Toxic Workplace Victim Support: Staf Tuding Bullying, CEO Membantah

ORBITINDONESIA.COM – Isu toxic workplace di Victim Support kembali mengemuka setelah sejumlah staf menyebut budaya kerja “bullying” dan “tidak aman”. Pernyataan CEO James McCulloch yang menolak klaim itu justru membuat sebagian pekerja mengaku “horrified” dan “bewildered”.

Kata kunci publik kini mengarah pada dua hal: Victim Support dan “bullying di tempat kerja”. Di lembaga yang seharusnya merawat korban trauma, tudingan tentang trauma internal terasa seperti ironi yang menyakitkan.

RNZ melaporkan telah berbicara dengan beberapa pekerja saat ini dan mantan pekerja yang mengkhawatirkan kultur kerja di Victim Support. Salah satu narasumber menggambarkannya sebagai “very unsafe environment”.

Di tengah tuduhan itu, CEO James McCulloch menyatakan lembaga “does not accept that these claims reflect Victim Support today”. Kalimat ini terdengar seperti penegasan institusional, namun bagi staf yang mengadu, ia terasa seperti pintu yang ditutup.

Seorang staf yang telah bekerja beberapa tahun mengaku pernah melaporkan bahwa ia “bullied and picked on” oleh atasan langsung dan manajer distrik. Ia menyebut sudah menempuh jalur internal yang direkomendasikan, tetapi “tidak membantu”.

Masalah inti bukan sekadar ada atau tidaknya perundungan, melainkan bagaimana organisasi merespons ketika keluhan muncul. Ketika saluran internal dianggap tidak efektif, risiko terbesar adalah normalisasi ketidakadilan dan pembungkaman.

Secara manajerial, bantahan CEO tanpa pengakuan atas kemungkinan kegagalan sistem pelaporan memunculkan pertanyaan tentang akuntabilitas. Publik biasanya tidak menuntut organisasi sempurna, tetapi menuntut mekanisme koreksi yang bisa dipercaya.

Dalam banyak kasus kultur “toxic”, pola yang berulang adalah ketimpangan kuasa antara staf lapangan dan pimpinan menengah. Tuduhan bahwa pelaku adalah “direct line manager” dan “district manager” memperkuat indikasi bahwa masalah bisa bersifat struktural, bukan insiden tunggal.

Jika lembaga pendamping korban tidak memiliki rasa aman internal, kualitas layanan berpotensi ikut tergerus. Staf yang bekerja dalam ketakutan cenderung mengalami kelelahan, menahan informasi, dan kehilangan keberanian mengambil keputusan berbasis empati.

RNZ mencatat reaksi emosional staf terhadap bantahan CEO, yakni “horrified” dan “bewildered”. Reaksi ini penting karena menunjukkan jarak persepsi antara pimpinan dan pekerja yang mengalami realitas sehari-hari.

Di titik ini, ukuran keberhasilan bukan lagi sekadar pernyataan publik, melainkan transparansi proses. Audit independen, perlindungan pelapor, dan indikator tindak lanjut yang terukur sering menjadi pembeda antara perbaikan nyata dan sekadar manajemen reputasi.

Victim Support berada dalam posisi moral yang unik karena misinya adalah merawat orang yang terluka. Ketika organisasi seperti ini dituduh menciptakan luka baru bagi stafnya, publik wajar menuntut standar etika yang lebih tinggi.

Pernyataan “kami tidak menerima klaim itu” mungkin dimaksudkan untuk menjaga kepercayaan, tetapi dapat terbaca sebagai penyangkalan pengalaman hidup pekerja. Dalam isu perundungan, validasi awal sering menjadi langkah pertama menuju pemulihan, bahkan sebelum pembuktian formal selesai.

Yang paling mengkhawatirkan adalah kalimat “sudah lewat jalur internal, tetapi tidak membantu”. Jika benar, maka problemnya bukan hanya individu yang kasar, melainkan sistem yang tidak memberi jalan keluar bagi korban di dalam organisasi.

Di era ketika istilah toxic workplace menjadi perhatian global, respons defensif sering berujung pada krisis yang lebih besar. Respons yang dewasa justru dimulai dari kerendahan hati: mengakui kemungkinan cacat prosedur dan membuka ruang pemeriksaan yang adil.

Kasus dugaan bullying di Victim Support mengingatkan bahwa lembaga yang melayani korban pun bisa gagal melindungi orang-orang di dalamnya. Ketika staf menyebut tempat kerja “tidak aman” dan pimpinan menyangkal, yang dipertaruhkan adalah kepercayaan.

Pertanyaan akhirnya sederhana namun tajam: bagaimana sebuah organisasi bisa memulihkan trauma orang lain jika ia belum berani menatap luka di rumahnya sendiri. Transparansi, perlindungan pelapor, dan evaluasi independen bukan ancaman, melainkan kesempatan untuk kembali layak dipercaya.

(Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)