Andrew Garfield dan Spiritualitas: Film The Uprising Menggugat Iman

ncronline.org

ncronline.org

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Andrew Garfield kembali mengaitkan akting dengan spiritualitas, kali ini lewat film The Uprising yang menyorot iman, trauma, dan pemberontakan. Ia menyebut ada “urgensi spiritual” saat memilih proyek, seolah setiap peran harus menjawab pertanyaan batin yang nyata.

Andrew Garfield mungkin bukan misionaris Yesuit seperti dalam film Silence (2016) garapan Martin Scorsese, tetapi ia sama terampilnya menemukan Tuhan dalam segala hal, termasuk dalam peran akting. Pada usia 43 tahun, ia mengaku sering merasakan “urgensi spiritual” saat menentukan proyek yang akan ia ambil.

Hasil terbaru dorongan itu adalah perannya sebagai Ploughman, seorang rakyat jelata tanpa nama yang menjadi pemimpin tak terduga dalam Pemberontakan Petani 1381, dalam film baru sutradara Paul Greengrass berjudul The Uprising. Latar film ditempatkan pada perayaan Corpus Christi di Inggris abad ke-14.

Film ini menampilkan dua wajah Katolik yang berhadap-hadapan: para uskup korup yang memegang jabatan politik, dan para petani tertindas yang bertahan hidup dengan doa. Ada imam dan frater yang tulus dan berpihak pada rakyat, tetapi pasca Wabah Hitam dan beban kerja paksa feodalisme, banyak orang terlalu trauma untuk percaya.

Dalam kondisi itulah penonton bertemu Ploughman versi Garfield. Ia digambarkan nyaris putus asa, tetapi masih berusaha menggenggam gagasan tentang Tuhan Kristen yang mengasihi dan memihaknya.

Garfield mengatakan Ploughman “bertahan dengan seutas benang” pada keyakinan bahwa Tuhan mencintainya dan menginginkan yang terbaik baginya. Ia juga mencoba percaya pada sistem yang sekarat dan pada raja yang dianggap “mulut Tuhan” di bumi, lalu bertanya apa yang terjadi ketika yang datang justru pengkhianatan dan tipu daya.

Empati Garfield terasa ketika ia menyebut Ploughman sebagai “seorang pria yang terkikis hingga kerak terakhir dari dirinya yang lama.” Dari titik terendah itu, dengan wajah benar-benar di lumpur, muncul sesuatu yang baru dan kontemplatif.

Garfield membaca kebangkitan batin itu sebagai gabungan “spiritualitas yang merasa memiliki bumi” dan ingatan akan keterhubungan dengan segala sesuatu. Tafsir ini sejalan dengan identitas Garfield yang menyebut dirinya panteis.

Ia pernah mendedikasikan satu tahun mempraktikkan spiritualitas Ignatian untuk mempersiapkan peran Yesuit Pastor Sebastião Rodrigues dalam Silence. Dalam wawancara yang ramai dibagikan di The Late Show with Stephen Colbert, ia mengutip penekanan Serikat Yesus tentang “menemukan Tuhan dalam segala hal,” termasuk dalam manusia dan bahkan pada pohon yang ditebang untuk membuat meja.

Pastor Yesuit James Martin, yang membimbing Garfield menjalani Latihan Rohani, menyebutnya ingin tahu, berbelas kasih, dan pekerja keras. Martin mengatakan Garfield “memberikan dirinya sepenuhnya” pada Latihan Rohani, dan ia terkejut karena seseorang dengan pelatihan Ignatian yang minim bisa masuk sedalam itu.

Jejak filmografi Garfield memperkuat pola itu, karena ia berkali-kali memilih karakter yang bergulat dengan iman dan institusi agama. Ia memerankan Desmond Doss, seorang Advent Hari Ketujuh dan penolak kekerasan dalam Hacksaw Ridge yang memberinya nominasi Oscar, lalu detektif Mormon yang taat Jeb Pyre dalam Under the Banner of Heaven, dan penginjil televisi Jim Bakker dalam The Eyes of Tammy Faye.

Dalam Actors on Actors bersama Ryan Reynolds untuk Variety pada 2024, Garfield berkata ia hanya ingin melakukan hal-hal yang “berbicara pada jiwanya,” dan ia merasa menjadi “wadah” untuk menghadirkannya ke dunia. Karena itu, agama dalam terang dan gelapnya tampak seperti tema yang terus memanggilnya.

Yang menarik, Garfield justru curiga pada pola populer “hero’s journey” yang sering jadi mesin narasi film epik. Ia menyebut monomitos kepahlawanan bisa menyesatkan dan bahkan berbahaya karena lebih egoik dan penuh identitas.

The Uprising memang punya kemiripan dengan Braveheart atau Gladiator, tetapi film ini sengaja membengkokkan genre epik sejarah. Penonton nyaris tidak diberi latar masa lalu Ploughman, selain rujukan samar tentang istri dan anak yang hilang akibat Wabah Hitam.

Tidak ada kilas balik yang memudahkan simpati, tidak ada prolog yang memoles nostalgia, dan tidak ada monolog heroik untuk menjual karisma. Ploughman dibuat seperti bejana kosong yang bisa diisi penonton dengan diri mereka sendiri.

Di tangan aktor yang kurang matang, pilihan ini bisa merusak peran utama karena terasa datar. Namun Garfield justru hidup dalam pengekangan, memberi ruang pada batin tokoh tanpa perlu menjelaskan atau meminta maaf.

Risiko satu dimensi yang ia ambil terbayar, karena penonton merasakan Ploughman utuh tetapi juga “terkorek habis” secara tepat. Pada akhir film, Ploughman bukan pahlawan tak tersentuh yang pulang membawa kemenangan, melainkan siapa saja yang sudah mencapai batas daya tahan.

Di titik ini, The Uprising tampak seperti kritik ganda terhadap institusi dan mitologi, bukan sekadar kisah pemberontakan. Film ini menguji gagasan bahwa iman selalu memberi kepastian, dan bahwa sejarah selalu bergerak karena satu tokoh besar.

Garfield menegaskan kehampaan Ploughman adalah satu-satunya jalan menuju kebangkitan spiritual yang ia butuhkan. Dalam adegan final terbaiknya, ia berkata Ploughman “ditopang oleh warisan sejatinya,” yaitu bumi, diri terdalam, dan keterhubungan dengan seluruh alam.

Jika tafsir itu terdengar seperti proyeksi teologi pribadi, ada koherensi yang mengejutkan dengan tradisi mistik Katolik. Nama-nama seperti Ignatius Loyola, Fransiskus dan Klara dari Assisi, Teresa dari Avila, Yohanes dari Salib, hingga Julian dari Norwich, berkali-kali menekankan bahwa inti spiritualitas bukan kepastian, melainkan misteri.

Di sinilah film ini terasa relevan bagi publik modern yang jenuh pada kepahlawanan instan dan agama yang dipakai sebagai alat kuasa. Ploughman menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari kemenangan, tetapi dari kekalahan yang memaksa seseorang melihat ulang siapa dirinya dan siapa “Tuhan” yang ia bayangkan.

The Uprising menempatkan Andrew Garfield pada jalur yang konsisten: peran-peran yang menguliti iman, bukan merayakannya secara dangkal. Ia menutupnya dengan kalimat yang menggema seperti epilog bagi semua pencari makna: “Hidup beriman bukan hidup dengan kepastian, melainkan hidup dengan keraguan.”

Pertanyaannya kemudian sederhana tetapi tajam, dan mungkin juga menyakitkan: ketika sistem, pemimpin, dan simbol suci mengecewakan, apa yang masih bisa kita sebut sebagai iman. Barangkali jawabannya bukan pada pahlawan, melainkan pada keberanian untuk tetap tinggal di dalam misteri itu sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 12 September 2026)