar AS memperlihatkan tren “build, not buy” yang menguat di sektor berisiko tinggi terhadap kebocoran data. Dengan sekitar 180 pengembang internal dan rencana menjadikan platform A.I. sebagai tempat kerja utama, Kirkland menempatkan A.I. sebagai infrastruktur, bukan sekadar fitur.

Motifnya masuk akal: data internal firma hukum adalah tambang emas, mulai dari M&A, transaksi pasar modal, hingga kontrak kompleks, yang dapat di-fine-tune menjadi keunggulan kompetitif. Tetapi biaya besar ini juga menciptakan jurang baru, karena hanya sedikit firma dengan pendapatan seperti Kirkland yang dapat membangun dan mengoperasikan sistem semahal itu.

Rencana akuisisi MGM Resorts oleh Diller memperlihatkan pergeseran strategi: dari pertumbuhan digital yang rapuh menuju kepemilikan aset nyata yang “tidak bisa dihapus” oleh perubahan teknologi. Dalam bahasa sederhana, Diller seperti membeli kepastian fisik untuk menutup ketidakpastian internet.

Namun, kepastian itu tidak absolut karena industri kasino kini bergantung pada dua hal yang sulit dikendalikan: regulasi dan arus perhatian publik. Jika pasar prediksi makin populer dan regulasinya menguntungkan, sebagian uang taruhan bisa berpindah kanal, dan valuasi “hiburan” bisa tertekan.

Ancaman Iran terhadap kabel data memperjelas bahwa geopolitik dan ekonomi platform adalah satu paket. Ketika sebuah negara mengisyaratkan “biaya lisensi” bagi Amazon, Google, Microsoft, dan Meta, itu bukan semata pungutan, melainkan upaya mengubah kabel menjadi alat tawar strategis.

Di titik ini, perusahaan global menghadapi dilema: memperkuat infrastruktur sendiri atau bergantung pada jaringan publik yang rentan. Langkah Kirkland membangun A.I. internal adalah versi korporat dari logika yang sama, yakni memindahkan kendali dari pihak ketiga ke tangan sendiri.

Bahkan kabar sampingan seperti “SaaSpocalypse” dan chip A.I. lokal Nvidia mengarah pada pola besar: komputasi dan data bergerak semakin dekat ke pemiliknya. Jika A.I. bisa berjalan di perangkat lokal dan sistem internal, perusahaan akan mengurangi ketergantungan cloud, sekaligus mengurangi permukaan serangan.

Skandal Epstein yang mengguncang jejaring elite juga memberi pelajaran reputasi: kekuasaan tidak hanya dibangun oleh uang dan teknologi, tetapi juga oleh kepercayaan. Sekali dokumen dan data terbuka, narasi yang selama ini dipoles dapat runtuh dalam hitungan hari.

Dalam satu rangkaian berita, dunia bisnis seperti memperlihatkan peta baru: aset kasino yang nyata, kabel data yang tersembunyi di dasar laut, dan A.I. yang ditanam di dalam organisasi menjadi pusat perebutan nilai. Akuisisi MGM Resorts oleh Barry Diller, jika terjadi, akan menjadi contoh bagaimana modal besar mencari perlindungan di “batu dan beton” sambil tetap mengejar pertumbuhan digital.

Di saat yang sama, ancaman Selat Hormuz mengingatkan bahwa internet bukan awan, melainkan kabel yang bisa dipotong, dinegosiasikan, atau dijadikan sandera. Pertanyaannya kini bukan apakah perusahaan harus berinvestasi pada ketahanan, melainkan seberapa mahal harga yang bersedia mereka bayar sebelum krisis benar-benar terjadi. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)